Sepeda Sehat

Syndicate content
Updated: 2 hours 4 min ago

Pengalaman Gowes Audax Purwokerto 2018 - Part 1

Thu, 03/08/2018 - 07:59

Sudah setahun lebih ngga nulis dan sekalinya nulis beda banget topiknya sama tulisan sebelumnya. Yaps! Kali ini aku akan cerita tentang pengalaman mengikuti event gowes Audax di Purwokerto. Untuk temen-temen yang udah follow-followan sama aku di IG, pasti udah pada tahu dong kalau setahun terakhir ini aku hobi banget sama yang namanya sepedahan. Nah, makanya aku pengen cerita sedikit soal hobiku ini.

Audax Randonneurs adalah sebuah event bersepeda jarak jauh dengan batas waktu tertentu. Yang membuat Audax berbeda dengan event lain adalah di event ini, peserta harus mandiri alias tidak ada support. Tidak ada support itu artinya tidak ada yang menyediakan logistik di cek poin, tidak ada mekanik yang akan membantu jika sepeda bermasalah, tidak ada petugas yang menutup jalan ataupun menunjukkan jalan, dan tidak ada tim evakuasi jika dirasa tidak bisa melanjutkan perjalanan lagi. Eh? Ga ada fasilitas? Aneh ngga sih? Sudah bayar sejumlah uang (start from IDR 400k) kok ga dapat fasilitas. Hehehe.. Ya itu lah yang bikin serunya Audax. Sebuah kepuasan diri untuk bisa menyelesaikan trip tanpa support dengan waktu terbatas. Tidak hanya mengandalkan ketangguhan saat bersepeda saja, tapi juga bagaimana mempersiapkan sebuah perjalanan dan mengelola fisik dan mental sebelum hingga saat perjalanan. Para finisher Audax akan mendapatkan brevet dan pengakuan bahwa mereka sudah “lulus” dari organisasi induknya Audax di Perancis, Audax Club Parisien, jika mengikuti dan bisa menyelesaikan jarak minimal 200 km. Di Indonesia sendiri, Audax masih pada tahap sosialisasi. Untuk itu, ada satu kategori Audax yang dikenal dengan nama Popular Audax dengan jarak 100 km. Karena sifatnya yang lebih untuk pengenalan, tentu saja finisher kategori ini tidak tercatat di Audax Club Parisien sono.

Trus Dipsi ikut yang mana? Ya tentu saja yang 100 km (kok malah macak bangga =_=) . Lebih tepatnya peserta penggembira (pukpuk myself :D). Meski hanya peserta penggembira a.k.a pupuk bawang, namun bukan berarti aku bisa menyepelekan persiapan lho.. Tetap saja semua harus dipersiapkan dengan baik. Apalagi rute kali ini asing untukku. Jadi apa saja yang harus disiapkan? Let’s check this out..

1. Persiapan rute

Sebelum mengikuti event gowes, sebaiknya pelajari dulu rute yang akan dilalui. Berapa jauh jaraknya, seperti apa elevasinya, seperti apa kondisi jalanannya, dll. Biasanya beberapa hari sebelum hari H (atau malah sejak awal) panitia akan mengumumkan rute yang akan dilalui. Biasanya aku akan melihat melalui Google Map untuk gambaran umumnya. Apakah akan melewati pegunungan, pantai, perkotaan, atau yang lain.

Selanjutnya adalah melihat elevasinya. Dulu para coach di gtGowes (klub hobi sepeda Gamatechno) pernah mengajarkan cara menganalisis rute menggunakan Google Earth dan Strava. Naah, karena penjelasannya masuk kuping kiri keluar kuping kanan, aku sampai sekarang masih tidak tahu caranya (Maafkan downline yang tidak berguna ini). Tapi jangan khawatir, karena para coach juga ikut event ini, mereka yang akan melakukan analisis rute. Kita bisa nebeng saja. Dan tentu saja sesuai perkiraan, beberapa saat setelah rute diumumkan, coach Nugie sudah mengirim potongan gambar elevasi rute yang akan dilalui beserta penjelasannya di WA group kami.

