Asuransi Unit Linked, Merupakan Solusi Terbaik?

tgumulya's picture

Tidak terasa tahun 2007 telah hampir berlalu, namun kita masih ingat beberapa kejadian yang telah terjadi di tanah air diantaranya berbagai musibah beruntun seperti semburan lumpur panas, flu burung, demam berdarah, banjir, gempa bumi dan tanah longsor hingga musibah pada transportasi darat, laut dan udara seperti terbakarnya pesawat Boeing 737-400 Garuda Indonesia sesaat sebelum mendarat di Jogjakarta.

Manajemen Resiko

Dalam kehidupan manusia, faktor resiko adalah sesuatu yang pasti terjadi. Mulai dari resiko kehilangan aset atau harta, resiko sakit, cacat total hingga resiko kehilangan jiwa atau meninggal. Penyebabnya bisa secara alamiah (karena sakit) maupun karena kecelakaan dan ironisnya kita tidak pernah tahu kapan risiko itu akan terjadi. Namun, manusia masih dapat melakukan pengelolaan risiko yaitu dengan memindahkan risiko kepada pihak lain (dalam hal ini perusahaan asuransi) merupakan salah satu cara.

Jika kita berbicara resiko akan kematian kita akan langsung terbayang asuransi jiwa. Ya setiap manusia pasti akan mengalaminya, bagi mereka yang memiliki keluarga tentu ingin memberi proteksi yakni suatu kepastian apabila yang bersangkutan dipanggil oleh Sang Khalik maka keluarga yang ditinggalkan tetap menjalankan kehidupan dengan layak antara lain sandang pangan terus dipenuhi, anak tetap sekolah hingga tingkat yang tertinggi dan sebagainya.

Asuransi Jiwa

Asuransi Jiwa merupakan salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk memindahkan risiko, di mana apabila terjadi risiko kematian pada seseorang maka ahli warisnya akan memperoleh sejumlah dana yang disebut Uang Pertanggungan. Dalam industri asuransi jiwa di Indonesia saat ini, dikenal jenis asuransi tradisional misalnya term life (asuransi jiwa berjangka); whole life (asuransi jiwa seumur hidup), endowment (asuransi jiwa tradisional dengan kombinasi tabungan), serta polis asuransi jiwa unit linked atau investment linked. Asuransi jenis unit linked ini sangat populer dan hampir semua perusahaan asuransi besar memiliki produk ini bahkan beberapa perusahaan asuransi asing yang ada di Indonesia hanya menjual produk jenis unit linked tanpa menjual produk asuransi tradisional lainnya. Asuransi jiwa unit linked selain memberikan manfaat proteksi asuransi jiwa, juga sekaligus memberikan kesempatan untuk berpartisipasi secara langsung dalam investasi khususnya dalam reksadana.

Asuransi Jiwa Unit Linked

Jenis polis ini sangat digemari oleh perusahaan asuransi dan para pemegang polis (saat ini), terlihat dari pertumbuhan industri asuransi jiwa di tanah air jenis unit linked merupakan kontributor premi yang terbesar bagi banyak perusahaan asuransi jiwa. Ini adalah situasi yang kondusif bagi perusahaan asuransi karena dengan produk ini secara jangka panjang akan lebih mempercepat pertumbuhan rasio RBC (risk base capital) yang merupakan rasio resiko berbanding modal dengan minimum angka yang disyaratkan oleh pemerintah melalui Ditjen perasuransian adalah sebesar 125%. Perusahaan asuransi yang banyak menjual produk unit linked dapat dipastikan akan memiliki RBC yang tinggi karena perusahaan asuransi tidak menjaminan nilai tunai maupun nilai investasi yang diinvestasikan oleh nasabah, seluruh resiko kinerja dana investasi menjadi tanggungan nasabah itu sendiri.

Produk ini memang sangat praktis karena memudahkan nasabah dan calon nasabah. Pada produk jenis ini nasabah tidak perlu repot untuk mengunjungi dua perusahaan yakni perusahaan asuransi dan perusahaan pengelola investasi reksadana yakni manajer investasi, karena dengan produk ini proteksi dan investasi sudah dikemas menjadi satu kesatuan. Nasabah yang relatif berkantong tipis pun dapat dengan mudah mendapatkan proteksi dan melakukan investasi karena dapat dilakukan dengan jumlah nilai investasi yang relatif sedikit. Banyak unit linked yang menerima nilai investasi hanya Rp.100 ribu perbulan bahkan kurang dari nilai itu!. Produk ini pun memiliki likuiditas karena nilai investasi sejauh mencukupi dapat diambil oleh nasabah setiap saat bahkan setelah periode tertentu nilai investasi ini dapat dipergunakan untuk membayar premi dasar sehingga nasabah dapat melakukan cuti premi.

Dengan adanya aneka kemudahan tersebut di atas, seorang pembaca yang bijak perlu mengetahui lebih dalam apakah hal tersebut sudah merupakan pilihan terbaik? Jika dibandingkan dengan membeli produk yang terpisah (antara asuransi pada satu sisi dengan investasi reksadana di sisi yang lain), manakah yang dapat memberikan manfaat maksimal bagi kita? Mari kita sama-sama telaah lebih lanjut.

Pertama-tama, perlu disadari bahwa sejalan dengan kemudahan yang ditawarkan oleh produk unit linked, terdapat biaya-biaya yang dibebankan kepada nasabahnya seperti Biaya Asuransi (sesuai dengan usia dan jenis kelamin nasabah), Biaya Administrasi dan Biaya Pengelolaan Investasi. Berikut ini adalah penjelasan biaya pada unit linked:

  1. Biaya Pengelolaan Investasi

    Umumnya perusahaan asuransi ada yang membebankan biaya
    ini di muka sebelum dana masuk ke dalam porsi investasi. Biaya ini
    dapat berupa Biaya Awal (biasanya sebesar 5% dari dana yang
    diinvestasikan) dan ada juga yang menggunakan metode bid-offer price
    yaitu dana yang masuk akan dibagi dengan harga jual (offer price) serta
    dana yang keluar atau ditarik oleh nasabah akan dikali dengan harga
    beli (bid price). Selisih dari bid-offer price biasanya sebesar 5%
    (umumnya dihitung dari offer price). Bagi nasabah yang ingin menarik
    investasinya dari unit linked yang menggunakan metode bid-offer price
    mutlak harus menghitung tingkat pertumbuhan yang sedang terjadi sejak
    dana tersebut masuk, dikurangi selisih bid-offer price.

