Partners

Gowes Merdeka 2015 Mengelilingi Gunung Merapi

Sepeda Sehat - Fri, 08/21/2015 - 04:36

Kala pertama dilakukan di bulan Agustus 2014, entah karena sedang ada kegiatan apa, saya tidak ikut serta. Dan di kegiatan ke dua, yang dilaksanakan Sabtu, 15 Agustus 2015 ini, saya ikut serta dalam Gowes Merdeka, gowes mengelilingi gunung Merapi searah jarum jam dengan jarak sekitar 120an KM.

Sejak awal saat di wara-wara, sudah mulai googling, terutama dari sumber andalan yang ikut serta di kegiatan serupa tahun lalu, yaitu dari facebooknya Pak Djoko Luknanto. Sangat lengkap informasinya, dan sangat membantu untuk membayangkan medan juang yang akan kami hadapi.

Sangat terasa aroma ekstrem tanjakan dan turunan tajam dan panjang, separo jarak akan menanjak tanjam, dan separo jalur sisanya akan terus menurun tajam. Sup Empal Muntilan

Sup Empal Muntilan

Persiapan Kegiatan

Sangat beruntung di Yogya saya menemukan banyak teman yang luar biasa. Yang senang berbagi, dan senang membantu orang lain. Satu kelompok teman-teman sepeda yang saya lihat selalu merasa tertantang untuk membuat orang lain senang bersepeda, seperti seorang bijak masa lalu yang mengatakan : Memang, sifat orang baik itu tidak lupa memerhatikan kesejahteraan orang lain

Teman-teman ini sering ngobrol dan membuat persiapan-persiapan. Salah satu persiapan yang membantu untuk mengkondisikan persiapan adalah pembuatan WA group Gowes Merdeka, dimana semua calon peserta didaftar dalam group tersebut dan saling berdiskusi untuk periapannya. Dan hal-hal menarik yang sangat membantu para calon peserta adalah:

  1. Pembuatan jersey Gowes Merdeka
  2. Program latihan yang terkoordinir
  3. Pemberian informasi rencana perjalanan serta tips-tips

Mas Indul in Action di Dam Sabo

Mas Indul in Action di Dam Sabo

Pembuatan Jersey Gowes Merdeka

Sangat menarik proses pembuatan jersey Gowes Merdeka ini. Awalnya ada ide membuat jersey untuk keperluan Gowes Merdeka ini, kemudian lewat diskusi di WA, saling memberi masukan, saling menambah, saling menyempurnakan, jadilah satu design jersey bersama yang menarik para goweser, yang akhirnya tidak hanya teman-teman Yogya yang akan ikut kegiatan Gowes Merdeka saja yang pesan, namun juga banyak terman-teman di Yogya yang lain yang tidak ikut kegiatan gowes Merdeka namun ikut memesan jersey juga, hingga mencapai total sekitar 80 buah. Dan yang lebih menarik lagi, teman-teman Pekanbaru ikut serta juga memesan jersey Gowes Merdeka ini sekitar 100 orang..lhah..ternyata yang pesan malah lebih banyak dari teman-teman di Pekanbaru :)

Program Latihan yang terkoordinir

Seingat saya dilakukan tiga kali latihan bersama melewati jalur yang sama yang akan dilalui saat hari H, namun hanya sampai potongan-potongan awal tanjakan. Sabtu pertama latihan 25 Juli 2015 Gowes Yogya-Muntilan-Talun dan kemudian kembali ke Yogya, kemudian Sabtu berikutnya, 1 Agustus 2015 latihan ditambah lebih jauh lagi, melalui jalur yang sama Yogya-Muntilan-Talun-Tlogolele. Ya, kali ini ditambah jalur Talun-Tlogo lele yang lebih menanjak, dibanding tanjakan sebelumnya Muntilan-Talun.

