Cara Kerja MI: Trader atau Investor?

mnwiria's picture

Penulis sering mendapat pertanyaan mengenai bagaimana MI mengelola reksa dana: apakah mirip trader (yang aktif melakukan jual beli) atau lebih sebagai investor (buy and hold)? Untuk itu, dalam tulisan ini penulis mencoba menerangkan secara singkat bagaimana cara MI bekerja.

Perlu diingat bahwa investasi di reksa dana sejatinya adalah investasi dengan horison jangka panjang di mana investornya punya kapasitas untuk menunggu (karena kalau tidak maka investor bisa dihadapkan pada situasi di mana karena kebutuhan likuiditas yang mendesak maka ia harus mencairkan investasinya di saat harga sedang rendah). Karena kapasitas inilah investor mestinya tidak terpengaruh oleh fluktuasi pasar dalam jangka pendek.

Berangkat dari horison jangka panjang ini, MI akan mengelola reksa dana dengan cenderung memilih strategi buy and hold ketimbang active trading.

Strategi buy and hold biasanya bertumpu pada analisa fundamental, yaitu identifikasi katalis dan potensi laba emiten di masa mendatang. Tujuan dari strategi ini adalah mencapai pertumbuhan portofolio yang kinerjanya mengalahkan tolok ukurnya dalam jangka panjang - atau dalam dunia investasi dikenal dengan istilah menciptakan alpha atau excess return. Excess return adalah selisih positif antara kinerja portofolio dengan kinerja tolok ukur. Jadi misalnya kinerja portofolio 25% sedangkan kinerja tolok ukurnya 15%, maka berarti alpha-nya 10%.

Ada hal menarik yang sering tidak disadari oleh investor, yaitu bahwa MI tidak selalu bisa mengalahkan tolok ukur setiap saat. Ada kalanya MI menang (outperform the benchmark) dan ada kalanya kalah (underperformed the benchmark). Yang penting adalah dalam jangka panjang lebih banyak menangnya sehingga secara kumulatif selisih kinerjanya positif.

Di lain sisi, strategi active trading biasanya bertumpu pada analisa teknikal (penentuan support dan resistance level) dan berhorison jangka pendek. Biasanya analisa teknikal ini dilakukan oleh pialang saham karena memang mereka mendapatkan penghasilan dari komisi jual-beli saham. Jadi motivasinya adalah merangsang terjadinya trading - makin sering makin baik.

Untuk pengelolaan reksa dana,  active trading biasanya tidak banyak digunakan karena berat di ongkos (makin banyak transaksi jual dan beli berarti makin besar komisi yang harus dibayarkan kepada pialang) yang pada gilirannya menggerus kinerja reksa dana tersebut. Analisa teknikal bisa digunakan dalam pengelolaan reksa dana, tapi biasanya tidak dipakai sebagai dasar untuk pengambilan keputusan.

 

Comments

saham komoditas

ito's picture

mbak Mel...

saat komoditas booming beberapa waktu lalu, portfolio saham dari sektor ini biasanya mendominasi top 5 portfolio (terutama BUMI) RDS. Namun 2 bulan terakhir, saham ini tidak lagi masuk menjadi top 5.

Apakah bisa menjadi pertanda bahwa MI ini sbg trader? Atau MI melakukan rebalancing portfolio dimana bobot sektor lain ditingkatkan shg % saham komoditas menurun?

Sound weird, soalnya MI sering berpesan agar kita hold dlm jangka panjang tp portfolio yg dikelola malah ada cut loss.

1 lagi, teknik MI melepas atau membeli portfolio saham bagaimana ya? apakah benar movement dari MI dgn dana kelolaan besar juga akan menggerakkan pasar? 

baca artikel saya yang lain

mnwiria's picture

Mungkin ada baiknya anda juga membaca artikel saya yang berjudul "Memahami Karakteristik Reksa Dana Saham".

bagaimana MI mengelola portofolio

mnwiria's picture

Dalam mengelola portofolio saham ada 2 hal utama yang harus diperhatikan oleh MI: (1) batasan investasi, dan (2) pilihan sektor dan saham.

