Sepeda Sehat

Syndicate content
Updated: 7 hours 56 min ago

Pengalaman Gowes Audax Purwokerto 2018 - Part 1

Thu, 03/08/2018 - 07:59

Sudah setahun lebih ngga nulis dan sekalinya nulis beda banget topiknya sama tulisan sebelumnya. Yaps! Kali ini aku akan cerita tentang pengalaman mengikuti event gowes Audax di Purwokerto. Untuk temen-temen yang udah follow-followan sama aku di IG, pasti udah pada tahu dong kalau setahun terakhir ini aku hobi banget sama yang namanya sepedahan. Nah, makanya aku pengen cerita sedikit soal hobiku ini.

Audax Randonneurs adalah sebuah event bersepeda jarak jauh dengan batas waktu tertentu. Yang membuat Audax berbeda dengan event lain adalah di event ini, peserta harus mandiri alias tidak ada support. Tidak ada support itu artinya tidak ada yang menyediakan logistik di cek poin, tidak ada mekanik yang akan membantu jika sepeda bermasalah, tidak ada petugas yang menutup jalan ataupun menunjukkan jalan, dan tidak ada tim evakuasi jika dirasa tidak bisa melanjutkan perjalanan lagi. Eh? Ga ada fasilitas? Aneh ngga sih? Sudah bayar sejumlah uang (start from IDR 400k) kok ga dapat fasilitas. Hehehe.. Ya itu lah yang bikin serunya Audax. Sebuah kepuasan diri untuk bisa menyelesaikan trip tanpa support dengan waktu terbatas. Tidak hanya mengandalkan ketangguhan saat bersepeda saja, tapi juga bagaimana mempersiapkan sebuah perjalanan dan mengelola fisik dan mental sebelum hingga saat perjalanan. Para finisher Audax akan mendapatkan brevet dan pengakuan bahwa mereka sudah “lulus” dari organisasi induknya Audax di Perancis, Audax Club Parisien, jika mengikuti dan bisa menyelesaikan jarak minimal 200 km. Di Indonesia sendiri, Audax masih pada tahap sosialisasi. Untuk itu, ada satu kategori Audax yang dikenal dengan nama Popular Audax dengan jarak 100 km. Karena sifatnya yang lebih untuk pengenalan, tentu saja finisher kategori ini tidak tercatat di Audax Club Parisien sono.

Trus Dipsi ikut yang mana? Ya tentu saja yang 100 km (kok malah macak bangga =_=) . Lebih tepatnya peserta penggembira (pukpuk myself :D). Meski hanya peserta penggembira a.k.a pupuk bawang, namun bukan berarti aku bisa menyepelekan persiapan lho.. Tetap saja semua harus dipersiapkan dengan baik. Apalagi rute kali ini asing untukku. Jadi apa saja yang harus disiapkan? Let’s check this out..

1. Persiapan rute

Sebelum mengikuti event gowes, sebaiknya pelajari dulu rute yang akan dilalui. Berapa jauh jaraknya, seperti apa elevasinya, seperti apa kondisi jalanannya, dll. Biasanya beberapa hari sebelum hari H (atau malah sejak awal) panitia akan mengumumkan rute yang akan dilalui. Biasanya aku akan melihat melalui Google Map untuk gambaran umumnya. Apakah akan melewati pegunungan, pantai, perkotaan, atau yang lain.

Selanjutnya adalah melihat elevasinya. Dulu para coach di gtGowes (klub hobi sepeda Gamatechno) pernah mengajarkan cara menganalisis rute menggunakan Google Earth dan Strava. Naah, karena penjelasannya masuk kuping kiri keluar kuping kanan, aku sampai sekarang masih tidak tahu caranya (Maafkan downline yang tidak berguna ini). Tapi jangan khawatir, karena para coach juga ikut event ini, mereka yang akan melakukan analisis rute. Kita bisa nebeng saja. Dan tentu saja sesuai perkiraan, beberapa saat setelah rute diumumkan, coach Nugie sudah mengirim potongan gambar elevasi rute yang akan dilalui beserta penjelasannya di WA group kami.