Dan memang sangat terasa bedanya, di latihan ke dua sebagian besar peserta merasa jauh lebih ringan dibanding latihan pertama. Dan latihan ketiga, Sabtu, 8 Agustus di jalur yang sama, namun saya absen latihan karena masih berada di Jakarta. Meninggalkan Dam Sabo

Meninggalkan Dam Sabo

Progam latihan ini bukan hanya berguna bagi para calon peserta, namun sangat berguna juga untuk teman-teman yang suka rela merancang perjalanan, untuk menentukan titik-tiitik regrouping, titik-titik untuk beristirahat sejenak, untuk kembali memasukkan lidah yang sudah melet-melet :)

Pemberian Informasi Rencana Perjalanan serta Tips-Tips Dam Sabo

Dam Sabo

Dari semua hal yang sudah dilakukan teman-teman yang baik, ini, bagi saya yang paling membantu dalam kegiatan Gowes Merdeka ini adalah rancangan teman-teman yang "memotong-motong" jalur perjalanan ini penjadi penggalan-penggalan kecil yang achievable, yang bisa dilalui relatif lebih mudah dibanding kalau kita harus menggowes terus menerus tanpa tentu kapan akan perlu berhenti/beristirahan. Inilah isi dari informasi rencana perjalanan yang sangat membantu membayangkan medan yang akan saya hadapi dan mengatur nafas dan tenaga:

Dear Goweser,

Gowes Merdeka akan dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2015.

Kegiatan gowes ini merupakan kelanjutan dari Gowes Merdeka I yang diadakan tahun lalu, 2014, dalam rangka mengenang kembali semangat kemerdekaan.

Diantara peserta tahun ini ada beberapa goweser yg tahun lalu ikut dalam Gowes Merdeka I. Mereka akan membantu memperlancar gowes kebersamaan ini, termasuk menyiapkan kelancaran konsumsi, bike tag  dan jersey.

Pengelolaan aktifitas sehat ini dilakukan secara paguyuban, jadi tidak ada panitia. Oleh karena itu setiap goweser diharapkan saling membantu untuk keberhasilan bersama.

Laiknya gamelan jawa yang meskipun tanpa konduktor (dirigen), namun dapat berjalan seirama; dimulai dan selesai dengan harmoni yang indah. Enak dilhat dan enak pula didengar.

Pada gowes kali ini akan dibutuhkan asupan kalori yg sangat tinggi karena jarak tempuh dan ketinggian jelajah. Kalori yg dibutuhkan sekitar 1000 x Berat badan. Kepada para Peserta akan dibagikan: 600 cc pocari sweat, 1 ltr aqua, pisang 2 biji,  gula jawa selirang,makan pagi, makan siang dan rehidrasi secukupnya. Oleh karena itu peserta  diharapkan juga membawa bekal sendiri.

Gambaran rencana perjalanan:

1. Titik kumpul (TK 1) di per4an Denggung pkl 05.30. Apabila peserta gowes akan mendahului berangkat dipersilahkan dengan tujuan warung makan sop empal bu Haryoko Muntilan (TK 2). Paling lambat sampài TK 2 pkl 07.00.

2. Berangkat dari TK 2 pkl 07.15 utk menuju per3an Tlatar (TK 3). Diperkirakan sampai TK 3 pkl 07.45 - 08.00. Jalan ke TK 3 ini seperti jogja-pakem. Di TK 3 ini akan dibagikan minuman, pisang dan gula jawa.

3. Pk 08.00 berangkat menuju TK 4 di dekat masjid Tlogolele. Di TK 4 berhenti sejenak untuk rehidrasi.

5. Perjalanan dilanjutkan menuju TK 5 di depan balai desa Tlogolele. Di TK 5 ini semua goweser harus berkumpul untuk pengarahan medan/kondisi rute yang akan dilewati.

6. Perjalanan gowes akan dilanjutkan menuju dam SABO  (TK 6). Jalan menuju tempat ini menurun sehingga goweser harus extra hati-hati. Di TK 6 kita foto-foto sampai pk 10.00

7. Perjalanan dilanjutkan  menuju TK 7 di pasar Jrakah. Jalan menuju TK 7 ini naik tajam, tetapi pendek dan pemandangan bagus banget....boleh sambil foto-foto.  Di Pasar Jrakah disediakan minuman.

8. Etape selanjutnya menuju TK 8 di Masjid Jrakah. Diperkirakan sampai TK 8 jam 12.00 untuk istirahat dan  sholat Dhuhur dijamak sholat ashar..

9. Berangkat dari TK 8 pk 12.20 menuju pasar Selo (TK 9). Diperkirakan sampai pasar Selo jam 13.00 untuknistirahat dan makan siang.