Dari gambar tersebut dapat kita lihat kalau kebanyakan jalan datar. Tantangan yang harus dihadapi adalah setelah cek poin 1. Kenapa? Karena tanjakan dimulai di 30% akhir perjalanan, yang mana tenaga sudah mulai habis dan matahari mulai terik. Kemudian, seberapa berat tanjakannya? Aku akan membandingkan elevasi berikut jarak dengan segmen yang pernah kulalui di Strava. Untuk tanjakan mBuntu, aku membandingkannya dengan trip ke jembatan Kali Boyong.

Setelah memastikan aku bisa melalui rute yang mirip, maka untuk selanjutnya aku tinggal mempersiapkan fisik, mental dan sepedaku.

2. Yang kedua adalah persiapan fisik.

Mempersiapkan fisik untuk gowes jarak jauh tidak bisa hanya dilakukan semalam sebelumnya. Ada baiknya persiapan sudah dilakukan 1 minggu sebelumnya dengan menjaga kesehatan, cukup tidur, dan cukup nutrisi. Sebaiknya juga melakukan latihan sebelum hari H, dengan menyesuaikan kondisi fisik masing-masing. Aku sendiri memilih untuk latihan 2x pada seminggu terakhir, yaitu hari Minggu trip ke Pakem, hari Rabu ke UII, dan Jumat lari sekitar 2-3 km untuk event hari Sabtu. Aku memilih untuk tidak simulasi trip dengan jarak yang sama karena pada waktu-waktu tersebut pekerjaan kantor cukup padat dan aku seringkali demam dan muncul memar jika terlalu capek. Aku hanya perlu memastikan ototku “siap” pada hari H karena tidak terlalu lama “dianggurin”.

3. Yang ketiga persiapan sepeda.

Jika sehari-hari kita sudah melakukan perawatan rutin pada sepeda, maka tidak banyak yang perlu kita lakukan. Cukup memastikan rem, ban, dan gear berfungsi dengan baik. Kebetulan tidak ada part baru di sepedaku, jadi aku tidak perlu melakukan setting khusus. Pastikan lampu berfungsi dengan baik, juga membawa ban dalam cadangan. Ketika H-1, aku merusakkan ban dalamku saat hendak memompanya. Akhirnya aku harus menggunakan ban cadangan lebih awal, yang berakibat aku bersepeda tanpa ban cadangan. Hal ini jangan ditiru ya.. Seharusnya aku mencari toko sepeda terdekat yang bisa kutemui, namun aku terlalu malas, bahkan untuk mampir saat melewati toko sepeda di perjalanan. Dan benar saja, banku pecah di KM90-an. Nasibku cukup baik karena itu terjadi di pusat keramaian dan cukup berjalan 300m sebelum menemukan toko sepeda yang cukup lengkap.

4. Yang keempat persiapan mental

Persiapan mental mencakup poin 1 hingga 3. Jika kita sudah menyiapkan semuanya dan merasa siap, tentu tidak ada perasaan was-was dan terburu-buru. Ini penting sekali dalam bersepeda apalagi jarak jauh (setidaknya untukku, jika merasa terburu-buru seringkali performa bersepeda jadi jelek). Jangan lupa persiapkan segala keperluan penunjang lain, misal booking hotel, tiket, hingga menyelesaikan tugas kantor agar dapat bersepeda dengan nyaman. Salah satu hal wajib yang membuatku “siap” adalah memastikan Lacakin sudah ter-install di ponselku. Dengan menggunakan Lacakin, aku tidak perlu khawatir tersesat dan merasa was-was di jalan.

Kalau semua sudah, tunggu apa lagi? Yuk segera ambil helmnya dan kayuh sepedamu ;)

#happycyclinghappyme

Categories: 

Kota: 

Categories: Partners

Happy Cycling Happy Me

Sat, 03/03/2018 - 14:20

Ini adalah kisah tentang salah satu selebriti gowes di Jogja, sebut saja namanya Bunga. Ndak dink, ada nama bekennya kok, "Dipsi". Saya menjadi saksi ketika awal mula mbak Dipsi gowes yang begitu susah payah, hingga saat ini bisa gowes rutin, dan bisa enjoy ikut berbagai event gowes 100 km. Kalau pas ketemu pagi-pagi di jalan ada yang pakai jersey Hello Kitty dan sepeda lipat oranye, nah itulah mbak Dipsi. Sekarang ini sangat aktif gaya hidup sehat seimbang, berkebalikan dengan sebelumnya yang takut berkeringat dan mengabaikan asupan nutrisi sehat.

