Fenomena Time Loop Saat Kejatuhan Bursa, Saatnya Break The Loop!

autogebet's picture

20 Mei 2020 adalah hari perdagangan bursa terakhir sebelum libur panjang lebaran. Semenjak awal tahun 2020 yang berlanjut terjadinya pandemi corona, selama 3 bulan saja bursa sudah terkoreksi -37%, sebuah titik rendah saat Krisis Yunani 2015 silam. Hanya 2 minggu saja semenjak koreksi terdalamnya (semoga), bursa langsung berbalik +17%. This is so very typical, setiap bursa jatuh selalu diikuti kenaikan yang kencang, dan (mayoritas) kita melewatkan opportunity untuk entry.

Artikel ini menganalisa kinerja reksadana pada tiga periode krisis/kejatuhan bursa. Hasil olah data memberikan insight bahwa setiap terjadi kejatuhan bursa selalu menjadi momentum baik untuk entry.

Apapun keputusan investasi kita saat terjadi kejatuhan bursa, sangatlah dimaklumi. Kondisinya saat itu memang penuh ketidakpastian, emosional kita juga didominasi kecemasan. Saat itu dana asing masih terus exit dari bursa dalam jumlah besar, seberapa dalam kejatuhan bursa juga kita tidak akan pernah bisa menerka. Again, this is so very typical, (mayoritas) kita selalu merasakan kondisi emosional penuh kecemasan ini pada saat bursa jatuh.

Tiba2 saya tersadar, ini seperti fenomena time loop di film Doctor Strange, kita akan terus mengalami perulangan "bursa krisis - cemas - telat entry - bursa recover" tiada henti. Bisakah kita sesaat tersadar dan "break the loop"? Agar saat krisis berikutnya datang, kita sudah punya mindset baru, dan keputusan investasi baru.

Untuk membantu kita membangun mindset baru, saya mengolah data dari 3 periode krisis: pandemi (2020), pilpres (2019) dan krisis Yunani (2015). Facts dan insight dari ketiga periode krisis ini sangat menarik, sangat membantu menguatkan kita untuk berani break the loop.

Postingan ini difokuskan analisa pada reksadana saham (RDS). Simak terus bagaimana perjalanan analisa datanya. Atau, boleh juga langsung lompat ke kesimpulan akhir di bawah ^_^

Metode Olah Data

Sebenarnya analisa juga dilakukan hingga krisis Subprime Mortgage tahun 2008, tapi ragam produk reksadana saat itu lumayan berbeda dibanding sekarang. Saya sengaja pilih krisis yang tidak terlalu jauh (2015) agar dapat saling dibandingkan ragam produk yang relatif sama (produk tahun 2015 masih eksis di tahun 2019), sehingga kita bisa melihat seperti apa karakteristik produk yang mampu recover dari krisis. Sebenarnya juga ada krisis yang lebih dekat lagi, yaitu Krisis Turki (2018), tapi mungkin akan disertakan dalam kesempatan penyempurnaan berikutnya, beserta krisis-krisis lainnya.

Analisa dilakukan pada periode data yang dimulai pada tanggal dimana IHSG mengalami titik terendah pada setiap periode krisis, dan diakhiri 2 bulan sesudahnya. Idenya adalah kita ingin tahu produk seperti apa yang mampu recover dengan cepat, bahkan lebih baik dari benchmark IHSG.

Periode krisis pandemi: 24/03/2020 s.d 20/05/2020
Benchmark IHSG +13%

Periode krisis pilpres: 17/05/2019 s.d 17/07/2019
Benchmark IHSG +9,7%

Periode krisis Yunani: 28/09/2015 s.d 30/11/2015
Benchmark IHSG +7,9%

Hasil olah data berupa ranking kinerja RDS tersedia pada lampiran artikel ini. Ini saat tepat untuk evaluasi portfolio, apakah portfolio RDS ada di list lampiran ini ^_^

Findings

Selintas amatan, sangat banyak RDS yang kinerjanya melesat melebihi benchmark IHSG hanya dalam 2 bulan saja. Pada periode pandemi, ada 25 RDS yang kinerjanya 20-40%. Pada periode pilpres, ada 100 RDS yang berkinerja 10-22%. Pada periode krisis Yunani, ada 43 RDS yang berkinerja 10-22%. Artinya, entry atau top up pada saat bursa recovery dari titik terendahnya masih memberikan kinerja positif hingga 2 bulan kemudian.