    Perusahaan asuransi juga membebankan Biaya Pengelolaan Dana oleh
    Manajer Investasi yang besarnya bervariasi antara 0.5% - 2% pertahun
    dan sudah diperhitungkan dalam harga unit. Tingkat biaya ini tergantung
    dari jenis investasi yang dipilih oleh nasabah (reksa dana pendapatan
    tetap, saham atau campuran), besarnya dana yang dikelola, serta
    keuntungan yang diinginkan oleh perusahaan asuransi jiwa.

  2. Biaya Unit Linked Premi Tunggal

    Pada pembayaran premi tunggal atau single premium (yaitu pembayaran
    premi hanya satu kali dan tidak ada kewajiban pembayaran di tahun
    berikut namun jika ingin menambah diperbolehkan), biasanya polis jenis
    ini juga membebankan biaya seperti Biaya Polis yang besarnya tetap
    (tidak dipengaruhi oleh besar atau kecilnya Uang Pertanggungan), Biaya
    Administrasi untuk menutup biaya awal polis dan Biaya Mortalita yang
    besarnya tergantung jenis kelamin, usia masuk serta besarnya Uang
    Pertanggungan. Kondisi kesehatan pemegang polis juga turut mempengaruhi besarnya biaya ini.

    Uang Pertanggungan yang dijamin adalah
    sebesar 150% dari investasi awal, jika tidak ada penarikan dana di
    kemudian hari oleh nasabah. Namun apabila terjadi penarikan dana di
    kemudian hari, Uang Pertanggungan akan berkurang. Sejalan dengan
    lamanya waktu investasi, apabila pertumbuhan dana investasi telah
    melebihi Uang Pertanggungan maka jika terjadi risiko kematian, manfaat
    yang didapat oleh ahli waris sebesar nilai investasi. Sebaliknya, jika
    nilai investasi ternyata lebih kecil dari Uang Pertanggungan maka
    manfaat yang didapat ahli waris adalah sebesar Uang Pertanggungan,
    dengan catatan jika perkembangan nilai investasi tidak lebih kecil dari
    biaya-biaya yang telah disebutkan diatas.

  3. Biaya Unit Linked Premi Berkala

    Asuransi jenis ini pembayaran premi dilakukan berkala dan memiliki jangka waktu tertentu. Seperti asuransi polis premi tunggal, polis jenis ini juga membebankan Biaya Pengelolaan Investasi, Biaya Awal dan/atau Biaya Penebusan bagi unit linked yang menggunakan bid-offer price. Besarnya masing-masing biaya seperti yang sudah disebutkan diatas. Biaya Polis juga dikenakan, besarnya tetap (tidak dipengaruhi oleh besar atau kecilnya Uang Pertanggungan) dan ada Biaya Asuransi yang dikenakan untuk menutupi biaya mortalita yang besarnya variatif (tergantung usia masuk, jenis kelamin, besarnya Uang Pertanggungan serta faktor kesehatan).

    Patut dicermati bahwa umumnya dana yang berasal dari premi dasar tidak diinvestasikan pada tahun pertama, dengan demikian seluruh dana nasabah pada tahun pertama dipergunakan untuk menutupi biaya penjualan, administrasi, asuransi dan keuntungan yang diinginkan oleh perusahaan asuransi jiwa.

    Namun demikian ada sebagian kecil dari produk unit linked di Indonesia yang mengalokasikan investasi pada tahun pertama sebesar 20%-100% dari premi dasar di tahun pertama. Sekilas terlihat menarik, namun setelah dilakukan penelitian ternyata biaya-biaya yang dibebankan kepada nasabah tidak sedikit, sebagai ilustrasi seorang calon nasabah akan membayar premi dasar yang lebih besar jika calon nasabah tersebut membeli produk unit linked yang mulai mengalokasikan investasi sejak tahun pertama dibandingkan dengan unit linked yang tidak mengalokasikan investasinya pada tahun pertama (lihat tabel 1).

Asuransi Tradisional dan Reksadana

Marilah kita cermati lebih dalam mengenai produk asuransi tradisional term life dengan jenis YRT (Yearly Renewable Term) yang memiliki Uang Pertanggungan yang tinggi namun dengan premi yang relatif sangat rendah. Biaya yang terdapat pada asuransi ini adalah Biaya Asuransi yang dikenakan untuk menutupi biaya mortalita, besarnya variatif (tergantung usia masuk, jenis kelamin, Uang Pertanggungan serta faktor kesehatan) dibayarkan secara berkala dalam bentuk premi serta dipastikan meningkat setiap tahun, sejalan dengan pertambahan usia nasabah. Walaupun demikian, peningkatannya relatif kecil dan apabila dikombinasikan dengan investasi melalui reksadana maka hal ini sangat berpotensi untuk mempercepat nilai akumulasi investasi reksadana tersebut. Sebagai contoh seorang pria tidak merokok usia 39 tahun, uang pertanggungan Rp 1 Milyar, kisaran premi yang dibayar per tahun adalah Rp 3.5 juta hingga Rp 4 juta (hanya menabung sebesar Rp 292 ribu – Rp 334 ribu perbulan). Pada periode yang sama juga dilakukan investasi pada reksadana. Investasi dilakukan secara berkala (setiap bulan atau setiap tiga bulan) hingga target nilai uang di masa mendatang tercapai (lihat tabel 2).

Kebutuhan Keuangan (Financial Needs)

Dari contoh tabel diatas jelas terlihat asuransi unit Linked secara jangka panjang tidak menghasilkan pertumbuhan investasi yang optimal, proteksi atau uang pertanggungan juga tidak optimal, padahal kita harus sadari bahwa untuk menghitung besarnya uang pertanggungan, hendaknya kita mengerti akan nilai ekonomis pada diri kita dikombinasikan dengan tujuan keuangan dari diri kita misalnya kebutuhan proteksi dana pendidikan, proteksi atas penghasilan dll., lalu tentukan berapa besar nilai uang yang akan digantikan jika terjadi risiko kelak. Dalam menghitung jumlah investasi yang akan kita lakukan, hitunglah proyeksi target minimal nilai uang yang akan didapat sesuai kebutuhan keuangan kelak (future value) serta tentukan target return minimal yang akan didapat setiap tahunnya.