Yuk kita simak kisah mbak Dipsi, seperti apa tips dan insight yang semoga dapat menjadi inspirasi untuk kita memulai gaya hidup sehat dengan gowes.

Semenjak gowes sudah menjadi kebiasaan, apa transformasi yang sudah dirasakan?

Dipsi: Sudah terasa banyak banget manfaat fisik dan psikis dengan menjadikan gowes sebagai lifestyle. Ngomong-ngomong, saya gowes tidak mengejar body goals, lho. Tapi lebih untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Dulu saya sering bermasalah dengan jam tidur, sekarang ini tidak lagi, ritme jam biologis jadi normal. Selera makan juga jadi normal, dulu suka nyemil2 gak jelas dan ga doyan makanan sehat. Sekarang makan sehat jadi kebutuhan. Dulu gowes meluncur turunan baru 2 km aja sudah hampir pingsan, stamina payah, sekarang sudah jauh lebih fit. Tapi yang paling terasa itu manfaat psikis-nya. Dulu saya suka merasa seperti "orang hilang", tidak punya tujuan, suka blank besok mo ngapain yang berakibat bad mood. Semenjak sepedaan, saya jadi merasa jauh lebih positif, punya sense of purpose, mood lebih terjaga, lebih bisa mentoleransi saat terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. 

Bahagia itu sederhana memang benar adanya

Kok bisa awet gowesnya sampai hampir 2 tahun ini? Kalau tidak suka kan cepet bosen. Apa yang jadi motivasi?

Dipsi: Sebenarnya dulu sering olahraga juga, sudah coba banyak cabang olahraga (senam, gym, berenang, taebo, dsb) tapi ya hanya untuk lifestyle ala-ala, gaya2an aja, jadinya tidak terasa manfaatnya. Bukan sebagai habit. Sejak awal kenal sepeda kebetulan ada coach-nya, teman sekantor yang suka gowes. Peran coach ini yang selalu kasih stimulasi tantangan yang lebih tinggi/berat, tapi masih mampu dicapai, dan akhirnya fisik dan stamina juga ikut terbawa upgrade. Walaupun sepedaan capek, tapi fun dan puas saat berhasil achieve sesuatu, akhirnya jadi terbiasa.

Nyepeda bukan soal kemampuan fisik atau spec sepeda yang harus istimewa, tapi apa yang dirasakan dalam diri. Kalau mau sepedaan harus prepare, tidur harus cukup, siap mental, pasti bisa sampai ke tujuan yang kita inginkan.

Awal nyepeda dulu sempat bingung sama penjelasan coach. Banyak istilah teknis dan penjelasan yang rumit tentang sepeda dan teknik bersepeda. Nonton youtube channel dan baca-baca web tentang sepeda masih belum membantu. Hingga akhirnya saya nonton anime judulnya Long Riders! dan Minami Kamakura High School Girls Cycling Club. Itu inspiring banget, intinya cewek gak biasa olahraga, clumsy, lalu kenalan sama sepeda trus jadi suka banget sepedaan. Di dalam kedua film serial itu juga ada penjelasan terkait teknik bersepeda dan tips-tips yang dijelaskan dengan bahasa yang sederhana. Menarik untuk ditonton para pesepeda wanita pemula, pasti banyak merasakan perasaan yang sama. Semua film itu fokusnya di menyatukan mind, body and soul dalam bersepeda. Yang terpenting dalam bersepeda adalah bagaimana perasaan, jiwa dan fisik kita menyatu dan bikin kita menikmati setiap kayuhan yang kita tempuh. Meskipun jauh, meskipun nanjak, tapi itu bukan masalah saat kita menjalani dengan bahagia.

Merasa mustahil bersepeda jarak jauh? Wajib nonton Ami Kurata dan Fortuna Cycling Teamnya

Sukanya gowes seperti apa sih? Latihannya seperti apa sampai bisa suka gowes 100K?