RDS peraih kinerja tinggi ini nampaknya bukan peraih kinerja konsisten dalam jangka panjang, mayoritas meraih rank yang rendah (bukan 10 besar teratas). seandainya kita entry pada RDS peraih rank tinggi (1 s.d 10), potensi return yang didapat lebih rendah lagi: 2-27% utk periode pandemi (ada yg minus jg), 2-15% utk periode pilpres, 2-11% utk periode krisis Yunani (ada yg minus jg). Sampai disini, ini agak repot, kalau hanya pilih RDS utk jangka pendek (krisis/recovery) aja, akan terkorbankan utk kinerja jangka panjangnya.

Amatan berikutnya pada nama2 produk RDS, disini mulai menarik. Nampak ada RDS yang sepertinya jago banget recover dari krisis, karena selalu meraih kinerja tertinggi pada ketiga periode krisis, yaitu:
Manulife Dana Ekuitas Small-Mid Capital USD*
Manulife Greater Indonesia Fund
Manulife Dana Ekuitas USD*

Sesuai keterangan dari Bloomberg, RDS dengan tanda bintang adalah unit-link, sehingga otomatis kita coret dari pembahasan ^_^

Semakin menarik karena nama2 produk RDS lain yang SELALU muncul pada ketiga periode krisis adalah ETF! Walaupun sebagian diantaranya produk baru, tapi kinerjanya mampu melebihi benchmark IHSG. Masing2 periode krisis memunculkan citarasa ETF berbeda-beda. Periode pandemi lebih didominan ETF syariah, sementara periode lainnya didominasi oleh ETF dan reksadana indeks dengan citarasa lebih bervariasi.

Periode Pandemi:
Pinnacle Sharia JII Tracker
Syailendra Sharia Index JII
Premier ETF Syariah JII

Periode Pilpres:
RHB SRI-KEHATI INDEX FUND
Dire Ciptadana Properti Ritel Indonesia
Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund
Kresna Indeks 45
Pinnacle Sharia JII Tracker
Insight Indeks IDX30
Batavia LQ45 Plus
Premier ETF Sri Kehati
Kresna IDX 30 Tracker
Premier ETF LQ 45
Avrist IDX30
Syailendra Sharia Index JII
Premier ETF Indonesia Financial

Krisis Yunani:
Premier ETF IDX30
Premier ETF Indonesia Financial
PG Indeks Bisnis-27
Premier ETF LQ 45

Pertanyaan berikutnya yang muncul, jika kita ingin memanfaatkan momentum koreksi untuk entry, sebaiknya entry kemana? Reksadana biasa atau ETF?

Pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan mensimulasikan transaksi, karena tabel summary kinerja (1YR, 3YR, 5YR dst) tidak mempertimbangkan timing entry.

Simulasi Investasi

Skenario simulasinya adalah BUY AND HOLD. Entry dilakukan 3x, masing2 Rp 10 juta pada awal periode krisis. Seluruh unit pembelian diakumulasikan, kmdn dijual pada tanggal 20 Mei 2020. Hasil penjualan ini kemudian dibandingkan dengan seluruh modal pembelian.

Produk yang dibandingkan adalah RDS konvensional (Manulife Greater Indonesia Fund) dan ETF. Produk ETF yg dipilih adalah yang sudah berusia lebih dari 5 tahun. Pilihannya hanya ada 3 produk, diambil 2 saja: ETF konvensional (Premier ETF LQ 45) dan ETF syariah (Premier ETF Syariah JII).

Hasilnya: dalam kondisi penjualan dilakukan saat krisis (seperti sekarang ini pandemi masih berlangsung), ETF syariah memberikan return tertinggi (12.1%), bisa 2x lipat dari RDS konvensional (6.8%), sementara ETF non-syariah memberikan return terendah (1.6%). Ini sangat berkaitan dengan sektor yang sangat terdampak krisis, jika krisis terdampak kepada perbankan, maka ETF syariah memberikan return lebih baik.

