Mana yang Lebih Menguntungkan dalam Jangka Panjang?

Tue, 04/22/2008 - 06:13
jahjasmith's picture

Dear Friends,

Saya saat ini sudah melakukan investasi melalui reksadana saham kurang
lebih 10 tahun dan saat ini saya juga bertransaksi saham (trading), mohon
masukan dari teman-teman seandainya saya akan terus secara konsisten
berinvestai untuk jangka panjang manakah yang menguntungkan dengan membagi dua hal :
1. Berinvestasi pada saham dengan melakukan trading dan
2.Beinvestasi reksadana saham dengan durasi yang panjang secara konsisten
setiap buan sampai pensiun atau
a. trading saham dan
b. berinvestasi saham blue chip secara rutin dan ditahan sampai pensiun.
Manakah yang yang kira-kira akan menghasilkan return yang maksimal
diantara point 1 dan 2 atau strategi a dan b

Thank atas masukannya
Jahjasmith

 

Comments

WOW!!

Anonymous's picture

Pak Jahja...
Saluuutt!!!, belum pernah saya bertemu dgn orang yg punya reksadana sedemikian lama...pastilah Pak jahja sudah berpengalaman memanage emosi ketika terjadi bearish2 besar sepanjang 10 tahun tsb :). Ah andai saja waktu masih kul dulu berani masuk RDS, sekarang bisa sudah 10 tahun (andai saja :( )
Kalau saya pingin share (sekedar share)...
1. Berinvestasi jangka panjang di saham tidak disarankan memakai trading..Waren Buffett, lewat buku yg di tulis Rober Heller memberi contoh ilustrasi kalau kita invest di saham selama 20 tahun dengan metode trading dan invest hasilnya jauuh berbeda (hal .33)... salah satu keunggulan invest dalam jangka waktu lama adalah kemampuan bunga-berbunga (compound interest) tanpa ada biaya kelolaan (beda dgn RDS).
Tapi beda lagi kalau misal anggaran kita bagi dua 60% buat invest, yg 40% buat trading, keuntungan trading kita re-investkan lagi ke yg 60% itu tadi (dgn mencari titik rendah untuk masuk)

2. Berinvestasi di Reksadana Saham memiliki kelebihan dan kekurangan jika dibandingkan dengan berinvestasi di saham langsung.
- Kelebihannya RDS : resiko lebih kecil, tidak perlu susah2 memonitoring pasar dan mengatur komposisi portofolio (sudah dilakukan MI), hanya perlu melihat kinerja MI dan kinerja RDS dalam jangka waktu tertentu
- Kekurangan RDS : biaya2 yg relatif tinggi yang dikenakan pada RDS (fee pembelian, MI, Bank Kustodian), dan juga jika MInya kurang perform

- Kelebihan invest di saham : potensi mendapat gain dari capital market bisa jauh lebih besar (contoh, PT PGN, 4 tahun lalu masih 1500 sekarang sudah hampir 15000, BUMI yang 3 tahun lalu masih di bawah 1000 sekarang sudah di posisi 6000an), biaya yang rendah (dikenakan fee pembelian 0,25%... pajak hanya dikenakan ketika kita menjual+fee jual 0,35%)
- Kekurangan invest di saham : potensi lost nya juga besar (apalagi kalau invest saham di fundamental yg lemah dan kapitalisasi pasarnya no 2 atau bahkan 3), harus mengerti kondisi fundamental emiten (lap keuangan, sisi bisnis dsb), memonitoring kinerja bisnis emiten dsb

Kalau saya pribadi prefer untuk mulai invest saham (meskipun saya sendiri masih pegang RDS, RDI dan RD Syariah) ke perusahaan yang kondisi fundamentalnya bagus, lap keuangan yg jempolan, manajemen yg kuat, penguasaan pasar yang mantab (kalau bisa tidak punya pesaing)..dan juga yg penting, dapat di prediksi apakah perusahaan ini masih akan ada 10, 20 atau bahkan 50 tahun mendatang...

just my view :)

Salam Investasi
Tukul - (maap, lagi gak bisa login)

if I were you ..