10. Rombongan gowes berangkat lagi bersama-sama pk 14.00 turun menuju TK 10 di per3an Mliwis di dekat  sebelah pesanggrahan Pratimohardjo. Di TK 10 ini kita akan  checking goweser, untuk berkumpul semua. Situasi jalan menurun dan sebagian sedang dalam perbaikan.

11. Setelah checking selesai, perjalanan indah dílanjutkan  pada rute yang melewati pompa bensin sampai ketemu per3an yang ada Toko bernama AsGross belok kanan menuju Jatinom.

12. Perjalanan menuju Jatinom akan melalui jalan arah Tulung -Jatinom,. Pada rute ini jalan menurun terus. Kita akan regrouping ulang di per3an Jatinom arah Boyolali supaya tidak tersesat untuk menuju alun-alun Klaten.

13.  Di alun-alun Klaten kita akan  rehidrasi sampai pk 16.00 untuk melanjutkan gowes pulang ke Jogja secara bersama-sama.

Nikmat Rasa

Nikmat Rasa

Luar biasa, penggalan-penggalan perjalanan tersebut  sangat membantu.. Terima kasih. Dan masih lagi ditambah tips-tips yang diserbarkan lewat group WA juga, yang dirancang bersama-sama oleh  teman-eman yang peduli.

Untuk tips persiapan dan selama di perjalanan:

1. Sepeda yang akan dipakai utk Gowes Merdeka  harus disiapkan dan dipastikan  dalam kondisi optimal kalau perlu dicekkan ke bengkel.

2. Dimohon setiap peserta gowes membawa ban dalam cadangan sesuai ukuran masing-masing ban sepeda yang akan dipakai. 3. Setiap goweser harus memakai helm beserta pelindung muka dari cahaya matahari dan bersepatu.

2. Kondisi fisik peserta gowes harus disiapkan seoptimal mungkin. Mohon tidur tidak terlalu malam.

3. Dianjurkan setiap goweser telah makan malam berkalori tinggi dan makan  3- 4 jam sebelum gowes, untuk mendapatkan cadangàn energii yg cukup

4. Goweser dimohon membawa makanan berkalori tinggi untuk cadangan selama di perjalanan, misalnya gula jawa, coklat, kurma, pisang dll, dan minuman elektrolit secukupnya untuk dimakan dan diminum di sepanjang jalan, guna memenuhi asupan kalori.

6. Waspadalah dan nikmatilah perjalanan. Jangan berpacu, dan jangan lengah yg bisa menyebabkan kecelakaan.

7. Kami anjurkan untuk bergerombol (poloton) supaya nambah semangat dan keceriaan termasuk berfoto-foto bersama.

8. Kayuh sepeda sesuai kemampuan, istirahat sesuai kebutuhan.

Sekali lagi, terima kasih teman-teman yang sudah mempersiapkan..

Perjalanan Gowes Merdeka Sabtu 15 Agustus 2015 Jalur perjalanan

Jalur perjalanan

Bangun pagi agak kesiangan, baru jam 04.45 terbangun, padahal rencana bangun jam empat pagi.

Dengan persiapan singkat, berdua dengan Alu yang khusus datang dari Pekanbaru untuk ikut kegiatan gowes ini, berangkat dari rumah sekitar jam 05:20 langsung menuju ke Lapangan Dengung. Sampai lapangan Dengung sudah banyak teman-teman dengan jersey merah putih berkumpul.

Dan kami berdua terus lanjut berjalan menuju Sup Empal Muntilan. Jalan relatif terasa ringan, meski kami tahu sekara kontur ada sedikit menanjak, namun tidak begitu terasa. Sarapan pagi terasa sangat nikmat, menu seragam sup, nasi dan empal... josss

Dan sesuai rencana kami melanjutkan perjalanan menuju Talun. Jalan mulai menanjak. Di Talun di tempat yang pernah kami singgahi saat latihan, di pertigaan Tlatar, kami berhenti dan dibagi satu kantong plastik berisi air minum dua botol dan gula jawa.

Semua masuk ke kantong jersey dan kangong celana. Setelah sebentar beristirahan, kami melanjutkan perjalanan menuju Tlogolele. Dan tanjakan yang lebih tajam sudah siap menanti kami. Tanpa kesulitan tanjakan-tanjakan bisa kami lalui, meski kadang kami perlu sesekali beristirahat sejenak.