Dipsi: Yang menyenangkan buatku adalah bisa merasakan hembusan angin. Suka sepedaan dalam group kecil 2-5 teman, gowes weekend lewat jalan yang tidak terlalu ramai dengan jarak yang cukupan sekitar 50-an km supaya pulangnya tidak terlalu panas, ketemu tanjakan dan turunan, bisa lihat pemandangan cakep, sampai di tujuan terasa "Yeaay... I did it!". Habis itu pulang dengan perasaan puas.

Pertama kali mulai bersepeda September 2016. Selang 8 bulan kemudian di Mei 2017 sudah bisa gowes perdana 100K. Waktu itu nekat ikut gowes 100K kebetulan karena tempatnya masih di Jogja dan panitianya juga ngayomi banget, jadi yaa diberani-beraniin ikut. Masih banyak dituntun dan turunnya loading sih, tapi tetep puas bisa menempuh 100k pertamaku. Sempat jatuh saat latihan menjelang hari H, dan itu bikin down. Tapi akhirnya saya bisa mengatasi itu.

Untuk gowes 100k tidak ada latihan khusus sih. Hanya latihan rutin setiap hari Sabtu/Minggu. Rute latihan pun juga yang dekat-dekat saja, palingan ke Pakem/Kaliurang, PP sekitar 20-30km. Sesekali kalau ada temennya baru ambil rute yang agak jauh.

Bersepeda bersama teman-teman memberi kekuatan lebih hingga kita bisa menempuh jarak yang jauh sekalipun

Apa event gowes yang paling berkesan?

Dipsi: Sebenernya yang bikin berkesan, bukan event gowesnya. Tapi dengan siapa saya bisa mengayuh sepeda. Saya sangat bersyukur sekali bisa mengenal dan belajar bersepeda di lingkungan kantor sekarang, dikelilingi oleh para coach yang humble yang mau mengajari dengan sabar. Meskipun jam terbang mereka sudah tinggi, mereka tetap humble. Itu yang menjadi pengingat sampai sekarang. Saat bersepeda, penting untuk tetap humble dan menjaga semangat bersepeda. Kemudian yang terpenting adalah bagaimana menyebarkan semangat itu kepada orang lain.

Merasa diberkahi karena bisa mulai bersepeda dikelilingi teman-teman dengan semangat positif

Ada pesan sponsor untuk yang masih ragu-ragu sepedaan?

Dipsi: Dengan menjadikan olahraga sebagai lifestyle, manfaat fisik dapet, tapi di luar itu juga kita dapet manfaat yang lebih penting. Jadi membentuk kebiasaan, mental, kepribadian, dan membentuk lingkungan kita juga. Pastinya kita akan ada diantara komunitas pesepeda. Saya percaya, circle yang memiliki energi positif akan membentuk diri kita menjadi baik dan positif juga.

Biasanya, yang masih ragu untuk memulai bersepeda alasannya adalah mahal dan capek/tidak kuat. Nominal modal sepeda sebenarnya bukan masalah, karena sepeda ada di harga berapapun, bisa menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing. Toh yang kita kendarai adalah sepedanya, bukan price tag, bukan merknya. Kemudian untuk alasan tidak kuat, saya tadi udah cerita kalau saya nyaris pingsan saat gowes 2km di turunan landai. Apakah kondisi fisik kalian lebih buruk dari saya? Kalau tidak, kalian bisa melakukan yang jauh lebih baik dari saya.

Pada akhirnya kalau sudah doing something yang kita suka, dalam hal ini sepeda, ya cuma ada kita dan sepeda, ayo kita nikmati, tidak harus mikir sepeda kudu begini begitu. Saya hanya penghobi, tidak harus kejar bikin otot seperti pembalap, yang penting gowes dan bahagia. Dan yang pasti, kalau tidak dimulai, kita tidak akan merasakan manfaatnya. Tapi kalau sudah mulai tidak bisa berhenti. So.. tunggu apa lagi? Join yuk di #happycyclinghappyme :)

Grab your bike, pick your helmet, start pedaling and be happy :)

Categories: 

Kota: 

Categories: Partners

Pertolongan Pertama pada Serangan Jantung

Sat, 03/03/2018 - 07:10

Jika tiba-tiba kawan bersepeda mendadak jatuh pingsan, kenali ciri-ciri serangan jantung, segera lakukan pertolongan pertama pompa jantung hingga tenaga medis datang. 5 menit pertama saat kejadian sangat penting untuk menyelamatkan nyawa serta menghindarkan terjadinya kerusakan pada jaringan otak yang mengakibatkan gangguan fungsi organ serta anggota tubuh lain. Video panduan ini dibuat oleh tim dokter anestesi Fakultas Kedokteran UGM bersama Lacakin.