Agus Mulia's picture

+ If I were you bro jahjasmith, I'd rather have to joint DISCRE or even HEDGE FUND community.

+ Karena setelah 7 thn ( 00 s/d 07 ) at least modal kita sudah berlipat 6 x. Jika dimulai dgn  200 jt saja sdh dpt 1,2 M, artinya sudah punya visa masuk RD closed end seperti ETF ( ada temen tuh bro sayogo yg lagi cari visa ke ETF ) - discretionary - hedge fund ( HF ). Karena secara stereotype versi buku RD Nofie Iman yg baru direleased, RD open end hanya untuk klas investor s/d 100 jt ( siapa tdk setuju angkat tangan ) - discre untuk klas s/d 1 M & HF untuk klas > 1 M. Katanya discre & HF lagi ngetrend lho, apalagi tdk menggunakan acuan index saham lagi tapi LIBOR + menjanjikan alpha .

Saya angkat tangan deh... :-)

anakbali's picture

Saya angkat tangan deh tentang RD open end untuk investor 'kecil'. (Tapi maaf saya belum baca bukunya Nofie Iman jadi nda bisa ngomentarin isi buku itu). Nah, alasan menurut pengetahuan saya (CMIIW, please) :

Antara RD open end, Discretionary fund, Hedge Fund itu punya kecenderungan perbedaan dalam hal 'teknis' pengelolaan dananya, serta ada kecenderungan 2 yg belakangan (DF & HF) cenderung lebih 'risky' sambil mengejar return yg lebih besar (hukum risk & return), tanpa memandang besarnya dana yg diinvestasikan (walau yg dua belakangan modal masuknya jauh lebih gede daripada RD).

Saya (menduga) terjadi pengkategorian seperti itu adalah karena seseorang 'cenderung' menjadi lebih mentolerir resiko seiring dengan lamanya dia berinvestasi (dengan asumsi semakin lama berinvestasi maka modalnya tambah gede juga). Selain tentunya kadang ada unsur 'greed' dalam keinginan mencari return yg lebih besar lagi.

Hal yang perlu diwaspadai dalam kondisi diatas adalah justru saat modal kita lebih besarlah sebenarnya kita perlu lebih waspada dalam melindungi modal tersebut, hal inilah yang membuat saya pribadi tidak (atau belum? :p ) membayangkan diri suatu hari nanti akan berpindah ke lain instrumen yang relatif lebih risky daripada reksadana saham. Mudah2an disini sudah ada bro2 lain yg sudah invest di DF atau HF yang bisa berbagi pengalamannya?

Untuk bro jahja ane ingin nanya sesuatu nih, kalo boleh tahu (dalam rangka mempelajari mentalitas investor senior, hehehe) pekerjaan utama bro di bidang apa ya? trus saat ini return dari investasi apakah sudah lebih besar daripada pekerjaan utama (saya nanya angka lhoo...)? Thx.

 

To Live. To Love. To Learn. To Leave a Legacy. - Stephen Covey

anak Bali

Agus Mulia's picture

Bro anak Bali ( wah libur2 begini enak juga jika bisa ke Bali )

Bro,sterotype itu kalau yg saya pahami adalah pengertian bagi smart investor yg baru mulai berinvestasi - karena sadar ilmunya msh terbatas ( investasi perlu pengetahuan,kalau tdk jadi spekulasi ),mk mulai di RD/obligasi sebagai next step setelah deposan. Karena baru mulai investasi, mustahil start dgn dana 1 milyar-logis kan ?

Bro,bukunya Nofie Iman bagus bagi pemula-selain mudah dicerna,penulis punya pendidikan finance sekaligus praktisi investasi. Sayang buku itu kurang menitikberatkan aspek empiris, meskipun juga tdk berkutat teori melulu - pd hal contoh akan lebih mudah dimengerti disamping juga suatu pembuktian. Jadi akan lebih meyakinkan.