Nah, sampai di TK5 di depan Balai desa Tlogolele kami berhenti sejenak dan menerima informasi bahwa turunan akan sangat tajam menuju ke Dam Sabo. Beberapa teman memilih untuk menuntuk di turunan, beberapa lagi berani tetap berada di atas sadel sepeda dengan terus mengkontrol kecepatan.

Dam Sabo...maaf tidak tahu nama daerahnya, sangat memukau dengan perbedaan ketinggian dari satu sisi sungai ke sisi sungai yang lain. Saya memilih menuntun waktu melewati jalan menurun untuk mencapai tengah dam, dan lumayan, mampu mengayuh sepeda saat naik ke satu sisi sungai yang lain. Tempat yang indah, tak lupa berhenti sejenak melakukan kegiatan foto-foto. KM demi KM di Strava

KM demi KM di Strava

Jepretan mbah Kung Endy

Jepretan mbah Kung Endy

Perjalanan terus berlanjut menuju Jrakah dan terus ke Selo dengan tanjakan-tanjakan yang lebih menantang, namun berbonus pemandangan yang sangat menawan, dengan gowes di lereng gunung Merbabu dan menatap Gunung Merapi di sisi kalan jalur perjalanan kami yang meniti sisi Selatan punggung gunung Merbabu. Saat diantara Jrakah dan Selo, udara dingin terasa menusuk. Agak aneh, sepedaan sejauh ini, namun terasa dingin. Dan, ketika sampai di pasar Selo, melihat teman-teman sudah duduk manis makan tongseng di salah satu warung di depan pasar Selo, terasa MERDEKA!

Inilah puncak tertinggi perjalanan kamihari ini. Jarak tempuh dari rumah mencapai hampir 50 km.

Segera sesudah menyantap tongseng, minum air jeruk dan beristirawah sejenak, rombongan segara melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Yogya turun melalui sisi lain, yaitu berjalan dari Selo ke arah Boyolali. Seharusnya di pertigaan Miliis, kami belok kanan menuju Klaten. Namun kami berlima, ternyata kebablasen..sampai Boyolali, baru belok kanan menuju Klaten....

Meski sedikit kebablasen, tapi tidak begitu terasa, karena jalannya terus menurun. Bertemu rombongan besar kembali di Alun-alun Klaten, untuk beristirahat dan minum.

Perjalanan kami berlanjut menuju Yogya, dan kami berdua tiba di rumah sekitar pukul 17:30...sedikit lebih dari 12 jam perjalanan kami hari ini.

Menyenangkan.Matur nuwun dr. Hariyanta, pak Mus, Mas Joko Sum, mas John, mas Wisnu, bang Yos, mas Hermawan, mas Indul, bu Noer dengan kue soes dan tahunya, matur nuwun Mbah Kung Endy yang berkenalanpun belum sempat tapi sudah berbagi foto dari sudut yang bagus...dan semua teman-teman lain....josss!

Analisis Perjalanan Heart Rate

Heart Rate

Melihat data-data yang disajikan di Strave, menarik untuk diamati angka-angkanya, dengan ringkasan sebagai berikut:

  • Jarak Tempuh : 124.5 km
  • Elevasi capaian : 1,793 m
  • Moving time:  9 jam 07 menit 10 detik
  • Kecepatan rata-rata: 13.7 km/jam
  • Kecepatan maksimal: 37 km/jam
  • Rata-rata heart rate: 126 bpm
  • Maximum heart rate: 163 bpm

 



Video:  Lokasi:  Indonesia 7° 31' 31.9152" S, 110° 35' 32.9964" E See map: Google Maps Javascript is required to view this map.

Categories: 

Kota: 

Jarak: 125.00kmSepeda: MTBElevasi Jarak: 50.00km
Categories: Partners

Perjuangan Menembus Batas

Sepeda Sehat - Sat, 08/01/2015 - 20:17

Salah satu target sepedaan saya tercapai hari ini: mencapai Kaliurang. Kaliurang saya pilih sebagai salah satu milestone karena tempat yang tingginya 860 m dpl itu cukup menantang, jalannya bagus, dan hanya berjarak sekitar 18 km dari rumah saya (kalau diukur dari Jalan Kaliurang, rumah saya kira-kira di km 6, sementara Kaliurangnya di km 24).