Membangun Bangsa

Mereka yang memiliki income dan masih diberikan anugerah kesehatan oleh Yang Maha Kuasa, asuransi dan investasi adalah suatu keharusan, apakah dengan unit linked ataupun dengan cara membeli asuransi dan reksadana secara terpisah. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Dengan demikian kita memberikan kontribusi dalam mempercepat proses pertumbuhan dan ketahanan ekonomi negara yang kita cintai bersama yaitu Indonesia Raya.

Ir. Taufik Gumulya, AFP.
Financial Planner pada TGRM Financial Planning Services.

 

Comments

Unit Link, tidak optimal

itaakbar's picture

Bro Gumulya

Saya ikut Unit Link Pembayaran berkala (2 kali bayar, thn 1 dan thn ke 2).  Awal maret 09 ini saya harus bayar lagi seperti tahun pertama (maret 08). Kalo Unit Link tidak memberikan hasil dan proteksi yang optimal, lalu saya harus bagaimana nih? Kalo ditutup nilai investasi malah udah tinggal setengahnya, belum nanti kena biaya lain-lain.  Maju kena, mundur kena nih. Tolong sarannya Bro gumulya. Trm kasih.

ita

Unit linked

tgumulya's picture

Hay Ita.., saran saya tanyakan ke agen asuransi anda seandainya polis menjadi 'laps' (krn tidak byr premi) nilai investasinya hilang atau tidak, seharusnya masih ada karena dana tersebut disimpan di reksadana yang terdaftar di bapepam tapi lain ceritannya kalau reksadana tsb tidak terdaftar di bapepam (ada beberapa unit linked yang mengelola reksadana tersendiri bukan reksadana KIK/Kontrak Investasi Kolektif), jika dana investasi masih tetap ada dan bisa diambil dikemudian hari (meskipun polis laps) maka ada baiknya untuk dipertimbangkan agar 'budget' UL anda dialihkan ke reksadana & asuransi secara terpisah, hitung uang pertanggungan anda yg layak dan sisanya tempatkan pada reksadana dengan bijak sesuai dengan profil anda. Ok sampai jumpa ya.. Planning well living well :)

Unit Link, tidak optimal

itaakbar's picture

Terima kasih Pak T. Gumulya atas jawabannya.  Saya akan tanya pada agen asuransinya.  Kalau tidak bisa dipisah asuransi & RD karena sudah kontrak, saya tetap harus bayar premi kedua. Tapi apa mungkin investasi bisa tergerus habis sehingga premi tidak tercover? dan saya harus bayar premi lagi? 

salam

ita

unit link tidak optimal

rdlshell's picture

Hai Ita

Salam kenal...atau kali udah kenal yah...coba deh kasi data yang lebih lengkap, spt usia, uang pertanggungan, masa pembayaran, premi dasar (berkala) berapa? top up berapa  besar? mungkin saya bisa bantu. Tapi kalau bayarnya cuma 2 kali sih memang agak susah, mungkin hanya mengcover beberapa tahun aja asuransinya (rasanya saya tau asuransi yang membolehkan hanya bayar 2 th)

Rina DL

Mohon Maaf Lahir Bathin

Sis Rina DL:UL tdk optimal

itaakbar's picture

Salam kenal dan trm ksh komentarnya.  Sy kontrak 03/03/08 byr 51jt, buat premi 11jt, invest 38jt, sisa 5% akuisisi, admin. Maret 09 sy hrs byr lg dengan nilai yg sama.  Manfaat UP 300jt, pnyakit kritis 200jt, rawat inap 500rb/hr, hsl invest. Kontrak pada usia 45th.

Awalnya sy mau beli reksadana tapi gak ngerti, kenal portal ini jg stelah kontrak. Ktemu temen (agen) katanya lbh aman UL, dpt perlindungan dan hsl invest. Terus tinggal duduk manis dirmh. Lht kondisi bursa skrg malah kecut, invest nyusut. Apa nanti malah sy hrs byr premi krn hsl invest ga nutupi premi?!  Bingung nih! Tnya agen ga bisa dipisah invest n assrnya. Tolong sarannya ya

Salam

ita

UL sis Ita

rdlshell's picture

Salam kenal sis Ita, kalau saya baca lagi tulisan sis, sepertinya ikut unitlink karena mau investasi yah? Boleh juga UL untuk belajar, skrg sis udah tau, makanya mau pindah kereksadana. UL nya masih mau digunakan untuk asuransi? kalau jawabnya ya, maka :

  1. untuk jatuh tempo maret, rubah pembayaran premi jadi bulanan saja. Jangan takut bayar lama, krn kebanyakan nasabah gk mau bayar lama, maka pembayaran jadi besar didepan. Contoh aja usia 36 th dengan premi 500/bulan, uang pertanggungan 400 juta, penyakit kritis sd 85 th, 25 juta, meninggal karena kecelakaan uang pertanggangunan 800 jt. membayar sampai usia produktif(55 th). Tentunya akan lebih berarti dengan 500/bulan bila terjadi sesuatu yang diterima oleh sis nilainya cukup berarti. Menurut saya uang 500/bln mungkin untuk sis habis untuk "ngopi2" aja.Harus diajukan sebulan sebelum jatuh tempo
  2. Menurut saya untuk rawat inap rumah sakit, lebih baik dibatalkan. Bila memang diperlukan cari asuransi kesehatan murni, karena manfaatnya jauh lebih banyak.
  3. Sisa uangnya silahkan di investasikan di Reksadana, sebaiknya dilakukan dengan strategi DCA. Saya juga blum lama kenal reksadana, awal saya gunakan strategi lumpsum, karena enggak mau pusing, tetapi ternyata hati enggak kuat, apalagi saya menyimpan dengan dana cukup besar (menurut ukuran saya). Sebagian yg terlanjur lumpsum saya biarkan, sekarang saya lakukan dengan DCA di 3 produk RD, setiap bulan saya lakukan sesuai dengan kebutuhan setelah dihitungkan untuk tujuan perencanaan keuangan.Bahkan saya juga mengalami penempatan yang salah2, skrg lagi deg2an nih, nunggu discretionary saya cair awal maret ini, mudah2an aja enggak ada yg buruk terjadi, krn wkt KDR kemaren sis Lilis kasi tau discretionary itu enggak terdaftar di bapepam.Sebelum beli RD tanya2 dulu disini, banyak ahlinya yg bisa kasi saran. Oh ya nyelip dulu dikit, kalo sis merasa disini banyak ilmu yg bisa ditimba, ikut saweran donk buat kelangsugan situs ini (maaf bro gebet, ikutan mensosialisasikan nih), coba buka http://portalreksadana.com/node/360, biar kita bisa tetap nimba ilmu n diskusi loh. Oh ya saya bukan foundernya, tapi bro autogebet sebagai founder, saya cuma ikut cuap2 aja atas kemauan sendiri  hehehhe.