Untuk reksa dana saham, berdasarkan ketentuan Bapepam-LK batasan investasinya adalah 80-100% saham dan 0-20% pasar uang. Dengan demikian alokasi asset strategis tidak berperan sebesar dalam pengelolaan reksa dana campuran (karena di reksa dana campuran batasan investasinya lebih fleksibel).

Jadi dalam pengelolaan reksa dana saham, pemilihan sektor dan saham menjadi lebih berperan. Ini berarti MI akan melakukan rotasi sektor dan saham jika memang kondisi pasar tidak lagi favorable untuk sektor/saham tersebut, ini adalah bagian dari rebalancing portofolio.

Namun perlu diingat bahwa MI tidak bisa keluar seluruhnya dari satu sektor karena jika ini dilakukan maka jika pasar berbalik arah, maka MI akan kehilangan kesempatan dan imbal hasil portofolionya pun akan ikut terkena imbasnya. Yang dilakukan MI adalah tetap memegang saham/sektor tsb namun mengubah bobot saham dalam portofolio relatif terhadap bobot saham tsb terhadap kapitalisasi pasar. Jika bobot di portofolio lebih besar daripada bobot di pasar maka disebut overweight, jika lebih kecil underweight dan jika kurang lebih sama disebut neutral. Kalau memang suatu sektor/saham dirasa sudah tidak atraktif untuk kondisi pasar terkini, maka bobotnya dikurangi (underweight). Jadi dalam hal ini MI tetap melakukan buy and hold, tidak bertindak seperti trader.

Mengenai pertanyaan kamu soal saham-saham komoditas, saya yakin masih ada dalam portofolio. Hanya karena bobotnya di portofolio sudah berkurang maka tidak lagi tampak di jajaran top 5.

Pada dasarnya MI tidak akan melakukan cut loss jika tidak terpaksa. Mungkin lebih tepat disebut sell-discipline, yaitu disiplin untuk menjual saham/mengeluarkannya dari portofolio, dan hal ini tidak bisa dilakukan kecuali 3 hal berikut sudah terpenuhi:

1. Faktor intrinsik saham: ada 2 kondisi yang harus terpenuhi yaitu (1) target price untuk saham itu sudah tercapai dan (2) tidak ada lagi katalis untuk peningkatan harga saham tsb di masa mendatang

2. Adanya perubahan fundamental dalam perekonomian atau industri (misalnya teknologi baru yang membuat teknologi yang sekarang menjadi usang/obsolete, misalnya teknologi word-processing yang menggeser mesin ketik).

3. Ada sektor atau saham lain yang bisa menggantikan.

Jadi MI

barkah's picture

Sis, saya numpang nanya yang sedikit menyimpang.

Kalo saya mau jadi MI, persyaratannya apa ya?

Tidak harus lulusan dalam FE kan, terus IP minimalnya berapa, minimal berapa tahun pengalaman kerjanya, lalu ada ujian sertifikasi profesi pasar modalkan? Itu kalau kita ingin ikut test tersebut dimana ya? Saya liat ada latihan ujian manager Investasi di bina insan, apakah itu adalah salah satu persyaratan untuk menjadi MI? Lebih baik kapan ya saya ikut ujian tersebut, apakah setelah menyelesaikan program S1 atau saat ini saja.

BTW saya boleh ya Copy paste artikel dari Sis mnwiria buat ditaro di blog saya.

Sorry pertanyaan nya agak katrok

(katrok mode : on) :) 

syarat

mnwiria's picture

Hallo Barkah,

Setahu saya tidak ada syarat khusus untuk menjadi seorang fund manager, meskipun lulusan fakultas ekonomi atau bisnis tentunya punya competitive edge karena disiplin ilmunya relevan dengan bidang pekerjaannya.

Untuk menjadi seorang fund manager yang baik dibutuhkan daya analisa dan kemampuan kuantitatif yang memadai. Ini karena sebagai fund manager seseorang perlu mengamati trend (agar bisa menentukan strategi pengelolaan portofolio) serta memlilih instrumen yang layak dimasukkan ke dalam portofolio.

