Quo Vadis - Dollar Cost Averaging

Passion4U's picture

Ada banyak metode entry dalam berinvestasi, namun metode yang paling ngetop saat ini adalah Lump sum, Momentum, Random dan Dollar Cost Averaging (DCA). Bagi kebanyakan investor, metode DCA merupakan pilihan yang paling menarik. Metode DCA menawarkan kemudahan dengan cara menginvestasikan sejumlah dana dengan jumlah yang tetap secara periodik (bisa 1 bulan sekali, 3 bulan sekali, dsb) untuk membeli produk investasi.

Magnet terbesar dari penggunaan metode DCA ini adalah kita dapat berinvestasi dengan nominal relatif kecil dan katanya dapat mengurangi resiko kerugian akibat volatilitas di market. Contoh penerapan DCA ini sudah begitu meluas dalam kehidupan kita, jika anda mempunyai asuransi pendidikan unit linked dengan sejumlah cicilan per tahun, sebenarnya anda tanpa sadar telah menggunakan metode DCA. Banyak contoh lain yang ada di sekitar kita.

Saya sendiri pada awalnya termasuk salah seorang yang kesengem dengan metode ini. Saya banyak melakukan simulasi DCA ini untuk mencapai goal hidup saya di masa yang akan datang (pensiun, pendidikan anak, dsb). Dengan menghitung Present Value dari kebutuhan saya di masa mendatang, inflasi, penghasilan saya saat ini dan ekspektasi tingkat return dari portfolio yang saya ambil (katakanlah reksadana saham), saya dapat melakukan perencanaan keuangan sederhana untuk kepentingan masa depan (bikin planning sendiri, abis waktu itu belon kenal bro eko sich ... hehehe), dengan output berapa jumlah dana yang saya harus sisihkan sebulan untuk diinvestasikan dalam asset produktif dan berapa tingkat return yang harus dipenuhi per tahunnya.

Saya berfikir bahwa saya telah mensecure masa depan saya, so saya nggak pernah lagi melihat hasil investasi saya. I just invest and let it grow. Semua berjalan lancar, sampai suatu saat saya membaca artikel dari para ahli (para ahli lho ... bukan ane) tentang metode DCA. Menurut pendapat mereka metode DCA ini bukanlah metode yang disarankan untuk mencapai hasil yang optimal. Berbagai ilustrasi tentang kelemahan metode DCA ini banyak berseliweran di internet, namun ada 2 artikel yang sangat mempengaruhi pandangan saya tentang DCA yaitu :

  • Artikel dari MoneyChimp : "Does Dollar Cost Averaging Work ?". Artikel ini merupakan bukti kelemahan metode DCA dengan menggunakan data real. Kita bisa mengilustrasikan kapan kita mulai berinvestasi, suku bunga bank, dan performance DCA vs Lump Sum dari tahun ke tahun sejak tahun 1950 s/d sekarang

http://www.moneychimp.com/features/dollar_cost.htm

  • Artikel dari Money Central : "The costly myth of dollar cost averaging"

http://moneycentral.msn.com/content/P104966.asp

Dua artikel diatas sangat mempengaruhi point of view saya dalam berinvestasi. Walaupun demikian sampai saat ini, saya masih menggunakan metode DCA tapi bukan DCA murni tapi dengan memasukkan unsur market timing (momentum) dalam pengelolaan hasil investasi DCA. Hal ini dilandaskan pada kenyataan bahwa sebagai seorang kuli kantor, saya memang tidak punya banyak keleluasaan dalam berinvestasi (baca : nggak punya banyak duit ... hehehe), sehingga mau tidak mau saya harus memakai model DCA. Namun karena saya sadar metode DCA tidak akan menghasilkan hasil yang optimal, saya tetap berperan secara aktif dalam mengontrol portfolio saya. Saat bursa sedang jatuh saya akan melakukan switch pada portfolio saya, saat bursa sedang naik saya akan masuk untuk menikmati euforia bursa.