Perjalanan mencapai Kaliurang bukan hal yang mudah bagi saya. Saat pertama kali bersepeda, saya hanya kuat naik sampai Jakal km 9. Pelan-pelan naik ke km 10, km 12, sampai akhirnya bulan Mei kemarin saya berhasil “wisuda” di sebuah warung kecil legendaris di Pakem (km 17) yang menjadi tempat nongkrongnya para goweser Jogja. Masih 7 km lagi ke Kaliurang, tapi saya belum punya kesempatan untuk mencoba naik ke sana. Dua hari yang lalu, saya bertekad mendaki ke Kaliurang. Sayangnya fisik dan waktu belum mendukung, dan saya baru bisa mencapai km 20. Masih 4 km lagi.

Pagi tadi, selepas subuh, saya berniat melanjutkan usaha saya…

Sampai Pakem masih no problem. Selepas Pasar Pakem, tanjakan mulai terasa tajam. Kayuhan mulai terasa berat, meskipun setelan gigi persneling sudah diusahakan senyaman mungkin. Nasihat para master goweserpun dipraktekkan: jaga agar cadence (putaran kayuhan pedal) tetap konstan. Tapi kenyataannya berat sekali untuk menjalankannya dalam situasi tanjakan. 

Tiap kali melihat ke depan, serasa tanjakannya tak berujung. Seiring dengan meluruhnya tenaga, muncul godaan: balik saja lah, sudah cukup untuk hari ini. Apalagi saat disalip oleh beberapa goweser yang usianya cukup jauh di atas saya. Malu saya.

Tidak. Saya tidak mau menyerah. Saya sempat berhenti dua kali untuk istirahat sebentar dan minum, tapi saya bertekad untuk tetap terus. Selama mengayuh, saya tidak memandang jauh ke depan, karena saya tahu itu hanya akan membuat saya pesimis. Saya hanya memandang 2-3 meter di depan saja agar saya tidak terpengaruh oleh ketakutan dan pesimisme saya. Saya tidak berpikir tentang panjang dan beratnya tanjakan. Saya fokus pada apa yang ada di hadapan saya: mengayuh.

Dengan kombinasi gigi yang paling ringan, saya maju selangkah demi selangkah. Kecepatan saya saat itu mungkin sama dengan kecepatan orang berjalan cepat. Di situ kesabaran saya diuji. Otak saya selalu berhitung: kecepatan sepeda 5 km/jam, jarak ke Kaliurang masih 4 km lagi. Kapan sampainya kalau selambat ini? Belum lagi kebosanan dan rasa malu dilihat orang, ini gowes beneran atau lagi belajar naik sepeda?… semua pikiran itu muncul dan memunculkan dorongan untuk segera balik arah. 

Berlaku sabar itu sulit, apalagi jika sedang berada dalam kesulitan, sementara opsi-opsi lain yang lebih mudah dan menyenangkan tersedia dan mudah diakses. Cara saya untuk sabar: fokus ke tujuan dan bersedia menjalani proses dalam mencapai tujuan tersebut, seberapa pun beratnya proses itu. Amazingly, fokus dan niat kuat untuk melangkah itu bisa menghambat munculnya pikiran-pikiran negatif…

Akhirnya saya bisa sampai di Kaliurang. Saya senang karena bisa mencapai target, tapi yang lebih penting, saya bisa meyakinkan diri sendiri bahwa kesabaran itu selalu berbuah manis. Saya juga mendapatkan pelajaran bahwa fokus dan kemampuan untuk melangkah itu sangat penting untuk pencapaian suatu tujuan. Jika sudah jelas apa yang harus dilakukan, lakukanlah, jangan berpikir macam-macam, jangan bermain dengan perasaan, dsb. Seperti kata iklan sebuah perusahaan apparel olah raga: just do it. 