Dari gambar tersebut dapat kita lihat kalau kebanyakan jalan datar. Tantangan yang harus dihadapi adalah setelah cek poin 1. Kenapa? Karena tanjakan dimulai di 30% akhir perjalanan, yang mana tenaga sudah mulai habis dan matahari mulai terik. Kemudian, seberapa berat tanjakannya? Aku akan membandingkan elevasi berikut jarak dengan segmen yang pernah kulalui di Strava. Untuk tanjakan mBuntu, aku membandingkannya dengan trip ke jembatan Kali Boyong.

Setelah memastikan aku bisa melalui rute yang mirip, maka untuk selanjutnya aku tinggal mempersiapkan fisik, mental dan sepedaku.

2. Yang kedua adalah persiapan fisik.

Mempersiapkan fisik untuk gowes jarak jauh tidak bisa hanya dilakukan semalam sebelumnya. Ada baiknya persiapan sudah dilakukan 1 minggu sebelumnya dengan menjaga kesehatan, cukup tidur, dan cukup nutrisi. Sebaiknya juga melakukan latihan sebelum hari H, dengan menyesuaikan kondisi fisik masing-masing. Aku sendiri memilih untuk latihan 2x pada seminggu terakhir, yaitu hari Minggu trip ke Pakem, hari Rabu ke UII, dan Jumat lari sekitar 2-3 km untuk event hari Sabtu. Aku memilih untuk tidak simulasi trip dengan jarak yang sama karena pada waktu-waktu tersebut pekerjaan kantor cukup padat dan aku seringkali demam dan muncul memar jika terlalu capek. Aku hanya perlu memastikan ototku “siap” pada hari H karena tidak terlalu lama “dianggurin”.

3. Yang ketiga persiapan sepeda.

Jika sehari-hari kita sudah melakukan perawatan rutin pada sepeda, maka tidak banyak yang perlu kita lakukan. Cukup memastikan rem, ban, dan gear berfungsi dengan baik. Kebetulan tidak ada part baru di sepedaku, jadi aku tidak perlu melakukan setting khusus. Pastikan lampu berfungsi dengan baik, juga membawa ban dalam cadangan. Ketika H-1, aku merusakkan ban dalamku saat hendak memompanya. Akhirnya aku harus menggunakan ban cadangan lebih awal, yang berakibat aku bersepeda tanpa ban cadangan. Hal ini jangan ditiru ya.. Seharusnya aku mencari toko sepeda terdekat yang bisa kutemui, namun aku terlalu malas, bahkan untuk mampir saat melewati toko sepeda di perjalanan. Dan benar saja, banku pecah di KM90-an. Nasibku cukup baik karena itu terjadi di pusat keramaian dan cukup berjalan 300m sebelum menemukan toko sepeda yang cukup lengkap.

4. Yang keempat persiapan mental

Persiapan mental mencakup poin 1 hingga 3. Jika kita sudah menyiapkan semuanya dan merasa siap, tentu tidak ada perasaan was-was dan terburu-buru. Ini penting sekali dalam bersepeda apalagi jarak jauh (setidaknya untukku, jika merasa terburu-buru seringkali performa bersepeda jadi jelek). Jangan lupa persiapkan segala keperluan penunjang lain, misal booking hotel, tiket, hingga menyelesaikan tugas kantor agar dapat bersepeda dengan nyaman. Salah satu hal wajib yang membuatku “siap” adalah memastikan Lacakin sudah ter-install di ponselku. Dengan menggunakan Lacakin, aku tidak perlu khawatir tersesat dan merasa was-was di jalan.

Kalau semua sudah, tunggu apa lagi? Yuk segera ambil helmnya dan kayuh sepedamu ;)

#happycyclinghappyme

Categories: 

Kota: 

Categories: Partners

Happy Cycling Happy Me

Sat, 03/03/2018 - 14:20

Ini adalah kisah tentang salah satu selebriti gowes di Jogja, sebut saja namanya Bunga. Ndak dink, ada nama bekennya kok, "Dipsi". Saya menjadi saksi ketika awal mula mbak Dipsi gowes yang begitu susah payah, hingga saat ini bisa gowes rutin, dan bisa enjoy ikut berbagai event gowes 100 km. Kalau pas ketemu pagi-pagi di jalan ada yang pakai jersey Hello Kitty dan sepeda lipat oranye, nah itulah mbak Dipsi. Sekarang ini sangat aktif gaya hidup sehat seimbang, berkebalikan dengan sebelumnya yang takut berkeringat dan mengabaikan asupan nutrisi sehat.