Bro,soal toleransi thd risiko bagi investor senior - mungkin lebih berarti ybs sdh lebih tahu risiko ( apakah dgn reduce bagi fundamental atau control bagi trader ), hingga berani masuk ke saham misalnya.Kenapa kita berani naik pesawat ke Bali-bukankah lebih aman naik KA ? Ya karena kita tahu untuk boleh terbang pilot hrs lewat SOP yg ruwet tapi menjanjikan safety - meskipun tdk ada toleransi thd small error. Bro, pindah investasi adalah natural -bukan tamak- krn target & kriterianya sdh di-update. Sebagian besar pemain saham adalah alumni pemain RD,itulah sistimatikanya. Dan saya yakin sebagian besar senior RD disini juga sdh merangkap pemain saham - mungkin option ( makanya opini mereka  sering bikin bingung pemula RD - sebab disangka masih serupa - pd hal tidak ). Diversifikasi ? Mungkin, padahal diversifikasi dianggap salah satu dosa investor kata bukunya Mark Tier " The winning investment habits of Warren Buffett & George Soros ". Diversification is for the birds. Lho ?

Bro,soal proporsi pendapatan & investasi yg penting untuk bisa makmur - kita harus berani menabung + investasi > dari jumlah yg dibelanjakan serta + menunda konsumsi ( nah bagi yg muda ini tdk menarik ) Ini salah satu esensi yg bisa dipetik dari buku "Secrets of Successful Investors " by Adam Khoo, selain urgensinya motivasi kuat & pengetahuan memadai - contoh soal faktual seorang praktisi.

Jawaban untuk Bro anak Bali

jahjasmith's picture

Saya saat ini bekerja sebagai employee di perusahaan insurance broker (untuk general insurance (asuransi kerugian) saya sudah bekerja sejak tahun 1995 di insurance industri.

Saat ini kalau ditanya return baik dari reksadana maupun saham, paling tidak cukup lumayanlah untuk mendukung tujuan investasi dan pendapatan kita.

Karena beberapa tahun lalu saya pernah "realized gain" untuk biaya pernikahan dan DP serta pelunasan sebagian cicilan KPR untuk memperpendek jangka waktu cicilan seiring dengan adanya kecenderungan naiknya suku bunga.

Yang penting di sini bukan seberapa besar jumlah dana kita, namun terlebih penting adalah kedisiplinan kita dalam mengakumulasikan sebagian dari income untuk investasi walaupun keadaan market kurang bersahabat. Dan tantangan buat kita adalah bagaimana terus meningkatkan persentase dari income yang diinvestasikan seiring dengan naiknya income kita.

Karena sering kali kita tidak konsisten dengan adanya kenaikkan income tetapi justru hal-hal yang bersifat konsumsi yangbertambah bukan hal-hal yang bersifat investasi

Bahkan dalam waktu dekat ini saya baru berpikir untuk mengalihkan 75% portfolio saya dari Reksadana ke Saham (tentunya untuk waktu yang long terms ( dalam sector pertambangan, perkebunan dan minyak) dan sebagian mungkin akan didiversifikasikan dengan investasi ke logam mulia (emas), mengingat tingginya inflasi saat ini.

Apakah ada saran dari rekan-rekan tentang pemikiaran saya ini.

Salam investasi

 

 

Jahjasmith

 

 

 

Interesting...

anakbali's picture

Saya sangat setuju dengan bro jahja bahwa seringkali kita secara 'tidak sengaja' menambah sisi konsumsi dalam pengeluaran kita. Tapi menurut saya tepatnya bukan 'menambah' persentase dari income yang perlu dilakukan, tetapi kepatuhan terhadap persentase yang sudah tetap/fixed (karena income naik maka jumlahnya ikut naik). Saya contohkan dengan paham 60-40 yang saya sukai (ada banyak sekali teori dan tehnik budgeting, tapi ini favorit saya) :

60% adalah batas semua pengeluaran esensial yang kita perlukan, termasuk didalamnya adalah keperluan makanan dan pakaian dasar (bukan baju bermerek yang sedang diskon sepanjang tahun :p), pengeluaran rumah tangga esensial, tagihan2 (listrik, telpon, cicilan, dll), pajak, dan sejenisnya.