Bila jawabannya tidak, ya berhentikan UL nya, semua investasi mengandung resiko kerugian, kalau diberhentikan berarti sis merealisasikan resiko..

Pilih yang mana? kalau saya pilih rubah ke pembayaran bulanan dan dapat 2 manfaat, asuransi plus investasi di Reksadana.Diportal ini ada juga My Plan supaya sis bisa tau berapa kebutuhan sis & berapa yang harus di investasikan di RD setiap bulannya.

 

Rina DL

Mohon Maaf Lahir Bathin

Sis Rina : Makasaih sarannya

itaakbar's picture

Sy dah niat mo ikut saweran spy portal ini tetep hidup. Insya Allah.  Sy cuma Ibu RT dgn 3 anak yg msh sklh.  Alm. Ayah sy ada meninggalkan wrsan, ya, dana itu yg skrg ke UL.  Maunya sih invest di RD murni.  Tapi ktemu temen agen, ya ceritanya jd lain deh.  Trm ksh sarannya Sis Rina.

salam

ita 

 

warisan

rdlshell's picture

Sis Ita

Wah kalau warisan harus di eman2 sis.... saya pikir sis kerja juga, jangan lupa, sebelum terjun ke Reksadana, tanya2 ama bro & sis disini yang jago2

Rina DL

Mohon Maaf Lahir Bathin

minta saran ttg asuransi pendidikan

adis's picture

Halo Mas..

agak2 menyimpang sedikit nih.. maaf ya.. saya baru aja gabung, dan lagi msh byk belajar soal investasi.

Saya baru aja ambil asuransi pendidikan di salah satu persh. asuransi, yg biaya perbulan nya 300 ribuan selama 17 th, setelah saya pikir2, kok mending saya invest di RDS aja ya? toh, uangnya nanti kan bisa buat biaya pendidikan, tp memang sih,tdk ada asuransi jiwa nya..cuma ya itu, dptnya sedikit sekali, tidak beda jauh dengan kalo kita nabung biasa, aku copy paste simulasi nya dibawah ya..

Menurut Mas, lebih baik saya berhentikan saja, wp sy sudah terlanjur bayar untuk masa premi 6 bulan? dan mending saya invest di RDS aja? minta tolong sarannya dong Mas Taufik, atau yg lainnya yg mungkin berkenan menjawab pertanyaan saya?

Program asuransi yang memberikan proteksi biaya pendidikan bagi putra-putri anda mulai dari Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi.

 DATA

 
 
 NAMA ORANG TUA
:
ANITA ( 35 Tahun )

 
 
 NAMA ANAK
:
DAMMAR
 

 
 
 MASA ASURANSI
:
17 Tahun
 

 
 
 UANG PERTANGGUNGAN
:
Rp. 30.000.000,-
 

 
 
 PREMI SEMESTER
:
Rp. 1.704.420,-
 

 
 
 CARA BAYAR
:
SEMESTER
 

 
 
 
 
 
 

 CARA PEMBAYARAN PREMI :: SILAHKAN PILIH

 
 
TRIWULAN
:
Rp. 868.920,-
 

 
 
SEMESTERAN
:
Rp. 1.704.420,-
 

 
 
TAHUNAN
:
Rp. 3.342.000,-
 

 
 
SEKALIGUS
:
Rp. 39.562.596,-
 

 
 
TUNGGAL
:
Rp. 35.778.000,-
 

 
 
 
 
 
 

 MANFAAT DAN KEUNTUNGAN YANG DAPAT DIPEROLEH

 

1.

Terlepas dari kondisi baik tertanggung hidup ataupun meninggal dunia dalam masa asuransi, dan aktif membayar premi, maka pemegang polis atau anak yang dibeasiswakan akan menerima Dana Kelangsungan Belajar (DKB) yaitu :

 
 

:: Usia 4 tahun ( TK )

Rp.

1.500.000,-

( 5% UP )

:: Usia 6 tahun ( SD )

Rp.

3.000.000,-

( 10% UP )

:: Usia 12 tahun ( SMP )

Rp.

6.000.000,-

( 20% UP )

:: Usia 15 tahun ( SMU )

Rp.

9.000.000,-

( 30% UP )

 
 
 

 
2.

Pada waktu kontrak asuransi berakhir, anak akan menerima :

 
 
:: Uang Pertanggungan
  Rp.
30.000.000,- (100% UP)
 

 
 
:: Beasiswa
  Rp.
12.000.000,- (40% UP)
 

 
 
 

 
3.
Jika Tertanggung meninggal dunia dalam masa asuransi, anak/ ahli waris akan menerima Rp.79.500.000,- sesuai jadwal yang telah ditentukan, yakni :

 
 

:: Uang santunan meninggal
  Rp.
30.000.000,-

:: DKB
  Rp.
19.500.000,- (point 1)

:: Uang Pertanggungan dan Beasiswa
  Rp.
49.500.000,- (point 2)

 
 

Selanjutnya premi gratis.

 
 

Best Regards,

Adis (www.adiseko.multiply.com)

 

sumbang saran asuransi pendidikan

rdlshell's picture

Halo Mba Anita

Kenalan dulu yah, saya kebetulan di asuransi juga. Bro2 jagoannya portalreksadana, punten.... saya permios dulu nih mo sumbang saran, mudah2an analisa & saran saya mendekati kebenaran terutama untuk investasi reksadananya, kalo ada yg kurang pas tolong koreksi.

Sepertinya yang mba ambil memang asuransi pendidikan (tradisional). seperti yang sudah mba baca-baca diportalreksadana, baiknya asuransi ambil asuransinya aja. kalo mau investasi untuk pendidikan ya direksadana.