Yuk kita simak kisah mbak Dipsi, seperti apa tips dan insight yang semoga dapat menjadi inspirasi untuk kita memulai gaya hidup sehat dengan gowes.

Semenjak gowes sudah menjadi kebiasaan, apa transformasi yang sudah dirasakan?

Dipsi: Sudah terasa banyak banget manfaat fisik dan psikis dengan menjadikan gowes sebagai lifestyle. Ngomong-ngomong, saya gowes tidak mengejar body goals, lho. Tapi lebih untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Dulu saya sering bermasalah dengan jam tidur, sekarang ini tidak lagi, ritme jam biologis jadi normal. Selera makan juga jadi normal, dulu suka nyemil2 gak jelas dan ga doyan makanan sehat. Sekarang makan sehat jadi kebutuhan. Dulu gowes meluncur turunan baru 2 km aja sudah hampir pingsan, stamina payah, sekarang sudah jauh lebih fit. Tapi yang paling terasa itu manfaat psikis-nya. Dulu saya suka merasa seperti "orang hilang", tidak punya tujuan, suka blank besok mo ngapain yang berakibat bad mood. Semenjak sepedaan, saya jadi merasa jauh lebih positif, punya sense of purpose, mood lebih terjaga, lebih bisa mentoleransi saat terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. 

Bahagia itu sederhana memang benar adanya

Kok bisa awet gowesnya sampai hampir 2 tahun ini? Kalau tidak suka kan cepet bosen. Apa yang jadi motivasi?

Dipsi: Sebenarnya dulu sering olahraga juga, sudah coba banyak cabang olahraga (senam, gym, berenang, taebo, dsb) tapi ya hanya untuk lifestyle ala-ala, gaya2an aja, jadinya tidak terasa manfaatnya. Bukan sebagai habit. Sejak awal kenal sepeda kebetulan ada coach-nya, teman sekantor yang suka gowes. Peran coach ini yang selalu kasih stimulasi tantangan yang lebih tinggi/berat, tapi masih mampu dicapai, dan akhirnya fisik dan stamina juga ikut terbawa upgrade. Walaupun sepedaan capek, tapi fun dan puas saat berhasil achieve sesuatu, akhirnya jadi terbiasa.

Nyepeda bukan soal kemampuan fisik atau spec sepeda yang harus istimewa, tapi apa yang dirasakan dalam diri. Kalau mau sepedaan harus prepare, tidur harus cukup, siap mental, pasti bisa sampai ke tujuan yang kita inginkan.

Awal nyepeda dulu sempat bingung sama penjelasan coach. Banyak istilah teknis dan penjelasan yang rumit tentang sepeda dan teknik bersepeda. Nonton youtube channel dan baca-baca web tentang sepeda masih belum membantu. Hingga akhirnya saya nonton anime judulnya Long Riders! dan Minami Kamakura High School Girls Cycling Club. Itu inspiring banget, intinya cewek gak biasa olahraga, clumsy, lalu kenalan sama sepeda trus jadi suka banget sepedaan. Di dalam kedua film serial itu juga ada penjelasan terkait teknik bersepeda dan tips-tips yang dijelaskan dengan bahasa yang sederhana. Menarik untuk ditonton para pesepeda wanita pemula, pasti banyak merasakan perasaan yang sama. Semua film itu fokusnya di menyatukan mind, body and soul dalam bersepeda. Yang terpenting dalam bersepeda adalah bagaimana perasaan, jiwa dan fisik kita menyatu dan bikin kita menikmati setiap kayuhan yang kita tempuh. Meskipun jauh, meskipun nanjak, tapi itu bukan masalah saat kita menjalani dengan bahagia.

Merasa mustahil bersepeda jarak jauh? Wajib nonton Ami Kurata dan Fortuna Cycling Teamnya

Sukanya gowes seperti apa sih? Latihannya seperti apa sampai bisa suka gowes 100K?

Dipsi: Yang menyenangkan buatku adalah bisa merasakan hembusan angin. Suka sepedaan dalam group kecil 2-5 teman, gowes weekend lewat jalan yang tidak terlalu ramai dengan jarak yang cukupan sekitar 50-an km supaya pulangnya tidak terlalu panas, ketemu tanjakan dan turunan, bisa lihat pemandangan cakep, sampai di tujuan terasa "Yeaay... I did it!". Habis itu pulang dengan perasaan puas.