40% dibagi lagi menjadi masing2 10% yaitu :

  1. Simpanan dana pensiun --> dana ini benar2 tidak bisa disentuh, harus dianggap uang hilang, APAPUN yang terjadi...
  2. Investasi jangka panjang --> sebenarnya bisa digunakan untuk apa saja yang memerlukan perhitungan dan pertimbangan matang, sekaligus bersifat sebagai dana darurat...
  3. Investasi jangka pendek --> untuk semua pengeluaran tidak teratur seperti liburan, 'mainan' baru, perbaikan(mobil/rumah), dsb yang setiap tahun biasanya selalu dihabiskan.
  4. Uang senang2 --> bisa dibelanjakan apa saja, seperti bioskop dll selama tidak lebih dari 10% dalam sebulan

Jadi kalau ditotal-total, cukup 30% saja yang disisihkan untuk investasi, selebihnya kita gunakan untuk keperluan sehari-hari sesuai dengan kemampuan kita. Takutnya kalau investasi terlalu banyak, malah standar hidup kita nanti jadi terganggu/kurang optimal lah.. Tapi maksud saya uangnya dipakai bukan cuman untuk gaya2an lho, bisa juga untuk berderma, dsb...

Btw, bro jahja rencana ngelunasin KPR lebih cepat ya? kenapa? apakah bunga bank lebih besar daripada persentase return dari investasi bro jahja?

Saya nanya karena saat ini saya termasuk penganut bahwa KPR itu adalah termasuk 'good debt' (tentunya kalu kita meminjam dgn bunga kompetitif) yang tidak perlu buru2 dilunasin. Kenapa? karena seringkali rumah adalah ekuitas terbesar yang dimiliki seseorang, anggap saja kalau sudah lunas, bisa diumpamakan kita menanam duit tersebut di tanah dan dinding rumah kita tanpa bisa diapa2kan. Sedangkan kalau kita 'pinjam', ibaratnya uangnya itu masih kita pegang dan menjadi lebih bermanfaat kalau diinvestasikan. Oleh karena itulah di luar negeri sangat lazim orang pake KPR/mortgage 15-30 tahun (sepanjang usia masa kerja produktif), mengingat kelebihan penghasilan tersebut akan lebih bermanfaat kalau diinvestasikan (investasi yg diatas inflasi tentunya). Bagaimana pendapat bro jahja?

 

To Live. To Love. To Learn. To Leave a Legacy. - Stephen Covey

KPR

Anonymous's picture

Karena jumlahnya sudah sedikit, jadi lebih efektive bila dilunasi, sehingga budget KPR dapat dialihkan lagi ke porsi investasi, sambil menunggu perkembangan juga untuk mengantisipasi bila terjadi kenaikan bunga KPR dengan kondisi inflasi saat ini

Regards

Jahjasmith

anak Bali 2

Agus Mulia's picture

Bro anakbali numpang komentar soal KPR

Bro ,KPR menjadi good debt krn investasi diproperty terkenal tahan banting & harga tanah / rumah itu hanya kenal bullish & tidak naik turun seperti index IHSG. Saya sendiri melunasi KPR di 1997,bukan banyak duit-cuma ingin ganti HGB jadi hak milik-kebetulan sisanya tinggal sedikit & kuatir dampak resesi ( benar saja banknya dilikuidasi ). Investasi property memang menjanjikan,bahwa tdk selikuid RD ada benarnya.Dalam kasus yg dialami,dlm waktu 10th laku dijual 10xlipat ( masuk kwadran 5 dimatrix RD ) & bisa sebagai tambahan beli baru diarea lebih nyaman ( ini soal quality of life bukan greedy lho - nah yg terakhir inipun nilainya sdh naik 2x ).Begitu juga kebun yg dibeli 1996 setelah jalan depannya diaspal + sertifikat HM, nilai pasarnya meningkat 4xlipat.