Di aspek teknis gowes, saya juga menemukan sesuatu yang berharga. Di tanjakan, kita harus mengeluarkan tenaga seefisien mungkin. Saat kaki kiri dan kanan mengayuh bergantian, biasanya kita mengeluarkan tenaga secara ‘burst’ (menghentak). Ini memboroskan energi. Saya tadi menemukan fakta bahwa kayuhan yang memanfaatkan energi putaran pedal dan dilakukan secara ‘smooth’ bisa menghemat tenaga. Jadi kuncinya pada harmonisasi: keselarasan antara penyaluran tenaga ke kaki dengan dengan putaran pedal. Hukum alam memang indah: sesuatu yang harmonis itu selalu memberikan kebaikan…

Satu lagi pelajaran. Kata Tuhan, di balik kesulitan selalu ada kemudahan. Saat pulang menuju Jogja, Jalan Kaliurang seolah berkata:”Lukito, silakan dimanfaatkan…”. Tanjakan berubah menjadi turunan, yang tadinya sulit sekarang menjadi mudah. Bahkan Tuhan tahu saya suka dengan kecepatan, dan tadi saya diberi-Nya kesempatan. Rekorpun pecah: 53 km/jam…

Gowes tadi pagi memang spesial… Menaklukkan Kaliurang ternyata merefleksikan pengalaman “menaklukkan” diri sendiri…

Categories: 

Kota: 

Categories: Partners

Bersepeda Yogya-Cilacap

Sepeda Sehat - Tue, 06/16/2015 - 06:18

Telpon berdering, panggilan jam 01:30 dini hari…ups..dokter Hariyanta, membangunkan, memastikan saya sudah bangun dan bersiap-siap untuk rencana sepedaan hari ini Yogya-Cilacap. Sekitar jam 02:40 keluar dari rumah di kegelapan pagi dan bertemu dr. Hariyanto di perempatan Monjali, langsung berdua melaju ke tempat start di Paradise jalan Wates.

Gowes kali ini sudah direncanakan dengan sangat baik oleh panitia, sebagai salah satu group sebagai bagian dari keseluruhan kegiatan Tour bluxpit d’ Nusakambangan kerja sama antara GamaGo dan S3 Gama. Diskusi dan wara-wara sudah sangat detail disosialisasikan lewat group WA yang sangat efektif sebagai media komunikasi. Hal-hal yang sudah disiapkan dengan sangat baik antara lain:

  • Daftar peserta tiap group
  • Tempat kumpul
  • Apa saja yang perlu dilengkapi di sepedanya, dan apa yang perlu dibawa
  • Fasilitas pendukung, seperti teknisi yang mendampingi, pickup untuk loading, dan mobil ambulance lengkap dengan tenaga medisnya
  • Gambaran perjalanan, situasi dan kondisi jalan dan perkiraan waktu

Pak Mus yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, dengan sangat jelas memberikan gambaran situasi perjalanan dan perkiraan waktu. Meskipun kami yakin, bahwa tidak semuanya akurat 100%, namun gambaran itu sangat membantu untuk bisa membayangkan situasi yang akan ditempuh dan mempersiapkan tenaga dan pikiran untuk melalui tahapan demi tahapan. Menurut saya, informasi-informasi tersebut sangat perlu disampaikan sebelum memulai suatu perjalanan, karena sangat membantu. Terima kasih pak Mus dkk.

Cerita sepanjang perjalanan

Perjalanan sebelas orang pesepeda (termasuk satu orang teknisi yang ikut bersepeda juga), didampingi satu mobil pickup dan ambulans beserta dua orang tenaga dokter memulai perjalanan sekitar pukul 04:00, berangkat dari Paradise, menyusuri jalan Wates menuju ke Masjid Masyfa Simpang Lima Wates. Jam empat pagi, tentunya suasana masih gelap, dan sesuai arahan sebelumnya untuk memasang lampu sepeda di belakang dan di depan sangat membantu menyusuri jalanan di saat situasi masih gelap.

Kami beruntung, ada beberapa teman yang memasang lampu tambahan yang sangat terang, cukup untuk bisa melihat kondisi jalan di depan. Hal ini sangat membantu kami semua. Meskipun jalan raya Yogya-Wates relative mulus, namun melihat dengan pasti kondisi jalan di depan kita sangat penting, terutama untuk pengguna road bike yang sangat rentan terhadap kondisi jalan. Jembatan Congot

Jembatan Congot

Teman-teman menunaikan ibadah sholat subuh di Masjid Masyfa Simpang Lima Wates, dan beristirahat sejenak.

Perjalanan kami lanjutkan, kembali masih dalam suasana yang temaram, menuju perhentian berikutnya di Jembatan Pantai Congot. Jalan menuju pantai Congot juga sangat mulus, dan bisa kami lalui dengan nikmat. Nah, perjalanan dari Congot melewati jalan Dandles adalah perjalanan yang paling menyenangkan, dengan kondisi jalan yang sangat mulus dan lebar, serta sangat sepi lalu lintasnya. Kami berjalan dengan rata-rata kecepatan 27 km/jam Di jalan mulus tersebut.