Pertama kali mulai bersepeda September 2016. Selang 8 bulan kemudian di Mei 2017 sudah bisa gowes perdana 100K. Waktu itu nekat ikut gowes 100K kebetulan karena tempatnya masih di Jogja dan panitianya juga ngayomi banget, jadi yaa diberani-beraniin ikut. Masih banyak dituntun dan turunnya loading sih, tapi tetep puas bisa menempuh 100k pertamaku. Sempat jatuh saat latihan menjelang hari H, dan itu bikin down. Tapi akhirnya saya bisa mengatasi itu.

Untuk gowes 100k tidak ada latihan khusus sih. Hanya latihan rutin setiap hari Sabtu/Minggu. Rute latihan pun juga yang dekat-dekat saja, palingan ke Pakem/Kaliurang, PP sekitar 20-30km. Sesekali kalau ada temennya baru ambil rute yang agak jauh.

Bersepeda bersama teman-teman memberi kekuatan lebih hingga kita bisa menempuh jarak yang jauh sekalipun

Apa event gowes yang paling berkesan?

Dipsi: Sebenernya yang bikin berkesan, bukan event gowesnya. Tapi dengan siapa saya bisa mengayuh sepeda. Saya sangat bersyukur sekali bisa mengenal dan belajar bersepeda di lingkungan kantor sekarang, dikelilingi oleh para coach yang humble yang mau mengajari dengan sabar. Meskipun jam terbang mereka sudah tinggi, mereka tetap humble. Itu yang menjadi pengingat sampai sekarang. Saat bersepeda, penting untuk tetap humble dan menjaga semangat bersepeda. Kemudian yang terpenting adalah bagaimana menyebarkan semangat itu kepada orang lain.

Merasa diberkahi karena bisa mulai bersepeda dikelilingi teman-teman dengan semangat positif

Ada pesan sponsor untuk yang masih ragu-ragu sepedaan?

Dipsi: Dengan menjadikan olahraga sebagai lifestyle, manfaat fisik dapet, tapi di luar itu juga kita dapet manfaat yang lebih penting. Jadi membentuk kebiasaan, mental, kepribadian, dan membentuk lingkungan kita juga. Pastinya kita akan ada diantara komunitas pesepeda. Saya percaya, circle yang memiliki energi positif akan membentuk diri kita menjadi baik dan positif juga.

Biasanya, yang masih ragu untuk memulai bersepeda alasannya adalah mahal dan capek/tidak kuat. Nominal modal sepeda sebenarnya bukan masalah, karena sepeda ada di harga berapapun, bisa menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing. Toh yang kita kendarai adalah sepedanya, bukan price tag, bukan merknya. Kemudian untuk alasan tidak kuat, saya tadi udah cerita kalau saya nyaris pingsan saat gowes 2km di turunan landai. Apakah kondisi fisik kalian lebih buruk dari saya? Kalau tidak, kalian bisa melakukan yang jauh lebih baik dari saya.

Pada akhirnya kalau sudah doing something yang kita suka, dalam hal ini sepeda, ya cuma ada kita dan sepeda, ayo kita nikmati, tidak harus mikir sepeda kudu begini begitu. Saya hanya penghobi, tidak harus kejar bikin otot seperti pembalap, yang penting gowes dan bahagia. Dan yang pasti, kalau tidak dimulai, kita tidak akan merasakan manfaatnya. Tapi kalau sudah mulai tidak bisa berhenti. So.. tunggu apa lagi? Join yuk di #happycyclinghappyme :)

Grab your bike, pick your helmet, start pedaling and be happy :)

Categories: 

Kota: 

Categories: Partners

Pertolongan Pertama pada Serangan Jantung

Sat, 03/03/2018 - 07:10

Jika tiba-tiba kawan bersepeda mendadak jatuh pingsan, kenali ciri-ciri serangan jantung, segera lakukan pertolongan pertama pompa jantung hingga tenaga medis datang. 5 menit pertama saat kejadian sangat penting untuk menyelamatkan nyawa serta menghindarkan terjadinya kerusakan pada jaringan otak yang mengakibatkan gangguan fungsi organ serta anggota tubuh lain. Video panduan ini dibuat oleh tim dokter anestesi Fakultas Kedokteran UGM bersama Lacakin.

Video: 

Categories: 

Categories: Partners

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.