Sampai saat ini saya masih comfort menggunakan metode ini, di satu sisi DCA membantu saya disiplin dalam berinvestasi di sisi lain tools momentum (swing trading) membantu saya dalam mengoptimalkan return yang saya dapatkan. Tentu saja metode ini pasti jauh dari sempurna, saya berharap saya masih akan menemukan metode lain dalam proses pembelajaran saya di kemudian hari.

Ada pendapat dan strategy rekan-rekan lain yang bisa disharing bersama saya ? saya sangat nantikan komentarnya ...

khusus buat bro "proffesional financial planner" eko & bro "master investing" 4m4r4 bagi strateginya dong ....

 

Comments

DCA itu tujuannya bukan

priyadi's picture

DCA itu tujuannya bukan untuk mendapat return yang lebih besar. tapi untuk memperkecil resiko tanpa harus terlibat analisis pasar terlalu dalam, cocok untuk orang2 yang: 1. modalnya sedikit sehingga perbedaan harga tidak berpengaruh terlalu signifikan, 2. punya kerjaan tetap selain ngurusin investasinya.

untuk kondisi sekarang DCA dengan jarak waktu 1-3 bulan jelas gak efektif karena untuk rentang waktu 1 bulan, harga di t+1 hampir pasti lebih besar daripada t. kalau ada duitnya, lebih baik disetorkan langsung semuanya daripada dispread dalam jarak 1 bulan. DCA cuma masuk akal dilakukan jika hasil di t+1 sulit dipastikan lebih besar daripada t, misalnya dalam jarak waktu 1-2 hari.

kalau saya lebih suka kalau misalnya saya punya duit 4 juta untuk diinvest, saya setor dalam satuan 1 juta dalam 4 hari, jangan tunggu sebulan untuk melakukan setoran kedua. langsung setor saja besoknya. dengan begini, resiko membeli terlalu tinggi karena fluktuasi harian akan dieliminasi.

MI

Xeal's picture

To all temans,

Saya lagi tertarik ma RDS neh...ada yg tau MI untuk Mega Dana Saham ?

Trus, apa saat ini saat yg tepat untuk nambah dana ?? :)

GBU Always

Mega Capital Indonesia

autogebet's picture

MI nya adalah Mega Capital Indonesia, website di http://www.megaci.com

Interesting Article

4m4r4's picture

Sekedar sharing, dpt link ini dari bro id-tox di forbis Kaskus: http://money.cnn.com/2003/02/18/pf/expert/ask_expert/

Inti yang gw dpt:

  • Ada perbedaan antara cost averaging "yang kita kenal selama ini" (= systematic investing) dengan cost averaging "yang sesungguhnya". Systematic investing berarti menyisihkan sebagian penghasilan secara reguler untuk diinvestasikan, sementara cost averaging berarti bahwa kita memiliki sejumlah besar uang yang kita investasikan secara bertahap. Misalnya, kita SUDAH memiliki Rp10 juta di tangan dan ingin kita investasikan ke dalam reksadana (RD) saham. Namun, kita tidak langsung menggunakan uang Rp10 juta itu sekaligus, melainkan Rp1 juta kita belikan RD saham setiap bulannya selama 10 bulan ke depan (sampai Rp10 juta itu terpakai seluruhnya). Itulah cost averaging "yang sesungguhnya".
  • Systematic investing biasanya dilakukan karena itulah yang bisa dilakukan oleh "orang gajian" :) sementara cost averaging biasanya dilakukan karena investor takut menginvestasikan seluruh modalnya sekaligus di saat yang salah (di mana beberapa saat kemudian harga turun) dan dengan cost averaging, investor berharap mendapatkan harga rata-rata pasar.
  • Systematic investing adalah cara investasi yang baik karena menghilangkan faktor emosi dalam berinvestasi di mana seringkali emosi/intuisi kita salah dalam menyikapi keadaan pasar, sementara cost averaging adalah cara yang kurang efisien untuk mengurangi resiko karena uang tunai yang kita pegang selama blm diinvestasikan itu menjadikan portfolio kita lebih konservatif dari yang seharusnya. Tentunya ini adalah dengan asumsi bahwa kita sudah mengetahui komposisi portfolio yang memiliki keseimbangan potensi return dan resiko yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi kita sendiri.
  • Dibandingkan dengan melakukan cost averaging, lebih baik kita menjaga komposisi portfolio kita dengan systematic investing secara disiplin.