Namun, kenikmatan tersebut tidak bisa terus berlanjut, karena ketika memasuki kabupaten Purworejo, kami mulai masuk ke jalan yang kurang bersahabat untuk Road Bike, namun masih nikmat untuk MTB yang dikendarai pak Setyoso, salah satu teman kami, yang mempergunakan MTB di perjalanan ini. Sarapan di Sate Bu Klendet putri H Kasman Ambal

Sarapan di Sate Bu Klendet putri H Kasman Ambal

Perjuangan di jalan yang "rusak" terus kami nikmati, meskipun ban belakang saya sempat mbledhos. Sangat beruntung ada mas Sarjianto yang siap membantu, langsung menaikkan sepeda saya ke mobil pickup untuk ditambal, dan gantian saya naik sepeda mas Sarjianto.

Dan perjuangan nikmat sepanjang jalan ini segera terobati setelah sampai di Ambal, sekitar pukul sembilan pagi untuk menikmati Sate Ayam Ambal yang sangat terkenal itu. Satu piring nasi dan satu porsi sate ayam segera kami libas.

Perjalanan kembali berlanjut menuju ke obyek pariwisata Pantai Suwuk, jalan yang rusak tadi, segera berganti dengan aspal mulus. Dan di sepanjang jalan ini, rasa-rasa pingin istirahat kadang menggoda, namun pimpinan rombongan kami, tahu apa yang seharusnya dilakukan, terus melaju, tanpa peduli ajakan foto-foto teman yang ingin istirahat...hehehehhehe..Memang tantangan yang paling menarik saat gowes jarak jauh adalah tantanngan pertempuran dalam diri sendiri antara terus mengayuh dan keinginan istirahat. Dan latihan yang bagus adalah terus mengayuh meski ada keinginan untuk istirahat. Kadang memang ada keraguan, rasa ingin istirahat ini benar-benar karena capek atau hanya secara mental saja ingin istirahat. Di sini menurut saya salah satu perlunya memiliki alat ukur hearh beat rate yang bia memberikan ukuran saat itu juga untuk mengetahui lebih pasti kondisi diri kita. Tempat Wisata Pantai Suwuk Kebumen

Tempat Wisata Pantai Suwuk Kebumen

Pantai Suwuk, salah satu obyek pariwisata di Kabupaten Kebumen telah kami inja, dan kami beristirahat sejenak menikmati hidangan es kelapa muda di salah satu warung di depan pintu gerbang masuk obyek pariwisata tersebut. Dan ibu penjual es kelapa muda mengingatkan bahwa medan yang akan ditempuh menuju ke Pantai Ayah adalah medan yang sangat berat, dengan tanjakan-tanjakan panjang dan tajam. Nggih-nggih bu, matur nuwun, nanti kami tuntun kalau tidak kuat menanjak. Sate Ambal

Sate Ambal

Dan memang benar, jalur Pantai Suwuk-Karang Bolong-Pantai Ayah merupakan jalur yang sangat luar biasa menantang. Dalam kondisi yang sudah gowes lebih dari 100 km, kami dihadapkan pada tantangan tanjakan yang luar biasa. Tidak ayal lagi, beberapa kali kami memilih untuk menuntun sepeda kami, bukan hanya di tanjakan, bahkan di jalan yang menurun tajampun kadang kami memilih menuntun.

Pilihan terus di atas sadel sepeda atau menuntun saat turunan tajam adalah pilihan pribadi masing-masing, mengukur kemampuan dan nyali diri sendiri. Saya sendiri setiap melihat jalan yang menurun akan melihat jauh ke depan. Kalau kelihatan di depan jalan naik lagi, saya relatih lebih berani untuk terus naik di atas sadel dengan kecepatan yang relatif tinggi, karena yakin, di depan akan bisa otomatis mengerem sendiri saat jalan menanjak lagi. Namun jika saat jalan menurun di depan, dan saya tidak bisa melihat ujung dari turunan itu, baik karena turunan yang sangat panjang atau setelah itu ada tikungan yang tidak kelihatan, pilihan saya hanya dua. Turun dari sepeda kalau tanjakannya sangat tajam, atau terus naik di atas sadel, tapi dengan terus menerus mengerem sejak awal turunan, untuk memastikan saya berada di kecepatan yang masih bisa saya kendalikan, dalam arti bisa saya berhentikan sepedanya sewaktu-waktu. Dan tentunya tidak lupa, posisi pantak jauh ke belakang, agar beban badan lebih ke roda belakang. Itu yang saya lakukan, kalau ada yang keliru, atau ada teknik/cara yang lebih baik, sangat ingin saya belajar..jangan sungkan-sungkan share yaaaa..ditunggu. Pantai Ayah-Cilacap