Yang sekarang dibayar setahun 3,3jt. Misal 1,3 juta dipake buat bayar asuransi wholelife dg usia mba udah dapat UP 100 juta (jauh lebih besar dr pd yg 30 jt), dan bisa digunakan untuk DKB bila terjadi wafat ortunya. yang 2 juta di invest di reksadana, udah saya itung tuh invest tiap tahun 2 jt, hasilnya jauh lebih besar dari pada asuransi pendidikan. 

Sekedar ilustrasi aja dengan inflasi 10%, misal sekarang masuk

- Biaya masuk SD skrg 5 juta, 5 tahun lagi biaya  masuk SD kira2 8 juta.

- Biaya masuk Univ skrg 20 juta, 17 tahun lagi biayanya jadi 101 juta.

Bisa dibayangkan, berapa kurangnya kalo nanti mau masuk univ cuma dapet 30 juta, padahal kita berharap dana dari asuransi pendidikan bisa bantu, tapi kalo kurangnya banyak ya susah juga. Karena 30 juta 17 tahun lagi, nilainya sama dengan 6 juta sekarang.

Ini itung2an bila investasi dipisah, dengan invest setiap tahun 2jt, menurut itung2an saya dg asumsi hasil invest di reksadana rata2 30% (enggak yg muluk2). Asumsi anak usia 1 th, maka TK bisa diambil 5jt, SD 10jt, SMP 15jt, SMA 20Jt, universitas bisa 110 juta, pada wkt akhir investasi di akhir tahun ke 17 masih ada sisa hasil invest sekitar 190 juta. 

Kalo mau lebih tepat berapa keperluan dan brp yang harus di invest, harus dihitung lagi.

Sementara ini dulu sumbang sarannya.Nah mudah-mudahan aja ini bisa membantu.

Rina DL

Peserta CFP batch 3

hi mau donk di ilustrasiin

Anonymous's picture

bu,saya pengen di ilustrasiin donk soalnya saya lagi cari2 asuransi or reksadana yg tepat.btw ibu agen bukan ya??ko kayanya ngerti banget niy?aku lg cari asuransi or reksadana utk anak bontot ku. aku pria,usia 53 anak usia 1,5 tahun.
imel aku ya [dot] [dot] [dot] mizzytianaatyahoo [dot] com
di tunggu bgt ya..thx

Repot ? ... itu dulu kalo sekarang mach ostosmastis

Passion4U's picture

Yuppp...

cepek dech ane kasi nilai ...

Kalau kita murni memperhatikan hasil, berbagai studi sudah membuktikan bahwa memisahkan asuransi dan fungsi investasi dalam hal ini reksadana lebih menguntungkan ...

tapi kalo nggak mo ribet sich boleh aja pake unit link ... tapi udah tahu resikonya bahwa pertanggungan asuransi yang kita terima cenderung lebih kecil dan hasil juga tidak maksimal ... walaupun klaim nggak ribet pake unit link dibandingkan dengan YRT + reksadana saat ini sudah harus dipertanyakan lagi ...

jaman sekarang sich sebenarnya kita sudah sangat dimudahkan, kalo ane nich ...

  • Untuk insurance ane pake yang YRT, bayarnya nggak usah pusing didebet tiap tahun otomatis oleh credit card ane ... so no effort at all khan ... sama sekali nggak ribet ...
  • Untuk reksadana ... tiap bulan udah langsung dipotong dari tabungan ane terus masuk ke reksadana secara ostosmastis ... sama sekali nggak ribet ...
  • So tanpa ane melakukan apa-apa kegiatan investasi dan proteksi sudah berjalan secara ostosmastis hehehe .... Yang perlu ane lakukan sekarang hanya memaksimalkan keuntungan dengan swing-swing berdasarkan TA, urusan bayar membayar tiap bulan (atau istilahnya DCA, or kalo pake yang target return oriented namanya VA) mach semuanya ostosmastis   

Repot berinvestasi itu dulu ... kalo sekarang mach enggak tuch

Seorang Newbie - P a s s i o n 4 U

Don't walk in front of me, I may not follow. Don't walk behind me, I may not lead. Walk beside me and be my friend.

sumbang saran as.penddkan

Anonymous's picture

Hai mbak Rina, salam kenal juga ya..thanks udah reply pertnyaan aku.

o mbak kerja di asuransi ? aku di tawarin oleh tante nya suami , dan udah keburu ok in...dan dah byr, jd kyknya mending di stop aja ya premi nya, mumpung baru bayar sekali? terus, di invest di reksadana aja?
yg lain ada yg mau nambahin ga nih? thanks sebelumnya ya..

keputusan sumbang saran ass pendidikan lagi

rdlshell's picture

Hai mba

Iya saya diasuransi, nah kalo soal keputusan itu ada ditangan mba, tulisan passion4U bisa jadi bahan pertimbanganjuga.Kita tunggu aja sumbang saran dari yang lain

 

Rina DL

Peserta CFP batch 3

YRT + Reksadana vs Unit Link

Anonymous's picture

Menurut perhitungan beberapa ahli finansial, beli YRT + Reksadana terpisah lebih menguntungkan. Buat orang-orang yang mengerti finansial dan punya manajemen keuangan yang baik, pilihan tersebut lebih menarik daripada Unit Link.

Tapi bagi masyarakat awam yang tidak mengerti finansial (mungkin tidak mau repot), Unit Link lebih menarik daripada YRT + Reksadana. Menjelaskan asuransi jiwa aja sudah ribet, ditambah lagi kalau harus menjelaskan Reksadana.

Bagi masyarakat awam, Unit Link merupakan pilihan utama karena dianggap sebagai alternatif menabung. Intinya konsep Unit Link lebih gampang diterima masyarakat daripada konsep YRT + Reksadana. Dan dengan semakin banyak masyarakat kita yang ikut Unit Link, secara tidak langsung masyarakat juga jadi lebih banyak yang tertolong dengan asuransi jiwa dan investasi.

So...kesimpulannya, Windows XP lebih user friendly daripada Linux, maka dari itu kita harus sosialisasikan Windows XP agar makin banyak masyarakat Indonesia yang melek IT (apa hubungannya?).