Bagaimana jika kondisi market sedang bagus? Saya lakukan ekstra simulasi dengan penjualan dilakukan 2 bulan sesudah pilpres. Hasilnya, RDS konvensional berjaya mutlak dengan return tertinggi (80.2%), diikuti berikutnya dengan return kedua ETF yang tidak terpaut jauh, 56.1% untuk ETF non-syariah, 48.5% untuk ETF syariah.

Return 80.2% kesannya hoki banget, perlu diingat ini periodenya 3-4 tahun, so supaya lebih obyektif harus disetahunkan (dihitung dengan rumus CAGR). Hasilnya: Dalam kondisi market sedang bagus (bullish), RDS konvensional memberikan return setara 16.7% per tahun, return ETF non-syariah setara 12.4% per tahun, dan return ETF syariah setara 11% per tahun. Dalam kondisi market sedang krisis (bearish), RDS konvensional memberikan return setara 1.4% per tahun, return ETF non-syariah setara 0.3% per tahun, dan return ETF syariah setara 2.5% per tahun. Rumus perhitungan selengkapnya tersedia dalam lampiran.

Kesimpulan

Sesudah disetahunkan dengan CAGR, kinerjanya nampak "kecil", tapi sebenarnya ada makna tersirat yang mengejutkan. Dalam kondisi market sedang bagus, kinerja ETF beda tipis aja dengan RDS konvensional. Namun saat kondisi krisis, ETF syariah bisa memberikan kinerja 2x lebih baik dari RDS konvensional. Insight faktual ini menjadi bekal berharga untuk "break the loop", menguatkan keyakinan untuk berinvestasi justru pada saat market terkoreksi, supaya kita tidak lagi "telat entry" saat market recover melesat naik.

Fakta menarik dari amatan tiga periode krisis, produk ETF selalu muncul sebagai salah satu top performer pada setiap periode krisis. Kinerja ETF dalam jangka panjang bisa dibilang tidak berbeda jauh dibanding RDS terbaik. Bahkan bonusnya, jika kita terhantam krisis, kinerja ETF jauh lebih baik ketimbang RDS terbaik. Berinvestasi dengan ETF tidak serepot RDS, tidak perlu kuatir "salah pilih RDS", keputusan investasi menjadi lebih sederhana.

Pencarian produk investasi yang mampu mengalahkan pasar (IHSG) tiada akan ada habisnya, kita pun tidak akan pernah bisa entry/exit dengan timing yang sangat akurat. Produk investasi yang bagus datang dan pergi, bahkan produk yang berkinerja cemerlang saat market bullish belum tentu bisa bertahan saat krisis. Manager Investasi yang sekarang berjaya, belum tentu terus berjaya selamanya. Dengan seluruh ketidakpastian ini, ETF adalah sebuah instrumen investasi yang memberikan return sama baiknya.

Semoga sedikit analisa ini dapat memberikan warna baru dalam berinvestasi. Daftar lengkap hasil olah data ada dalam lampiran artikel ini, kalau ada ide masukan utk penyempurnaan analisa, jangan ragu posting komen yaa ^_^

Comments

RDS yang rebound lebih tinggi dari IHSG

autogebet's picture

Sejak memasuki bulan September, IHSG sudah ambles -7,8%. Mendadak Jumat kemarin IHSG rebound +2,5% dan JII rebound +3,3%. Bagi yang sedang pilih-pilih RD untuk top up, inilah RDS yang mampu rebound lebih tinggi dari IHSG.