Bagaimana tanggapan rekan-rekan sekalian?

Just Another Point of View

4m4r4's picture

Wah, emang bnr kata bro autogebet.. Bro Passion4U ini memang sangat rendah hati, padahal ngeri Men TA-nya! :D

Gw pribadi juga sampe sekarang sih cost averaging, tapi sebnrnya sangat tertarik juga sama analisis teknikal kyk Bro Passion4U ini. Kendalanya adalah seperti yang pernah kita diskusikan beberapa waktu lalu, fee yang >0% sangat membatasi keleluasaan untuk swing trade. :) Jadi sekarang sih mungkin bisa dibilang cost averaging aja, tapi kalo ada indikasi market crash gw redeem semua ato sebagian, nanti masuk lagi begitu market udah baikan. Tentunya ini juga sambil nyari2 strategi yang lebih oke. Gimana menurut rekan2 sekalian? (Lho, malah nanya balik.. *hehehe)

Mengenai metode DCA (atau RCA = Rupiah Cost Averaging) :) sendiri, setelah masuk ke dalam dunia investasi (*ceile.. hehehe..), baca2, nyari2 metode yang oke, gw pikir sih emang ada +/-nya, tapi begitu juga metode2 yang lain. Istilahnya bro eko035, bukan untung/rugi tapi +/-. :D Dan pemilihan suatu metode mungkin bisa didasarkan bukan hanya pada kelebihannya secara matematis, blm lagi kalau memasukkan pemosisian diri sebagai investor atau trader. :) Misalnya: seorang investor mungkin memiliki target tertentu, sehingga selama target itu bisa dicapai dalam jangka waktu tertentu, walaupun sebenarnya return bisa lebih tinggi dari itu, tidak ada masalah bagi dia.

Kelebihan DCA dari sisi non-matematis (pengelolaan keuangan?) contohnya adalah melatih kedisiplinan. Terutama buat investor pemula kyk gw, kalo uang disimpen di rekening tabungan (selama menunggu waktu yang tepat untuk dimasukkan ke RD) ga akan bertahan lama. Pasti terpakai untuk apa, lah.. Tidak disiplin! :D Dengan DCA/RCA, kita bisa tetapkan begitu menerima gaji, sekian persen harus langsung disisihkan untuk investasi di RD. Ini tentunya masih lebih baik dibandingkan tidak berinvestasi sama sekali. :) Anggap saja return lebih kecil yang kita dapatkan adalah biaya yang kita keluarkan untuk membayar "pengawas kedisiplinan" kita. :p Asal jangan lupa, investasinya terus dipantau, dievaluasi, dan direvisi jika diperlukan. Tambahannya mungkin adalah menurut gw, masalahnya bukan selalu metode mana yang terbaik, tapi juga mana yang paling cocok buat kita. Buat Bro Passion4U yang semua fee-nya = 0, bisa swing trade :D buat sebagian orang lain, DCA aja; buat yang lain lagi, ya pake metode lain juga, dst. Yang penting terus belajar! :)

Happy investing! (*pinjem tagline-nya ya, Bro..) :D Senang bisa belajar dari suhu2 di sini. :)

Benar tapi kurang tepat

eko035's picture

Bro passion,

wah kalau udah bicarain metode gini, kayanya udah
berat nih urusannya he he. Apalagi kalau udah bicara perhitungan, makin
mumet kayanya.

artikel yang dibuat cukup menarik, dan saya bisa lihat dan tentu saja yakini argumen itu benar(maklum dari profesor he he).