Kuncinya adalah dua,kesatu lokasi-kedua dana. Ini adalah lahan investasi impian,jika investasi perantara di RD / saham mencapai target - alangkah enaknya berinvestasi tanpa kekuatiran,kecuali menjanjikan. 

Hedge fund ini menarik juga

dunkz's picture

Hedge fund ini menarik juga walaupun risikonya juga cukup besar. Setahu saya, salah satu perbedaan dengan reksadana adalah uang fund managernya juga masuk ke dalam hedge fund sehingga fund manager dan investor memiliki kepentingan yang sama.

di gabung saja pak sambil dilihat performanya....

a_sihabudin's picture

kalau sudah terbiasa dengan reksadana dan saham langsung, keduanya bisa tetap jalan.

kombinasi yg mungkin adalah:

1. tetap inves di reksadana

2. tetap invess di saham langsung dengan membuat portofolio Anda sendiri. saham mana yg mau dipilih terserah Anda. mau blue chip, etc.

dalam kurun waktu tertentu (satu atau dua tahun atau lebih atau kurang) dilihat performa reksadana Anda dan invess langsung di saham. kalau keduanya sama, terus saja, kalau salah satu lebih kecil performanya, kurangi saja bobot investasi Anda di situ dan taruh di tempat yg lain.

contoh: setelah 2 th reksadana Anda tumbuh lebih baik dari pada invess langsung maka kurangi saja invess langsung dan taruh di reksadana

mungkin ini kompromi yg baik.....

just my feeling

Sharing Pengalaman

jahjasmith's picture

Dear Friends,

Mungkin saya ralat sedikit, tepatnya saya berinvestasi kira-kira awal tahun 1999 or 2000, saat itu memang reksadana belum sepopuler sekarang ini, sehingga samapai sekarang ada beberapa reksadana yang saya inves langsung ke MI tanpa melalui agen penjual (bank), karena awalnya kita dapat langsung invest ke mereka, baru akhir-akhir ini mereka menjual produk investasi mereka melalui bank.

Awal mulanya sich bermula dari  keingin tahuan dari saya untuk main saham, namunkarena saat itu belum punya cukup uang untuk bermain saham, akhirnya baca-baca dan secara tidak sengaja ketemu dengan produk yang namanya reksadana.

Pada awalnya saya mencari produk reksadana pasar uang, saat itu ada beberapa MI yang saat menerangkan prosedur pembukaan dan penambahannya agak ribet, akhirnya saya menemukan MI yang cocok dan prosedurnya tidak ribet dan awalnya masuk di reksadana pasar uang.

Semakin, berjalannya waktu dengan memperhatikan return saat itu saya berpikir untuk mendiversifikasikan produk reksadana yang saya beli.

Saya berpikir secara praktis saja, bahwa dana darurat (cadangan sebesar 3bulan pengeluaran) saya simpan di reksadana pasar uang) yang relatif likuid dan resikonya sangat minim.

Seiring dengan waktu saya mulai mengenal reksadana pendapatan tetap dan reksadana campuran. Walaupun awalnya agak takut karena saat itu banyak obligasi corporat yang default (gagal bayar).

Sampai semakin mengerti karakteristik dan jenis reksadana yang ada akhirnya masuk juga ke reksadana saham.

Dari pengalaman tersebut, saya  akhirnya  dapat menilai MI mana yang cukup jago dalam pasar uang, fixed income dan saham.

Saya juga sempat mengalami masa-masa tragedi WTC, bom bali dan situasi yang  tidak kondusif.  Dimana IHSG rontok, namun dari situlah kita dapat menilai MI yang cukup tangguh, rata-rata mereka butuh waktu 3 bulan untuk recovery kembali ke NAB sebelumnya.

Saya juga sempat investasi di reksadana pendapatan tetap yang telah berumur 5 tahun, karena alasan perpajakan pihak MI menyarankan untuk redem atau mempertahankan dengan dikenakan pajak, akhirnya saya memilih switching ke Reksadana Saham.