3,7% Trimegah Syariah Saham [Rank 12]
3,5% PNM Ekuitas Syariah [Rank 50]
3,4% Premier Ekuitas Makro Plus [Rank 78]
3,4% Pinnacle Sharia JII Tracker [Rank ]
3,3% Danareksa Indeks Syariah [Rank 84]
3,3% Syailendra Sharia Index JII [Rank ]
3,2% Avrist Equity Amar Syariah [Rank 54]
3,2% Mega Dana Capital Growth [Rank 118]
3,1% PNM Saham Agresif [Rank 41]
3,1% Simas Saham Gemilang [Rank ]
3,1% Premier ETF IDX High Dividend 20 [Rank ]
3,1% Schroder 90 Plus Equity Fund [Rank 22]
3,1% SAM Sharia Equity Fund [Rank 88]
3,1% Insight Wealth [Rank 67]
3,1% Simas Dana Ekuitas [Rank ]
3,1% Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund [Rank ]
3,1% Reksa Dana SAM Beta Plus Equity Fund [Rank 75]
3,0% Avrist IDX30 [Rank ]
3,0% Majoris Saham Syariah Indonesia [Rank 70]
3,0% Syailendra Dana Ekuitas Sejahtera [Rank 98]
3,0% Danareksa Mawar Komoditas 10 [Rank 40]
3,0% Kresna IDX 30 Tracker [Rank 31]
3,0% Eastspring Investments Alpha Navigator [Rank 35]
3,0% Reksa Dana Avrist Ada Saham Blue Safir [Rank 34]
2,9% Eastspring Investments Value Discovery Fund [Rank 63]
2,9% Schroder Indo Equity Fund [Rank 7]
2,9% Kresna Indeks 45 [Rank 36]
2,9% Simas Saham Bertumbuh [Rank 68]
2,9% Batavia LQ45 Plus [Rank 72]
2,9% SAM Indonesian Equity Fund [Rank 127]
2,9% Trimegah Bhakti Bangsa [Rank 79]
2,9% Premier ETF LQ 45 [Rank 33]
2,9% Lautandhana Saham Syariah [Rank 30]
2,9% Reksa Dana Syariah BNP Paribas Pesona Syariah [Rank 42]
2,8% Schroder Dana Prestasi Prima [Rank 25]
2,8% Mandiri Investa Cerdas Bangsa [Rank 103]
2,8% Manulife Saham SMC Plus [Rank 110]
2,8% Bahana Trailblazer Fund [Rank 95]
2,8% Manulife Dana Saham Utama [Rank 65]
2,8% Sucorinvest Sharia Equity Fund [Rank 82]
2,8% Manulife Syariah Sektoral Amanah [Rank 81]
2,8% Lautandhana Equity Progresif [Rank 24]
2,8% Schroder Dana Prestasi Plus [Rank 20]
2,8% RHB SRI-KEHATI INDEX FUND [Rank ]
2,8% Mandiri Investa Ekuitas Syariah [Rank 124]
2,8% Syailendra Equity Garuda Fund [Rank ]
2,8% Simas Saham Maksima [Rank 52]
2,8% Mandiri Investa Atraktif Syariah [Rank 117]
2,8% RHB Alpha Sector Rotation [Rank 91]
2,7% TRIM Kapital Plus [Rank 28]
2,7% BNP Paribas Maxi Saham [Rank 85]
2,7% Panin Dana Berkembang [Rank ]
2,7% Trimegah Saham Nusantara [Rank ]
2,7% MNC Smart Equity Fund [Rank ]
2,7% Manulife Dana Saham [Rank 80]
2,7% Pinnacle Enhanced Sharia ETF [Rank ]
2,7% Pratama Syariah [Rank 131]
2,7% Schroder Dana Prestasi [Rank 16]
2,7% Manulife Saham Andalan [Rank 83]
2,7% Panin Dana Infrastrucktur Bertumbuh [Rank 56]
2,7% Sequis Equity Indonesia [Rank 49]
2,7% Lautandhana Growth Fund [Rank 21]
2,7% First State IndoEquity PEKA Fund [Rank 23]
2,7% BNI-AM Inspiring Equity [Rank 53]
2,7% Lautandhana Saham Lestari [Rank 107]
2,7% Majoris Saham Alokasi Dinamik Indonesia [Rank 96]
2,6% Panin Beta One [Rank 60]
2,6% Insight Indeks IDX30 [Rank ]
2,6% Mandiri Dynamic Equity [Rank 111]
2,6% Simas Syariah Unggulan [Rank 121]
2,6% Syailendra Equity Opportunity Fund [Rank 51]
2,6% Lautandhana Saham Prima [Rank 115]
2,6% Nikko Indonesia Equity Fund [Rank 57]
2,6% Simas Saham Unggulan [Rank 106]
2,6% Manulife Institutional Equity Fund MIEF [Rank 77]
2,6% Panin Bhakti Satu [Rank ]
2,6% Schroder Dana Istimewa [Rank 46]
2,6% Manulife Greater Indonesia Fund [Rank 112]
2,6% Pratama Saham [Rank 130]
2,6% Mandiri Investa Atraktif [Rank 90]
2,6% Mandiri Investa Equity Dynamo Factor [Rank 116]
2,6% Dire Ciptadana Properti Ritel Indonesia [Rank 11]
2,6% Mega Asset Greater Infrastructure [Rank 44]

RDS bercetak tebal artinya RDS tersebut masuk dalam daftar sebagai RDS yang mampu recover meraih kinerja tertinggi pada tiga periode krisis (lihat pada artikel diatas). Lagi-lagi, hasil rebound sehari ini nampak masih konsisten, kinerja dari dua produk ETF mampu menyamai JII.