Video: 

Categories: 

Categories: Partners

Persiapan Audax 300K

Fri, 03/02/2018 - 16:38

Anda yang senang bersepeda endurance jarak jauh, mungkin beberapa kali pernah tergoda untuk ikut Audax tapi seringkali ragu-ragu, akankah bisa gowes 300K dalam sehari? Akankah bisa masuk dalam batas waktu yang ditetapkan? Bisakah ikut audax kalau bukan pembalap? Audax adalah unsupported, artinya kita bersepeda secara mandiri, tidak ada support dalam bentuk apapun dari panitia, tidak ada logistik, teknisi, mobil loading atau ambulance. Semakin ragu-ragu.

Di tengah keraguan yang berkecamuk, terasa lebih kuat dorongan untuk berhasil menembus batas diri sendiri. Apalagi kalau berhasil finish nama kita akan tercatat resmi di organisasi induk Audax di Paris (Audax Club Parisien). Keren gitu lowh... 

Ikuti terus... Inilah sharing pengalaman pribadi, pertama kali ikut audax 300K dan berhasil finish dalam batas waktu 20 jam. Walaupun kita sudah terbiasa gowes nanjak dan jauh, selalu penting untuk persiapan, terutama karena kita tidak familiar dengan kondisi medan di kota tujuan, DAN kita perlu mengelola waktu dan energi. Ilustrasi kisah persiapan disini didasarkan pada rute Audax Purwokerto 300K, dengan teknik persiapan yang bisa diadopsi untuk rute-rute lainnya. Ilustrasi disini mengasumsikan kita tetap mengikuti perlengkapan standar gowes touring (ban dalam cadangan, lampu lengkap, dsb).

Kenali Medan, Buat Rencana Perjalanan

Apps Lacakin memberi panduan rute

Panitia PASTI mengirimkan peta (file GPX atau KML) dan cuesheet. Walaupun panitia juga menyediakan Lacakin sebagai panduan rute, jangan abaikan kedua data ini karena sangat vital untuk membuat perencanaan perjalanan. Tujuan dari perencanaan perjalanan adalah: 1) Mengenal kondisi medan, ketahui dimana dan seberapa jauh menanjak sehingga tahu kapan harus pakai mode hemat energi (menuntun halal kok); 2) Mendapatkan batas aman waktu tempuh, seandainya kita capek gpp melaju lebih pelan (tidak perlu maksa/ngoyo) sejauh tidak melebihi batas waktu. Juga seandainya ada kejadian pecah ban atau hujan deras, atau ingin bersantai ngadem sejenak di Indomaret dsb tetap no prolem sejauh masih dalam batas aman. 

Langkah pertama, kenali kondisi medan, file KML dibuka dengan Google Earth untuk mendapatkan elevation profile. Cek apakah ada tanjakan berat, seperti apa kemiringannya, seberapa ketinggian maksimal, seberapa jauh jarak tempuh tanjakan, bandingkan dengan tanjakan yang sebelumnya sudah pernah dilalui. Bisa juga membandingkan dengan koleksi Analisa Rute di web ini. Cermati contoh rute Audax Purwokerto ini.

File KML dibuka dengan Google Earth untuk menampilkan profil elevasi dan kemiringan sepanjang rute perjalanan.