Jika ditanya "Apakah asuransi Unit Linked merupakan solusi perencanaan keuangan Terbaik?"
Untuk kultur dan mindset masyarakat Indonesia pada umumnya, maka jawabannya : "IYA"

masih lebih untung asuransi unit link

renaisanto's picture

Terima kasih atas info ciamiknya tentang kelebihan dan kekurangan asuransi jenis unit link, very insightful, kebetulan saya memiliki asuransi pendidikan jenis ini sudah sekitar setahun belakangan. Setelah saya renungkan lebih jauh, seharusnya kita tidak begitu saja membandingkan asuransi unit link dengan asuransi konvensional + invest di reksadana, yang menurut saya kurang fair, melainkan asuransi unit link + invest di reksadana dengan asuransi konvensional + invest di reksadana.Asuransi unit link menawarkan keuntungan yang lebih dibandingkan asuransi jenis konvensial, dimana premi yang kita bayarkan secara rutin, (seharusnya) bisa berkembang lebih baik pada saat jatuh tempo dibandingkan pada jenis asuransi konvensial, jadi isu yang mengemuka disini adalah membandingkan antara memiliki asuransi unit link vs asuransi konvensional, dimana asuransi seharusnya sudah menjadi kewajiban untuk kita miliki pada jaman sekarang ini sebagai perencanaan keuangan masa depan keluarga. Sementara untuk berinvestasi secara smart, maka reksadana bisa menjadi salah satu piihan yang terbaik, selain sektor riil tentunya. Memang yang menjadi persoalan adalah apabila dana yang kita miliki setiap bulannya terbatas (maklum, masih orang gajian), dan harus dibagi-bagi antara pengeluaran rutin, konsumsi, tabungan dan mungkin sisanya baru diinvestasikan, haruskah dana investasi kita yang menurut istilah orang jawa  "mung-munge" itu dimasukkan melalui top up di asuransi unit link atau langsung ke reksadana? Menurut saya jawabannya adalah lebih tepat memilih berinvestasi reksadana langsung melalui manajer investasi ataupun bank agennya.Singkatnya, asuransi adalah wajib, untuk jenisnya bisa memilih unit link (bukan promosi nih yee). Sedangkan untuk investasi bisa kita alokasikan ke reksadana yang disesuaikan dengan banyak sedikitnya dana, profil resiko serta tingkat pengembalian yang kita inginkan. Cheers, 

mending termlife + reksadana

Anonymous's picture

dengan manfaat sama, membeli termlife jauh lebih murah daripada premi unitlink. nah sisa premi ini dimasukkan ke reksadana. inilah yang biasa disebut BTAID. hasilnya lebih menguntungkan dan mudah. saya pernah jadi nasabah unit link selama 3 tahun. setelah membaca artikel priyadi di priyadi.net, saya pake metode BTAID. unit link saya tutup. hasilnya lebih baik dan lebih mudah pengurusannya. top up reksadana tidak perlu bayar biaya lagi.

"Setelah saya renungkan

pekerjasdm's picture

"Setelah saya renungkan lebih jauh, seharusnya kita tidak begitu saja
membandingkan asuransi unit link dengan asuransi konvensional + invest
di reksadana, yang menurut saya kurang fair, melainkan asuransi unit
link + invest di reksadana dengan asuransi konvensional + invest di
reksadana."

Bro renaisanto sedikit meluruskan saja bahwa Unitlink = Asuransi + Investasi, dimana premi tahun pertama yang kita bayarkan itu dialokasikan biasanya 80% ke premi Asuransi dan 20%nya dimasukan dalam instrument investasi (biasanya masuk ke Reksadana), dan tahun2 selanjutnya sama seperti itu dengan besaran prosentase yang telah ditentukan hingga tahun ke 5 dan tahun ke 6 nya premi yang kita bayarkan dimasukan kedalam intrument investasi 100%. Jadi sejauh pemahaman saya, Unitlink didalamnya ada unsur investasi, kalau membandingkannya Unitlink + Investasi dengan Asuransi KOnvesional + Investasi jadi tidak apple to apple, sudah tentu Unitlink + Investasi Reksadana akan lebih menguntungkan, karena kalau diurai Untilink +Invetasi di Reksadana menjadi (Asuransi + Investasi) + Investasi di reksadana. Selain itu,menurut pemahaman saya, Unitlink bukanlah asuransi, namun sebuah produk yang menggabungkan unsur Asuransi dan unsur Invetasi didalamnya.

Tapi saya juga mengakui bahwa Unitlink menguntungkan dari sisi kemudahannya dalam melakukan investasi dimana nasabah tidak perlu pusing2 harus pilih reksadana apa yang akan dijadikan pilihan untuk investasi (one stop shopping, beli asuransi sekalian investasi). Tapi rasanya sayang deh..kalau kita memahami bagaimana cara investasi di reksadana sendiri, terlebih ada biaya2 yang "tersembunyi" dibalik investasi dalam unitlink (saya temukan ini saat membaca laporan Unitlink yang saya beli).

Biaya tersebut hingga mencapai 5% dari nilai investasi yang dibelikan ke unitlin, saya memahami biaya tersebut sebagai harga yang harus dibayar untuk kenyamanan yang kita peroleh atas ketidaktahuan kita bagaimana berinvest dalam reksadana (pengalaman pribadi, karena memang saat itu saya tidak paham reksadana itu ..binatang macam apa..?).

Satu hal yang membuat saya merasa Unitlink terasa kaku adalah ketika pasar sedang jauth kita tidak bisa keluar dari jenis investasi yang kita pilih di unitlink kecuali switching ke jenis investasi lain (reksanda pendapatan tetap misalnya), artinya kita tetap bersama-sama jatuh didalam pasar bersama Fund Manager dari Unitlink tsb. Nah...kalau dipisah..dimana asuransi konvensional + Investasi (dilakukan sendiri), maka saat pasar jatuh kita bisa keluar dulu dari pasar tsb sambil melihat kemungkinan pasar akan naik, dimana kita bisa ambil kesempatan untuk masuk lagi.

Nah.. ilmu ini lah yang sedang kita tunggu2 (Kursus Trading Reksadana) yang materinya sedang digodok sama bro Passion4U, apalagi tahun 2008 katanya gain rata2 FM diprediksikan hanya hingga 20% saja, jadi ada kemungkinan pasar akan mengalami naik turun yang tajam dan lebih sering, yang mungkin bisa dijadikan ber swing ria (tapi kita perlu bekal untuk itu), dan bisa menikmati gain yang lebih tinggi.