Special note untuk peraih nomer satu teratas, kehebatan RDS ini selalu konsisten muncul dalam analisa di artikel ini (again, bisa di-search pada artikel diatas).

Semoga bermanfaat :)

Silang Merah, Bersiap Break the Loop!

autogebet's picture

Silang merah sudah muncul per tgl 10 Sept kemarin. Overall RDS berjatuhan. Jika bingung pilih RDS, ETF dapat menjadi alternatif tanpa pusing untuk entry saat bursa terkoreksi dalam ^_^

Break the Loop!

Kinerja RDS Sesudah Bottom IHSG

autogebet's picture

Bagi yang ingin pilih2 RDS, ini adalah list selengkapnya kinerja RDS sejak IHSG mencapai titik terendahnya (reversal pandemi, 24 Maret 2020) s.d terkini (3 Juli 2020).

Sengaja ditampilkan 100 RDS, krn RDS urutan ke-100 pun bisa meraih 25% hanya dalam 3 bln ^_^

52,9% Manulife Greater Indonesia Fund [Rank 120]
43,0% Mandiri Dynamic Equity [Rank 116]
42,9% Manulife Dana Ekuitas USD [Rank 87]
42,5% Manulife Saham SMC Plus [Rank 115]
41,0% Pinnacle Sharia JII Tracker [Rank ]
40,8% MNC Dana Syariah Ekuitas [Rank 93]
39,8% Syailendra Sharia Index JII [Rank ]
37,5% Trimegah Syariah Saham [Rank 10]
36,2% Avrist Equity Amar Syariah [Rank 40]
35,8% Mandiri Saham Atraktif [Rank 72]
35,7% Kresna Indeks 45 [Rank 38]
35,6% Simas Saham Gemilang [Rank ]
35,6% Reksa Dana SAM Beta Plus Equity Fund [Rank ]
35,5% Premier ETF Syariah JII [Rank 59]
35,4% Lautandhana Saham Syariah [Rank 21]
35,1% Mandiri Investa Ekuitas Dinamis [Rank 127]
34,9% BNI-AM Inspiring Equity [Rank 50]
34,8% Kresna IDX 30 Tracker [Rank 49]
34,7% Batavia LQ45 Plus [Rank 73]
34,4% Avrist IDX30 [Rank ]
34,3% Simas Dana Ekuitas [Rank ]
34,2% Comm IDR Value Portfolio - Retail [Rank 89]
34,2% OSO Sustainability Fund [Rank 58]
34,0% Sun Life Financial Indonesia - Brilliance Hasanah Equity [Rank 42]
33,7% Manulife Dana Saham [Rank 106]
33,5% Manulife Dana Saham Utama [Rank 86]
33,3% Manulife Syariah Sektoral Amanah [Rank 85]
33,2% Lautandhana Equity Progresif [Rank 23]
33,2% Mandiri Investa Cerdas Bangsa [Rank 109]
33,1% Lautandhana Growth Fund [Rank 17]
33,1% Syailendra Equity Garuda Fund [Rank ]
33,0% BNP Paribas Maxi Saham [Rank 67]
32,9% BNP Paribas Infrastruktur Plus [Rank 70]
32,9% Reksa Dana Avrist Ada Saham Blue Safir [Rank 46]
32,8% RHB SRI-KEHATI INDEX FUND [Rank ]
32,7% Simas Saham Bertumbuh [Rank 77]
32,7% SYAILENDRA Equity BUMN Plus [Rank ]
32,6% RHB Alpha Sector Rotation [Rank 74]
32,5% TM syEquity Fund [Rank 29]
32,5% Bahana TCW Dana Prima [Rank 64]
32,5% Sun Life Financial Indonesia - Brilliance Salam Equity Fund [Rank 35]
32,4% Sequis Equity Indonesia [Rank 62]
32,4% TRAM Consumption Plus Fund [Rank 30]
32,3% Semesta Dana Saham [Rank 110]
32,3% BNP Paribas Ekuitas [Rank 84]
32,2% Mandiri Investa Equity Movement [Rank 71]
32,2% Premier ETF LQ 45 [Rank 47]
32,2% Simas Saham Maksima [Rank 68]