 Mengenai ujian WMI, kalau memang kamu sempat lakukan sedini mungkin. Tapi mengingat angka kelulusannya rendah (cuma sekitar 20%), sebaiknya kamu mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum menghadapi ujiannya sehingga tidak buang waktu dan uang percuma. Setelah lulus ujian ini, kamu harus memperoleh lisensi WMI dari Bapepam-LK - dalam hal ini kamu harus menyerahkan dokumen seperti ijazah, KTP, kartu keluarga, dll, kemudian menulis makalah dengan topik tertentu sebelum akhirnya maju wawancara di Bapepam untuk mempresentasikan makalah kamu dan diuji tentang peraturan pasar modal.

Silakan post artikel saya di blog kamu, tapi saya mohon agar kamu tidak lupa mencantumkan nama saya selaku pengarang artikel agar saya tidak bisa menuntut kamu atas pelanggaran hak cipta ;)

 

Sudah Tentu

barkah's picture

Oh itu sudah tentu Sis. Setiap postingan yang ada di blog saya ada informasi dari mana asalnya. Nanti setiap postingan dari artikel Sis mnwira akan saya tuliskan "Sumber : Melinda Natalia Wiria (member portal reksadana)". 

Terimakasih Sis atas kerja sama nya.

:)  

Tanya dong...

Anonymous's picture

Dear Mbak Mel,
salam kenal sebelumnya...

Sama spt bbrp bro / sis yg bbrp waktu share pengalamannya, saya juga mengalami penurunan nilai RD Saham sebesar lebih dari 40%, yg mana tidak pernah terbayangkan sebelumnya.. (sayangnya, saya tidak pernah melakukan cut loss ketika bullish baru memasuki tahap awal).

Memang sih, tujuannya utk middle to long term saving, tapi melihat IHSG kita belakangan ini terus menerus meluncur sangat deras ke bawah, hati kok ternyata ketar-ketir (dan juga tidak rela) ya... shg akhir2 ini sering kepikiran, apakah dlm suatu kurun waktu -- katakanlah 5 thn -- akan BENAR-BENAR mengalami rebound lagi, shg kita bisa BEP (syukur2 laba), spt dikatakan banyak orang.

Tapi, dapatkah ini terjadi, sebuah perusahaan Manajer Investasi keburu gulung tikar sblm sempat mengalami rebound, jika kondisi IHSG terus2an longsor spt sekarang2 ini?

Maaf, kalau ini terdengar spt a silly question... mohon penerangan ibu yg sdh banyak makan asam garam di bidang ini. Bbrp kali saya sempat melakukan top up kecil-kecilan utk menurunkan average saya, tapi ternyata IHSG selalu pecahin rekor terendah baru, spt saat ini yg sdh tembus di bawah 1400. Trims sblmnya.

jika MI bangkrut

mnwiria's picture

Saya akan post satu artikel khusus untuk menjawab pertanyaan ini. Mohon disimak.

nobody knows.... tp dari

ito's picture

nobody knows....

tp dari pengalaman historis (saat krismon 97) bursa pulih setelah 3 th, dan melihat Indo masih tergolong emerging market besar kemungkinan indeks bisa pulih dgn cepat.

utk saat ini, kalo sudah ada plan tiap bulan invest berapa rp tetap dijalankan saja (anggap aja uang ilang, nti kalo indeks pulih bisa panen besar). tp jgn top up (penambahan di luar investasi rutin dalam jumlah besar) dulu krn arah fundamental pasar belum terlihat.

sisi pesimis:

namun tidak menutup kemungkinan terjadi pola Jepang lo yaitu indeks Nikkei tidak pernah kembali ke titik puncak di th 1987.

 

disiplin berinvestasi

mnwiria's picture

Strategi berinvestasi rutin setiap bulan dalam jumlah Rp yang sama dikenal dengan istilah Dollar Cost Averaging. Selain baik untuk menegakkan disiplin berinvestasi, strategi ini juga membuat rata-rata harga perolehan menjadi tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.