Nampak disana ada dua tanjakan yang akan dilalui. Tanjakan pertama ada di KM 72, kondisi naik turun lumayan panjang sejauh 15,5 km baru ketemu datar lagi, tidak terlalu tinggi (max 184 m) tapi cukup curam dengan kemiringan sekitar 5-12%. Tanjakan kedua ada di KM 265, nanjak ke ketinggian 219m dengan kemiringan 4-9% (tidak seberat yang pertama) sepanjang 4 km saja. Disinilah kita perlu waspada, karena akan ada tanjakan berat maka perlu hemat energi (sejak awal gowes tidak perlu ngebut), juga perlu bekal dan asupan energi sebelum nanjak. Nantinya di langkah berikutnya kita akan cek bagaimana untuk mengantisipasi perbekalan. Kita perlu perkirakan berapa lama waktu tempuh tanjakan pertama, karena kondisinya cukup berat, saya ambil perkiraan kecepatan 5 kmh (sudah termasuk istirahat/nuntun) sehingga untuk menempuh 15,5 km akan membutuhkan waktu 3 jam. Jika sudah pernah menanjak dengan karakteristik yang mirip2, boleh mengambil perkiraan berdasarkan pengalaman sebelumnya. Demikian juga dengan cara yang sama, untuk mencapai puncak tanjakan kedua diperkirakan membutuhkan waktu 48 menit. Estimasi waktu ini nantinya akan kita tuliskan dalam tabel perencanaan perjalanan. Dengan adanya estimasi, disinilah kita akan bersabar menjalani tanjakan yang panjang, kita tidak akan terburu-buru menghabiskan tenaga, kita tidak akan mengeluh, semangat akan terjaga sepanjang tanjakan walaupun harus nuntun.

Langkah berikutnya, kenali dimana bisa recharge energi dan mempersiapkan perbekalan. Recharge energi diperlukan sebelum menanjak, dan selama menanjak perlu bawa bekal. Biasanya selalu ada banyak warung, tapi disini kita perlu antisipasi jika kita sudah capek sebelum ketemu warung pertama. Disini kita perlu mulai buka cuesheet, bagi yang belum pernah lihat, seperti inilah penampakannya:

Inilah yang disebut Cuesheet, memberikan informasi jarak tempuh antar checkpoint.

Disana kita bisa lihat setiap checkpoint ada di KM berapa. Tanjakan pertama kita ada di KM 72, sementara CP1 (checkpoint satu) ada di KM 57, beda jarak 15 km, butuh waktu 36 menit (asumsi kecepatan 25 kmh) dari CP1 menuju awal tanjakan, jelas diperlukan recharge energi dan belanja perbekalan. Kita perlu cek seperti apa kondisi menjelang KM 72, apakah daerah terpencil atau ada banyak warung. Langsung saja kita gunakan Google Maps, atau file GPX diupload ke Google My Maps, tinggal zoom-in ke dekat lokasi awal tanjakan. Untuk memudahkan, tinggal search "indomaret", "alfamart" atau "warung", ternyata disana ada banyak warung, dan bahkan ada Alfamart, bebas pilih.

File GPX diupload di Google My Maps, cermati apakah menjelang tanjakan tersedia warung.

Demikian lakukan hal yang sama untuk mempersiapkan tanjakan kedua.

Langkah terakhir, saatnya kita buat perencanaan perjalanan (trip planning). Intinya disini, cuesheet harus kita lengkapi dengan semua segmen tanjakan, informasi waktu tempuh, termasuk estimasi batas akhir waktu. Untuk memperkirakan waktu tempuh setiap segmen, dibutuhkan asumsi rerata kecepatan, disini bebas saja ditentukan berdasarkan pengalaman kita masing-masing. Boleh pakai 30 kmh (karena terbiasa cepat di jalur datar), atau boleh juga 20 kmh (mode hemat energi). Bentuk rencana perjalanan lebih kurang seperti ini.

Buatlah tabel rencana perjalanan seperti ini, dapatkan batas aman waktu kedatangan (ETA) di setiap segmen.

Dalam trip plan itu kita bisa perkirakan berapa lama istirahat, dimana tempat makan dan berapa lama makan. Dengan menggunakan kolom ETA (perkiraan kedatangan) kita bisa memperkirakan di checkpoint mana untuk makan dan istirahat. Berbagai skenario bisa dimainkan disini, misal: karena sesudah tanjakan berat pasti akan lelah sehingga tidak bisa cepat, untuk istirahat shalat dan makan siang butuh 1 jam, dsb. Ujung akhir dari memainkan berbagai skenario ini, cermati ETA akhir, jangan sampai mepet bahkan melebihi COT (cut off time). Dalam audax 300K, COT-nya adalah 20 jam, jika start jam 6 pagi, maka batas akhir finish adalah jam 2 dini hari.