31,9% Premier ETF IDX30 [Rank 36]
31,8% BNP Paribas Pesona [Rank 79]
31,8% Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund [Rank ]
31,7% Manulife Institutional Equity Fund MIEF [Rank 99]
31,6% Syailendra Equity Opportunity Fund [Rank 51]
31,6% Panin Beta One [Rank 52]
31,5% Mandiri Investa Atraktif [Rank 96]
31,5% TRIM Kapital Plus [Rank 26]
31,5% Sequis Equity Maxima [Rank 63]
31,2% Aviva Growth [Rank 75]
31,1% MNC Smart Equity Fund [Rank ]
31,0% Trimegah Bhakti Bangsa [Rank 43]
30,9% Manulife Saham Andalan [Rank 105]
30,9% First State IndoEquity PEKA Fund [Rank 31]
30,7% Mandiri Investa Equity ASEAN5 Plus [Rank 12]
30,7% TM Equity Optima Fund [Rank ]
30,7% PNM Ekuitas Syariah [Rank 44]
30,6% Schroder Dana Istimewa [Rank 55]
30,3% Sequislife - Rupiah Equity Fund [Rank 48]
30,3% Majoris Saham Gemilang Indonesia [Rank ]
30,3% Panin Dana Berkembang [Rank ]
30,3% Panin Dana Berdedikasi [Rank ]
30,2% Insight Wealth [Rank 69]
30,2% Mandiri Investa Atraktif Syariah [Rank 119]
30,2% Aberdeen Indonesia Equity Fund [Rank 14]
30,0% Syailendra Dana Ekuitas Sejahtera [Rank 82]
29,9% Eastspring Investments Value Discovery Fund [Rank 78]
29,8% Schroder Dana Prestasi [Rank 19]
29,5% Premier Ekuitas Makro Plus [Rank 81]
29,4% Schroder 90 Plus Equity Fund [Rank 39]
29,4% Panin Dana Infrastrucktur Bertumbuh [Rank 83]
29,3% Mandiri Investa Ekuitas Syariah [Rank 124]
29,3% Grow 2 Prosper [Rank 20]
29,0% SAM Dana Cerdas [Rank 123]
28,9% Panin Dana Syariah Saham [Rank 80]
28,9% Premier ETF Sri Kehati [Rank 25]
28,7% Schroder Dana Prestasi Prima [Rank 18]
28,6% Bahana Trailblazer Fund [Rank 94]
28,3% PG Indeks Bisnis-27 [Rank 45]
28,0% PNM Saham Agresif [Rank 60]
27,9% Eastspring Investments Alpha Navigator [Rank 32]
27,8% Schroder Dana Prestasi Plus [Rank 37]
27,1% Schroder Indo Equity Fund [Rank 9]
26,5% PNM Saham Unggulan [Rank 130]
26,5% Mandiri Global Sharia Equity Dollar [Rank 1]
26,3% Danareksa Mawar Komoditas 10 [Rank 57]
26,3% Nikko Indonesia Equity Fund [Rank 90]
26,0% RHB TM Indo-Asia Equity Fund [Rank 24]
26,0% Premier ETF Indonesia Financial [Rank 118]
26,0% Lautandhana Saham Lestari [Rank 112]
25,7% Prospera BUMN Growth Fund [Rank 107]

Entry ETF saat krisis memberikan >35% hanya dalam 3 bulan

autogebet's picture

Findings terkini, ETF menjadi opportunity investasi yang menarik saat kita sudah berpartisipasi entry sejak awal periode krisis.

Kebetulan pas sedang pilih2 RDS, saya coba analisa data dengan membandingkan kinerja reksadana pada 2 periode. Pertama, sejak tgl 4 Juni s.d skrg, saat itu garis kuning dana asing IHSG sedang optimis diakumulasi, mari kita sebut ini sebagai periode "Recent". Kedua, sejak 24 Maret s.d skrg, saat itu IHSG mencapai titik terendahnya di masa pandemi, kita sebut sebagai periode "Krisis".