 

Akhirnya dalam tahun-tahun tersebut saya juga belajar berinvestai di saham.

Yang perlu saya tekankan buat teman-teman adalah beberapa hal sebagai berikut:

Kita harus mengerti tipe apakah diri kita dalam berinvestasi,  kita harus menetapkan horizon waktu sesuai dengan tujuan investasi kita.

Yang penting pilih MI yang cukup handal dan tetap tenang ketika harga NAB turun.

Mengenai metode investasi terserah dari diri masing-masing, kalau waktu itu saya ada yang sekaligus dan dilihat secara periodik, ataupun secara averagingcost dengan rutin setiap periode tertentu tanpa melihat NAB naik ataupun turun.

Demikian yang dapat saya share kepada rekan-rekan sekalian, saya tetap mengharapkan masukan apabila ada hal-hal yang masih perlu diperbaiki, mengingat saat itu saya mengenal reksadana dan saham belajar secara otodidak dari buku dan literatur yang ada

Regards

 

Jahjasmith 

 

 

 

 

 

@ pak jahjasmith

abucyber's picture

ehm,,,

mengingat pengalaman pak jahja, boleh gak pak kalo pak smith bagi-bagi tips buat kita-kita yang masih mahasiswa alias anak muda 20tahunan?

mudah-mudahan pengalaman dan pengetahuan bapak bisa jadi tambahan buat kita. ayo kita berlomba untuk jadi pemecah kebekuan pengetahuan pemuda mengenai investasi dan masa depan. agak miris juga nglihat kondisi pemuda kita saat ini. seharusnya pemuda lah yang menjadi agen perubahan, bukan sasaran perubahan.

terus kalo boleh kasih saran di bikin berseri aja gimana pak? kayaknya lebih seru deh. soal urutan seri nya, terserah bapak aja deh. gimana pak?

bro gebet, gimana kalo tulisan-tulisan pak jahjasmith kita bikin artikel sendiri tentang pengalaman, pengetahuan dan tips dari beliau? kayaknya makin rame ni portal. udah kaya TA, ditambah FA, eh plus pengelolaan mental di lapangan.

. : otista-mangkang : .

RD Senior

Agus Mulia's picture

+ Bung Autogebet, bgmn jika kita daulat Bung jahjasmith ini menuliskan pengalaman praktisinya yg sudah berinvestasi selama 10 tahun di RD di portal kita ? Soalnya ini hampir seumur RD ( 1997 ) itu sendiri - suatu durasi waktu yg cukup panjang - jangan2 beliau ini sudah salah satu milioneir kita. Dalam rentang waktu itu pasti banyak pengalaman praktis yg bisa dibagikan & akan menjadi pelajaran mahal bagi kita semua. Setuju ?

Setuju banget

salimbanget's picture

Setuju banget tuh ide agar oom Jahja jadi "dosen terbang" portal Reksadana ini.

Apalagi saya nih "baru lahir" atau newbie yg pengen ikut berkecimpung di dunia investasi ReksaDana.

Oom Jahja, please.. don't be hesitate ya....

 

Salim

di Nias Island

Sama-sama belajar

jahjasmith's picture

Thanks Pak, kita sama-sama belajar koq pak

Dan di portal ini saya kira banyak jawara yang udah lebih jago dalam sisi tehnical dan jago dalam menyusun strategi investasi di Reksadana

 

Regards

 

 

Jahjasmith

RD Senior - bro jahjasmith

kosegu's picture

Hehehe.. Bisaan aja bro Agus Mulia. Ane juga setuju.. Ayo bro jahjasmith share dong ilmu dan pengalamannya di portal ini, biar tambah melek kita2 ini mengenai dunia investasi terutama tentang RD & Saham :)

 

bung jahjasmith sudah dikontak...

autogebet's picture

bung Jahjasmith ini sdh sy kontak via imel langsung, mari kita nantikan tanggapannya :)

Setuju Pak Jahjasmith

Risyadmum's picture

Setujuuuu!

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.