Sama dengan Bro Eagle, saya juga punya rencana untuk menjual kembali Unitlink saya di Bank X, karena ternyata setelah saya hitung...kok terlalu mahal saya membayar biaya investasinya dan UP yang keluarga saya dapat nikmakti jika terjadi resiko meninggal hanya 30jt saja dengan premi 3 jt / tahun, disisi lain saya dapatkan ilustrasi untuk asuransi jiwa traditional dari bank yang sama dengan premi 1,6 jt/tahun UP nya 500jt. Berarti dengan hitungan yang sederhana saya masih punya selisihnya untuk saya belikan asuransi kesehatan, kecelakaan dan investasi direksadana.

Bro Renaisanto, ini hanya sebuah sharing pengalaman dan pengetahuan saja dari saya yang masih newbie dan faktanya semua dikembalikan kepada masing-masing orang untuk memilih sesuai dengan profilenya.

Bro Autogebet, Apakabarnya Rencana Kursus Dasar Trading - Reksadananya....Ga sabar mau ikutan bro Passion4U untuk berswing-swingan nih...!!!

Pak Taufik Gumulya dan Para Kontributor, ditunggu postingan untuk topik-topik yang lainnya lagi ya...

Pekerja SDM

http://www.pekerjasdm.blogspot.com

KDR will be launch soon

Passion4U's picture

Bro pekerjasdm

Kursus Dasar Reksadana akan dilaksanakan segera ... materi bidang TA sudah saya submit ke bro eko dan bro autogebet .... tinggal final touch dan comment dari mereka aja ... Terus terang ane nggak bakat ngajar ... so perlu input dari banyak orang ... ane perlu input apa materinya kecetekan atau keberatan ... kalo kecetekan gampang tinggal kita tambah aja ... sampe mo agak muntah juga bisa ... yang susah kalo inputnya keberatan ... wah yang ini ane nyerah dech pusing nguranginnya lagi hehehe ...

Ane juga pengen ada 15 menit aja sesi memperkenalkan online trading saham ... biar kebuka matanya bahwa ada dunia lain di luar reksadana dan toolsnya sudah sangat mempermudah kita ... bandar itu sudah kelihatan kolornya ... hehehe ... tapi ini tergantung koneksi internetnya ... cukup mumpuni atau enggak ?

Materinya tentu masih jauh dari sempurna ... tapi, ane yakin semakin lama semakin sempurna kok materinya ...

So soon after bro autogebet & bro eko ngasi comment ... kita akan launch KDR, so benderanya sekarang di bro autogebet nich ... kalo ane khan ngurus materinya aja ... tetek bengek administrasi, tempat, internet connection, biaya, dsb ane serahkan ke bro autogebet aja ... hehehe

so bro autogebet gimana nech ... udah mulai banyak yang nanya KDR lagi nech ... hehehe

Seorang Newbie - P a s s i o n 4 U

Silahkan Memilih

eagle's picture

Membandingkan antara produk investasi plus asuransi dengan di gabung (unit link) atau dipisah (RD/Saham+asuransi konvensional) memang gampang2 susah.

Tapi buat saya, setelah saya hitung2 memang memang menguntungkan kalau kita ikut yang terpisah (reksadana dan asuransi jiwa konvensional)..dengan premi yang rendah, UPnya masih jauuuh lebih besar kalo dibandingkan dengan premi dan UP dari UL (di BumiPutera asuransi konvensional Mitra Sejati dengan premi U$ 33/tahun bisa dapat UP U$ 10000)

Yang dilihat oleh kita mungkin bahwa pada asuransi konvensional, karena premi yang dibayarkan akan hangus kalau pada masa pertanggungan "tidak terjadi apa2"..tapi harap diingat, hal ini juga berlaku kok buat UL. Baru pada tahun ke sekian (rata2 5 tahun) baru premi yang di bayarkan akan "full" diinvestkan.

Jika baru tahun ke 5 akan full diinvestkan, wah..bisa ketinggalan kereta return kita dengan mereka2 yg invest di RDS (mungkin ibarat yang satu pakai kereta Maglev, yang satu masih pake Argo Bromo) . Biaya premi yang "hilang" untuk proteksi jiwa dengan asuransi konvensional juga bisa di cover dengan return dari RDS tsb.

Saya sendiri setahun ini punya UL persh X, dengan premi pokok 2,5 juta/thn dan UPnya 25 Juta..top Up 3,5 juta/thn... saat saya mau close UL saya dan tanya nilai tunai UL tsb sepertinya kalau saya close cuma bisa kembali sekitar 60an%nya :(.

Satu lagi, mungkin bisa dicermati (silahkan dikoreksi kalau saya salah)...nilai unit UL itu masih bruto, artinya belum dipotong dengan biaya MI, biaya agen, pembelian dan mungkin penjualan dsb. sedangkan di NAB (namanya juga aktiva bersih) segala macam biaya2 dan pajak sudah dipotong duluan.

Dari rumor yang saya dengar, pengelolaan aset pada UL itu pasif tidak aktif seperti RDS yang lebih aktif utk swing..kalau pengelolaan aset itu pasif, berarti hampir sama persis dengan RD indeks yang biaya pengelolaanya cuma 0,6%, tapi dikenakan biaya 2%an seperti RDS yg aktif...

nah lhoooo....yang pasti saya mau tutup UL kepunyaan saya, nyesel juga..tapi itulah invest :(. Awalnya mmg sih, tapi setelah saya hitung lagi, nilai sisa dari UL yang saya masukkan "full" ke RDS dan di top up rutin dengan nilai yg sama saat top up ke UL akan bernilai sama setelah tahun ke 2 (karena saya pakai kereta Maglev itu tadi, he he he)

Silahkan memilih, kalau dirasa potongan biaya pada UL yg lebih besar itu sebanding dengan kemudahan2nya yang tinggal autodebet (bukan autogebet lho, he he he) dari bank tiap bulan -dgn tidak mau repot melotitin Dows, IHSG, transfer dan fax ke MI-..ya monggooo :)

 

Diatas thn ke 5 masih ada biaya

tgumulya's picture

Bro,

skedar nambahin aja.., UL diatas thn ke 5 masih ada biaya yakni biaya mortalita, berfungsi untuk melakukan proteksi atau uang pertanggungan, faktor usia, kelamin dan kebiasaan merokok atau tidak mempengaruhi kenaikan biaya ini.