Tapi
ada sedikit hal penting yang kayanya tidak didefinisikan dengan jelas
dan transparan. padahal itu yang terpenting dari suatu investasi yaitu
tujuan. Kalau kita memiliki tujuan, maka kita tidak akan memperdulikan
berapa harga atau nab reksadana kita, tapi lebih kepada berapa besar
asumsi tingkat hasil yang diharapkan dari investasi itu. Sebagai
konsultan, saya masih yakin tuh bahwa DCA bisa dan sangat bisa
digunakan sebagai sarana investasi, bukan dagang lho he he.Jadi saran
saya, untuk sementara jangan lepasin system DCA-nya deh. Cuma mungkin
ada beberapa hal yang harus diperbaiki dalam membuat perencanaan
keuangan Anda supaya jadi lebih yakin.

semoga cukup bisa dimengerti ya mas tulisan saya.kalau nda ngerti berarti kita harus kopi darat tuh mas passion

Bro eko, mohon pencerahannya

Passion4U's picture

Hehehe ...
ane nulis memang untuk membuat bro eko & bro 4m4r4 kasi comment, membagi ilmu dan mengajak kopi darat. Kapan lagi bisa ketemu dengan financial planner ngetop ... gratis lagi ... hahaha ... asyik, asyik, asyik ...
Bro eko, tulisan ane itu mewakili kegalauan hati ane tentang metode DCA. Makanya judulnya Quo Vadis - DCA, artinya apakah ada yang bisa kita lakukan dengan DCA, ataukah metode DCA itu memang yang paling optimal. Seperti yang ane tulis, sampe sekarang ane masih tetap pake DCA,
artinya ane masih tetap nabung untuk investasi tiap bulan. Itu masuknya tidak
peduli pada market karena entrynya kecil, tapi hasil nabung pake model
DCA itu khan terus berkembang semakin besar (setidaknya cukup besar
menurut ukuran ane), nach hasil inilah yang model reinvestmentnya tidak
pake DCA (yang nggak peduli masalah timing, pokoknya tiap terima gaji potong buat invest) tapi model
reinvestmentnya dengan metode momentum (menentukan entry point dan exit point yang paling optimal). Makanya ane bilang ane sekarang
nggak pake DCA murni tapi DCA plus momentum.
Tujuan ane untuk investasi sebagian besar untuk pensiun dan pendidikan
anak. Besar target yang harus diperoleh nanti saat pensiun dan saat
anak ane butuh sekolah juga sudah ditetapkan bro ... (pastinya tidak
sekomprehensif kalo bro yang bikin ... apa bro mau ngajarin ane biar
ane nggak tersesat... hehehe). Untuk memperoleh target itu ane sudah
menetapkan besarnya cicilan per bulan dan butuh return yang sudah
ditetapkan per tahunnya sebesar x %. Return inilah yang selalu ane
jaga, agar tidak meleset dari target. Caranya adalah dengan tidak
pasrah, tapi memonitor dan berperan secara aktif menentukan market
timing untuk masuk reksadana (pilihan ane reksadana saham karena punya
potensi return yang besar). Karena ane sangat mengerti karakteristik
reksadana saham, makanya ane nggak mau pasrah dan memilih berperan
aktif untuk menentukan performancenya (ane nggak mau ilustrasi ane ttg investasi 7 tahun tapi nggak dapet hasil yang memadai terjadi pada diri ane). Tiap akhir tahun ane membuat review apakah metode momentum yang ane terapkan sudah memenuhi target hasil investasi tahun itu.
begitu bro ...
kalo ane ada salah pandangan ... tolong diluruskan bro, anyway ini
diskusi yang sehat yang selalu ane dambakan untuk lebih memantapkan
strategy investasi ane. Hal yang mungkin bisa juga berguna buat
temen-temen lain yang ada di sini, yang mungkin punya problem yang sama
kayak ane.
gimana kalo bro bikin tulisan "Merencanakan masa depan (pensiun,
pendidikan anak, dll) dengan menggunakan reksadana" kayaknya bakal
banyak yang minat tuch bro. minimal ane hehehe ... kalo perlu
perhitungan excelnya dishare ... hehehe
sharing pengalaman & ilmunya ditunggu bro ...

Wah jadi salah pengertian ya ?