Sampai sini, trip plan sudah selesai, simpan file nya, gunakan ini sebagai rujukan saat perjalanan.

Pengendalian Perjalanan

Event Audax ini memang "beda", dimana kita harus bisa disiplin untuk menjaga agar segala sesuatunya berjalan sesuai rencana. Walaupun rencana dibuat dengan pendekatan "batas aman", aktualnya nanti sebaiknya kita bisa lebih baik, agar terkumpul banyak "tabungan waktu". Istirahat di tiap checkpoint juga sebaiknya maksimal 15 menit saja. Tabungan inilah yang nantinya bisa digunakan untuk kondisi-kondisi darurat, misal: ganti ban pecah, berteduh saat hujan deras, bahkan bisa juga untuk tidur siang sejenak (power nap). 

Jaga agar speedometer tidak reset. Jangan gunakan headlamp kecil seperti ini.

Selama perjalanan, selalu pantau rerata kecepatan kita, sebaiknya bisa lebih cepat dari yang direncanakan dengan tetap menjaga ritme (tidak memaksa diri). Setiap sampai di checkpoint/segmen, selalu cek waktu seberapa bisa lebih cepat dari ETA. Jika karena sesuatu hal kita tidak bisa memenuhi ETA, berarti di segmen berikutnya harus dipersingkat (misal dengan mengayuh lebih cepat, istirahat lebih pendek, atau makan diatas sadel). Informasi kilometer di speedometer sangat penting, menunjukkan seberapa dekat hingga KM tujuan, jangan sampai tanpa sengaja kepencet reset. Terkadang ragu di perjalanan apakah akan sampai di KM tujuan sesuai ETA, kita bisa lakukan kalkulasi sederhana, misal kecepatan kayuh sekarang 20 kmh sementara destinasi masih 10 km lagi, berarti untuk sampai di destinasi butuh 30 menit. Cek jam batas waktu untuk checkpoint/segmen tujuan, jika tutup dalam 15 menit, berarti harus dipercepat lagi kayuhnya.

Jangan kuatir dengan hitung menghitung yang mungkin berkesan "ribet", yang penting follow the plan and enjoy the ride :)

Selama perjalanan, selalu cek kecukupan perbekalan: air minum (putih), sumber energi (snack/coklat, minuman manis, dsb), dan jangan lupakan: sumber garam. Garam penting untuk menjaga agar tidak kram, ini bisa bersumber dari Pocari, Oralit, biskuit yang asin2, atau yang lebih kekinian: salt stick (kapsul garam). Jika diperkirakan bekal kita tidak cukup hingga destinasi tujuan, sebaiknya belanja di warung terdekat. Penting agar secara berkala (misal tiap 30 menit) untuk minum air dan garam, agar terhindar dari kram, juga agar kita tetap awas waspada dan fokus selama perjalanan panjang. 

Jika malam datang, sebaiknya gowes berkelompok, dan sebaiknya berkelompok dengan sesama pesepeda dengan ritme kecepatan yang sama, termasuk klop juga dalam hal berhenti sejenak untuk istirahat, karena memang kita harus disiplin mengikuti rencana perjalanan. Perjalanan malam cukup panjang, sehingga perlu ditemani dengan perlengkapan safety yang memadai, khususnya rompi reflektif dan headlight yang terang. Jangan hanya menggunakan lampu kecil karena banyak jalan yang tidak memadai penerangannya, kita harus bisa melihat kondisi aspal jalan (mulus/berlubang dsb), belum lagi lawan perjalanan kita adalah kendaraan besar. 

Bagaimana kalau hujan? Jika masih punya banyak tabungan waktu, boleh berteduh. Jika tidak, gowes dalam hujan pun tidak masalah. Tanpa jas hujan pun tidak masalah karena badan kita menghasilkan panas selama gowes, kita akan tetap hangat walaupun malam dan hujan. Menggunakan jas hujan juga pilihan, saya pribadi lebih suka tidak pakai jas hujan karena menggunakan jas hujan malah terasa lebih panas, panas tubuh tidak langsung keluar (tertahan oleh jas hujan).