Inilah hasilnya, 20 besar peraih kinerja RDS terbaik pada masing2 periode

Periode Krisis
68,8% Manulife Dana Ekuitas Small-Mid Capital USD [Rank 106]
54,9% Manulife Greater Indonesia Fund [Rank 109]
48,5% Manulife Saham SMC Plus [Rank 113]
48,2% Manulife Dana Ekuitas USD [Rank 63]
47,0% Mandiri Dynamic Equity [Rank 118]
42,1% MNC Dana Syariah Ekuitas [Rank 85]
40,3% Trimegah Syariah Saham [Rank 8]
39,7% Pinnacle Sharia JII Tracker [Rank ]
39,6% Mandiri Investa Ekuitas Dinamis [Rank 127]
38,7% SAM Sharia Equity Fund [Rank 46]
38,6% Syailendra Sharia Index JII [Rank ]
38,3% Lautandhana Saham Syariah [Rank 17]
37,0% Lautandhana Growth Fund [Rank 16]
36,7% Lautandhana Equity Progresif [Rank 21]
36,5% Semesta Dana Saham [Rank 110]
36,3% Mandiri Saham Atraktif [Rank 76]
36,3% Premier ETF Syariah JII [Rank 42]
36,2% Reksa Dana SAM Beta Plus Equity Fund [Rank ]
36,1% BNI-AM Inspiring Equity [Rank 58]
36,0% Manulife Syariah Sektoral Amanah [Rank 65]

Periode Recent
5,8% Panin Bhakti Satu [Rank ]
5,1% Sucorinvest Equity Fund [Rank 14]
4,1% Lautandhana Saham Prima [Rank 114]
4,0% Mega Dana Capital Growth [Rank 121]
3,8% Manulife Dana Ekuitas Small-Mid Capital USD [Rank 106]
3,8% Lautandhana Saham Mahadi [Rank 122]
3,8% Manulife Saham SMC Plus [Rank 113]
3,5% Pratama Saham [Rank 131]
3,5% Lautandhana Saham Lestari [Rank 108]
3,5% Simas Dana Saham [Rank 25]
3,5% Pratama Ekuitas [Rank 128]
3,3% Lautandhana Growth Fund [Rank 16]
3,3% Semesta Dana Saham [Rank 110]
3,3% Pratama Syariah [Rank 130]
3,3% Mandiri Investa Ekuitas Dinamis [Rank 127]
3,0% Lautandhana Equity Progresif [Rank 21]
2,9% Majoris Saham Gemilang Indonesia [Rank ]
2,9% Trimegah Syariah Saham [Rank 8]
2,8% Prospera BUMN Growth Fund [Rank 102]
2,8% Manulife Institutional Equity Fund MIEF [Rank 95]

Investasi yang dimulai pada periode krisis memberikan return yang paling istimewa, hanya dalam 3 bulan saja sudah memberikan return diatas 35%, baik untuk produk ETF maupun RDS konvensional. Investasi yang dimulai pada periode Recent, ternyata ETF tidak lagi berjaya, peraih kinerja terbaik sepenuhnya didominasi oleh RDS konvensional.

Bagi yang sedang pilih2 RDS, dari list diatas nampak ada kemunculan RDS yang selalu konsisten muncul pada kedua periode:
RDS konvensional: Manulife Saham SMC Plus
RDS syariah: Trimegah Syariah Saham

So kesimpulannya disini, jika someday ada krisis lagi, selalu menjadi opportunity yang menarik untuk entry di ETF, karena advantage kinerja early entry saat krisis selalu menjadikan portfolio kita bersinar, tanpa perlu pusing pilih RDS.

ETF

tianni's picture

Bro Gebet, saat mau beli ETF berarti kita hrs ke sekuritas, mis Panin atau Indopremier. Yg sy mau tanyakan keliquitannya gmn. Jika suatu saat kita mau switcing ke RDS atau saham. Apakah bisa langsung swiching online atau hrs melalui sekuritas dulu utk jual.

Melihat kondisi RDS msh merah,pengen beli RDI, tp berhubung ada dana pengen beli ETF. Kondisi skg mending ETF atau RDPT jika kebetulan ada dana yg agak besar utk diinvest.