Setelah premi dipotong, sisanya baru ditempatkan di porsi investasi..

Itulah sebabnya setelah nasabah melakukan cuti premi ada kemungkinan nilai investasi tidak mencukupi untuk membayar biaya mortalita tersebut (jika pertumbuhan investasi tidak baik alias rendah sekali atao sedang turun). Dalam kondisi seperti ini kemungkinan cuma 2:

1. Polis tutup (lapse);

2. Nasabah bayar premi lagi (tidak cuti premi), sehingga polis tetap aktif.

 BR,

Taufik Gumulya

Tanya tentang Asuransi Jiwa

am1nx's picture

mas taufik,

ulasan yang sangat menarik. jika mau masuk asuransi jiwa aja, 

kira2 ada tips gak asuransi jiwa jenis apa yang paling baik untuk 

di ambil?

Mohon pencerahan.

tks,

Rudi 

Asuransi Jiwa Tradisional Murni

tgumulya's picture

Bro..,

Kalo mau masuk asuransi jiwa saja silahkan ambil asuransi tradisional murni type YRT (Yearly Renewable Term) premi meningkat setiap tahun.., dengan demikian dalam waktu yg sama anda bisa mengambil juga reksadana untuk keperluan investasi anda..

Tapi kalo hanya murni asuransi (tanpa ingin beli RD) silahkan ambil type LT (level term) premi tetap untuk periode waktu tertentu, misal 5thn, 10thn, dst.

Saran saya anda harus melakukan investasi di RD (tahap awal) jadi yang paling tepat adalah asuransi type YRT.

Berikut ini adalah sebagian perusahaan yg menjual YRT (bukan promosi produk/perush tertentu ya..):

1. AJ Bumiputra;

2. Commonwealth life;

3. Manulife.

 BR,

Taufik Gumulya

YRT syariah

lilyardas01's picture

kalu asuransi term-life or YRT yang syariah tau gak ya pak kira2 apa? yang saya tau asuransi syariah takaful doang..

termlife or YRT

rdlshell's picture

Sis lily udah dapat jawabannya blum? 

Rina DL

FP

@SIS RINA

ma_kara's picture

halo sis rina... mohon pencerahannya neh soal asuransi

saya ingin mengambil asuransi murni untuk jiwa dan kesehatan, sekedar informasi saya dapat penggantian kesehatan dari kantor hanya 85% saya sudah nikah istri jg bekerja blm mempunyai anak(newlywed) kl istri dapat 100% penggantian dr kantor utk kesehatan. menurut pendapat sis pertimbangan apa yg harus kita pilih dengan banyaknya tawaran asuransi.... saya baca ilustrasi dari beberapa asuransi kok lbh rumit ya pengertiannya dibanding prospektus nya reksadana ....

 

ditunggu masukannya dan pencerahannya sis

 

thanx a lot

ma_kara

 

asuransi kesehatan & JIWA murni

rdlshell's picture

Bro Makara

Tadi sebenarnya saya udah nulis loh, tp ilang. Sekarang saya jawab lagi kayaknya gk selengkap tadi.

ASURANSI KESEHATAN

Menurut saya gk perlu nambah lagi untuk asuransi kesehatan. Rawat jalan diganti 85% berarti yang menjadi biaya Bro sendiri adalah 15%. Biasanya rawat jalan enggak terlalu mahal, dan bila menggunakan asuransipun ada limitnya. Yang penting bila harus dirawat di RS sudah ada penggantian penuh sesuai limit. mendingan dana untuk askes dipake buat paper asset.

 ASURANSI JIWA MURNI

Banyak yang berpendapat belilah TL atau YRT. Saya punya pendapat sendiri tentang ini. Bila membeli asuransi jiwa murni lebih baik ambil whole life, kalaupun bila kita sudah tidak produktif lagi UP dapat digunakan untuk finale expenses. Bila memilih TL or YRT, sebaiknya dipastikan bahwa setiap jatuh tempo tersedia uang untuk membayar premi. Pengalaman saya, orang kayapun, pernah satu waktu mengalami kesulitan keuangan, sehingga ketika jatuh tempo belum bisa membayar. Bila melewati grace periode maka bila terjadi klaim, tidak dapat dibayarkan.

 

 

 

 

 

Rina DL

FP

@SIS RINA

ma_kara's picture

sis thanx ya pencerahannya...

boleh gak dijelasin singkatan2 yg sis tulis seperti YRT, TL itu apa ya pengertiannya....

 

 

thanx sis

ma_kara

 

TL & YRT

rdlshell's picture

TL = termlife dan YRT = yearly renewable term. Artikel lengkapnya ada di  http://www.portalreksadana.com/node/121 yang ditulis oleh T.Gumulya pada sub judul Asuransi Tradisional dan Reksadana

Rina DL

FP

Asuransi Traditional Untuk umur 45 tahun

pekerjasdm's picture

Pak Taufik,
Saya dapat respon dari Agen Allianz yang memang memilki pemahaman sama bahwa pemisahan Asuransi + Reksadana lebih menguntungkan dibandingkan Unitlink, namun menurut ybs kita tetap perlu mempertimbangkan hal dibawah ini :

  1. Bila usia peserta sudah diatas 45thn bisa dipertimbangkan beli Unit Link, karena kalau beli Asuransi secara terpisah biasanya preminya mahal dan seleksi kesehatan sangat ketat.
  2. Bila usia peserta sekitar 30-an tahun lebih baik beli proteksi/asuransi secara terpisah dan ambil raider2nya seperti Critical illness.

Pertanyaa saya :

  1. Apakah setelah usia 45 tahun masih lebih menguntungkan mengambil unitlink.., dengan mempertimbangakan hal diatas..?
  2. Jika lebih menguntungkan Unitlink, sampai batas umur maksimal berapa pemisahan asuransi + invetasi kita bisa lakukan.

Teirmakasih

Pekerja SDM

 

Teriima kasii

Anonymous's picture

Wualah mantep tenan infonya.., aku jadi ngerti..

Terima kasih buanyak ya atas bagi-bagi ilmunya:-)

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.