Anonymous's picture

Bro Passion,
sebelumnya saya minta maaf, mungkin Anda salah sangka. Judul yang saya buat bukan untuk menyalahkan Anda lo :).
Maksud saya dengan judul saya adalah bahwa DCA bila dilakukan dengan benar dan disiplin masih bisa kok digunakan sebagai sarana untuk merencanakan keuangan. Tapi ya itu tadi kita harus memiliki tujuan yang ingin dicapai dan target pencapaiannya.
Kalau sekedar melihat keuntungan dan kerugian, memang hal itu mungkin terjadi. Dan di ilustrasi yang Anda beri terlihat kalau investornya pasrah dan tidak memiliki target pencapaian sama sekali. Investor sekedar memasukkan dana, tidak memiliki tujuan mau seberapa besar pencapaian dan berapa target yang ditetapkan.
Nah kalau kita bisa menentukan hal ini dengan pasti yaitu target dan tujuannya dengan benar, maka kita tidak akan pernah terpengaruh dengan Nab-produk tersebut, tapi lebih ke kinerjanya yang tergambar pada persentase kenaikan nab-nya.
Mengenai strategi yang Anda lakukan, sangat bagus Bro Passion, karena Anda emang investor yang sudah terlatih, momentum menjadi cara sebagai percepatan pencapaian target bener ngga?
Nah itulah hebatnya Anda, selain sebagai investor, Anda juga sebagai trader :)

Tetep jalankan ya Bro, sejak sekarang aja saya udah bisa pastikan kalau target yang ingin dicapai PASTI lebih cepat tercapai ya ngga ? He he

salam

Terima kasih bro ...

Passion4U's picture

Bro eko ... terima kasih banyak untuk inputnya, Maksud ane nulis panjang lebar itu beneran pengen konsultasi lho, ane
berharap dengan menulis panjang lebar bro eko punya gambaran menyeluruh tentang langkah
investasi ane dan memberikan masukan bagian mana lagi yang bisa
disempurnakan, soalnya ane merasa kadang-kadang memang nggak fokus,
suka terbang sana sini investasinya, kadang masuk reksadana, kadang
masuk saham, kadang masuk IPO, pokoke memanfaatkan setiap momen hehehe
... Justru itu menjadi pertanyaan besar ane ... bener nich gini
seharusnya ane berinvest ?

Tapi mungkin bahasa ane yang kurang pas sehingga bro merasa ane salah paham (padahal ane beneran murni pengen konsultasi). Tapi ane maklum mungkin memang bahasa ane agak straight to the point ... belepotan kesana kemari, maklum masih muda (ngakunya nich masih muda ... hehehe). Ane menganggap portal reksadana ini sebagai tempat membagi view dan mengharapkan diskusi & challenge lebih lanjut untuk memantapkan langkah ane. Ane selalu menganggap bro Eko dan bro 4m4r4 adalah suhu ane, maklum ane masih newbie masih perlu banyak belajar pada para pendekar seperti bro eko.

Mengenai kopi darat, kayaknya memang asyik kopi darat sama bro eko & bro 4m4r4 ... pengen kenalan lebih jauh, siapa tahu bisa konsultasi dikit-dikit secara gratis huahahahahaha ... apa boleh ane minta email bro eko lewat bro autogebet yee ... biar bisa ngomong lebih bebas lewat japri ...

DCA further reading

Passion4U's picture

Ada satu lagi artikel tentang DCA yang agak akademis dipublikasikan dalam Jurnal Financial Planning bulan Oktober 2006 (bro eko pastinya udah baca lach ini khan jurnal resminya the financial planning association) Judulnya "Mathematical Illusion: Why Dollar-Cost Averaging Does Not Work" . Cuma bacanya memang agak ribet ... so tidak terlalu menarik buat ane, cuma artikel akademis ini membantu menyakinkan ane kalo penggunaan DCA dalam metode investasi ane memang betul-betul harus ditinjau ulang.

ini dia linknya :

http://www.fpanet.org/journal/articles/2006_Issues/jfp1006-art8.cfm

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.