Sy cek di ipotfund tdk ada ETF. Sy cb buka Ipotgo, yg muncul nama2 16 sahamm ga ada ETF. Mhn info. Tks

Likuiditas ETF

autogebet's picture

sis tianni, produk ETF tdk hrs ke sekuritas, bisa dari MI. spt di Ipotfund ada banyak pilihan ETF nya, tinggal search nama produk yg ada kata "ETF".

ttg likuiditas, sy ambil contoh satu ETF "XIJI" sbg ilustrasi yaa.. kl kt lihat via aplikasi OLT, setiap harinya selalu ada bid/offer 1000 lot setara Rp 54 juta. walaupun spread/selisih harga bid dan offer beda jauh banget (bisa 4% sendiri), but ini likuid, sejauh nominal beli/jual kt dlm sehari ndak lebih dari itu.

dari olah data sblmnya, RDS memang lebih risky (lebih merah) saat market jatuh, smtr RDI/ETF lbh konservatif jatuhnya (krn mengikuti indeks acuan). kl ada dana dan msh ragu dg kondisi bursa, IMO better ke RDPT or RDPU gpp :)

kl soal switching, sepengetahuan sy bs lgsng online krn prosesnya ditangani oleh MI nya. case di ipot, kt bs switching kemana aja bebas, krn apa yg tjd dibaliknya adl dijual dulu sampai settle baru kmdn dibelikan yg baru. bagi kita lbh simplified aja prosesnya.

kl kt beli ETF nya via OLT, kl mau switching, yaa tetap kt sendiri yg hrs jual dulu kmdn pilih beli yg lain.. ndak beda dg jual beli saham biasa siiy :)

Bursa bergairah, ETF jauh melesat mengalahkan RDS!

autogebet's picture

Bursa sudah bergairah, dana asing IHSG sudah merangkak kembali masuk ke bursa, ulasan lengkapnya ada disini.

Pada periode dana asing mulai naik (sejak 20 Mei 2020) sampai sekarang, inilah 10 besar RDS yang naiknya paling besar, 7 diantaranya ternyata ETF/RD Indeks! Semakin mengkonfirmasikan artikel ini, bahwa saat bursa recovery, ETF naiknya paling cepat!

11,2% Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund [Rank ]
9,7% Premier ETF Indonesia Financial [Rank 124]
8,4% BNP Paribas Infrastruktur Plus [Rank 81]
8,2% Kresna IDX 30 Tracker [Rank 42]
8,1% Avrist IDX30 [Rank ]
8,0% Panin Bhakti Satu [Rank ]
7,9% Kresna Indeks 45 [Rank 38]
7,8% Batavia LQ45 Plus [Rank 67]
7,6% Simas Saham Gemilang [Rank ]
7,5% Premier ETF LQ 45 [Rank 45]

Cermati nama2 RDS itu, banyak RDS itu yang juga sudah menjadi jawara sejak krisis Yunani hingga pilpres (cek di artikel).

Sedikit cek data para peraih 20 besar peringkat reksadana tertinggi, ternyata nama besar RDS ini kalah bersinar dibanding ETF. ETF bisa memberi return 7-11%, tapi RDS peraih kinerja konsisten dalam jangka panjang ini hanya memberi return 2-6%.

RDS Top Rank
6,8% Aberdeen Indonesia Equity Fund [Rank 14]
5,7% Mandiri Investa Equity ASEAN5 Plus [Rank 12]
5,1% Mega Asset Maxima [Rank 13]
4,4% Schroder Dana Prestasi Prima [Rank 15]
4,4% Schroder Dana Prestasi [Rank 16]
4,3% Schroder Indo Equity Fund [Rank 8]
4,3% Lautandhana Saham Syariah [Rank 18]
4,1% Manulife Dana Ekuitas Indo-Developed Market [Rank 19]
2,4% Pinnacle Indonesia Sharia Equity Fund [Rank 6]
2,3% Trimegah Syariah Saham [Rank 10]

Lagi-lagi, data faktual sudah nyata terang benderang. Let's break the loop!

"Saat krisis, masuk aja ke ETF"

autogebet's picture

Selalu ingat banget dg petuah bro DewAsmara "saat krisis, masuk aja ke ETF, karena saat market rebound pasti LQ45 duluan naiknya".. Dan akhirnya, findings olah data ini klop banget sejalan dengan petuah legendaris ^_^

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.