Oh ya, jangan lupa carbo-loading ya, sejak H-3 mulai banyak makan karbohidrat untuk meningkatkan cadangan energi di otot (glikogen) dan di liver. Pada saat hari H, jangan melewatkan makan, tinggal disesuaikan waktunya. Bagi yang punya kecenderungan asam lambung (maag), sebaiknya jangan hanya sarapan dua helai roti, bisa juga dengan asupan karbohidrat slow release seperti spaghetti.

Lebih kurang demikian berbagi kisah persiapan untuk menyambut audax 300 km, semoga bermanfaat. Jika ada saran supaya persiapan lebih baik, jangan ragu untuk posting di komentar ^_^

Categories: 

Categories: Partners

Le Tour de Anesthesia 2018, always new route

Fri, 01/12/2018 - 19:11

Ada sejak tahun 2015 LTDA yang diselenggarakan oleh ABC (Anesthesia Bicycle Club) dan teman selalu menjanjikan kegiatan bersepeda epic endurance yang dirancang matang dan dilaksanakan dengan dukungan penuh untuk kepuasan peserta. Diawali keinginan untuk keluar dari rutinitas ruang kerja sempit sehari-hari dan lebih banyak berdiri di tempat, kami bergerak keluar bersepeda mengunjungi tempat-tempat baru yang memberikan kami selalu energi baru untuk tetap semangat menjalani kegiatan pekerjaan kami. Kami sangat bahagia dengan sepedaan kami, dan kami ingin mengajak dan membagikan kebahagiaan kami ini kepada banyak teman, kepada anda-anda yang ingin menjelajah tempat-tempat baru dengan moto kami epic endurance cycling. Menikmati perjalanan jarak jauh yang memerlukan endurance, di lokasi-lokasi yang indah pemandangannya, yang selalu mengingatkan kami akan kemurahan dan berlimpahnya kasih Tuhan kepada kita, dan sekaligus mengingatkan kami untuk terus berusaha berbagi kegembiraan dengan teman lain.

Berangkat dari pengalaman kami, sebagai orang-orang biasa, bukan pesepeda profesional, kami tergugah untuk bisa mengajak lebih banyak lagi orang-orang biasa yang ingin berpetualang melalui jalur yang menantang, agar bisa merasakan kegembiraan, kebanggaan dan rasa bersyukur seperti yang kami rasakan. Bergembira bersama, termasuk menuntun sepeda jika medan terlalu berat untuk menanjak, atau terlalu tajam turunannya, atau bahkan loading bersama naik mobil yang disediakan bila sudah lelah. Kita bersama menikmati keagungan Tuhan di alam terbuka dengan bersepeda... sak kuate dewe-dewe dengan hati gembira dan utamakan keselamatan.

Perjalanan LTDA selama empat tahun ini sudah banyak mengajari kami untuk memahami apa yang teman-teman inginkan untuk bersepeda yang menantang yang menggembirakan. Di LTDA pertama tahun 2015 kita menjelajah Yogya bagian Barat di daerah Kulon Progo dan Yogya selatan di Bantul, kemudian LTDA ke dua tahun 2016 kita menjelajah jalanan di sekitar Yogya Selatan di Wonosari Gunung Kidul di tepian gunung Api Nglanggeran kemudian menembus Yogya bagian Timur, dan di LTDA tahun 2017 kita menjelasah Yogya Barat kemudian ke Utara ke Borobudur.

Nah, untuk LTDA tahun 2018 ini kita akan menikmati keindahan rangkaian hutan pinus di Yogya bagian Selatan, mulai dari Watu Amben satu panorama indah di ketinggian Pathuk, Puncak Pengger, Puncak Becici yang pernah dikunjungi Obama, Puncak Asri dan tentunya hutan punus Mangunan yang mempesona yang akan memanggil anda untuk banyak melakukan sesi foto-foto tertawa gembira sambil menurunkan hearth beat rate. Tanjakan-tanjakan dan pemandangan indah di sekitar jalur perjalanan akan tetap menjadi ciri utama LTDA.

Ayo bergabung, anda bahagia, kami puas. Salam perubahan menikmati keagungan Tuhan.

Video:  Lokasi:  Indonesia 7° 55' 31.6776" S, 110° 25' 54.876" E See map: Google Maps Javascript is required to view this map.

Categories: 

Kota: 

Categories: Partners

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.