Pantai Ayah-Cilacap

Dan ketika hampir sampai pantai Ayah, pemandangan sangat menawan. Dari atas bukit melihat pantai Ayah jauh di bawah, dan jalan terus menurun menuju ke arah pantai Ayah, sangat mulus, rindang dan nyaman untuk terus mengendarai sepeda. Jalan menurun terus, dan terus perlu waspada, dan kontrol kecepatan pada batas yang saya bisa sewaktu-waktu berhentikan dengan aman dan nyaman.

Tiba di pantai Ayah, beberapa teman yang di depan sudah istirahat santai di depan salah satu Masjid di pantai. Dan kami makan siang bersama di pantai Ayah, sebelum melanjutkan sisa perjalanan menuju Cilacap. Memasuki Kota Cilacap

Memasuki Kota Cilacap

 

Sisa perjalanan dari Pantai Ayah ke Adipala dan ke Cilacap kira-kira sepanjang 50 km berupa jalan aspal mulus, dengan kontur datar. Sangat nikmat untuk dilalui saat kondisi sudah setengah capek. Bersama-sama kami dalam satu rombongan menikmati rute terakhir ini dengan santai. Kadang ada juga yang ingin berjalan lebih cepat, namun ada juga yang ingin santai, termasuk saya, karena memang sudah terasa capek kalau mengayuh dengan kecepatan tinggi. Beruntung jalan sangat mulus dan datar.

Pengalaman yang sangat menyenangkan, bersepeda Yogya-Cilacap, sejauh hampir 180 km dari rumah sampai ke hotel di Cilacap. Berangkat dari rumah sebelum jam tiga pagi, sampai di Cilacap hampir jam lima sore..jossss...Sangat menyenangkan. Terutama beserta teman-teman yang sangat menyemangati, baik dalam awal mengajak bersepeda bersama, saat persiapan dengan memberikan informasi-informasi yang lengkap, maupun sepanjang perjalanan yang saling mendukung dan saling membantu untuk bisa bersama-sama melalui perjalanan ini dengan menyenangkan.

Terima kasih mas Joko Sumiyanto yang mengajak saya ikut serta. Terima kasih pak Mus dan dokter Hariyanto yang memimpin rombongan dengan sangat heroic. Terima kasih mas John, mas Hermawan, mas Indul, mas Yoyok, mas Wisnu yang terus menyemangati, Pak Setyoso yang jossss luar biasa dengan MTBnya dan mas Sarjianto yang selalu siap membantu. Dan tak lupa Mas Mitra dan ibu yang penuh perhatian pagi-pagi melepas rombongan di Paradise. Juga seluruh panitia Tour D' Nusakambangan yang telah memfasilitasi kegiatan ini dengan baik.

Terus semangat.

Video:  Lokasi:  Indonesia 7° 42' 8.226" S, 109° 1' 57.7524" E See map: Google Maps Javascript is required to view this map.

Categories: 

Kota: 

Jarak: 172.00kmSepeda: Road Bike
Categories: Partners

Hindari Mendadak Mengubah Setting Rem

Sepeda Sehat - Sat, 06/13/2015 - 13:04

Jika kita sudah terbiasa bersepeda, kita menyatu dengan sepeda yang dikendarai. Secara bawah sadar, tubuh kita tahu bagaimana merespon setiap ada tanjakan, tikungan, turunan, dan respon itu akan diikuti oleh sepeda kita. Kita juga terbiasa bagaimana sepeda merespon terhadap setiap aksi yang kita lakukan. Proses penyatuan ini membutuhkan waktu untuk membiasakan, sehingga diperlukan latihan-latihan, tidak dapat seketika.

Saya mengalami kecelakaan pada saat gowes di Nusakambangan (7 Juni 2015), sepeda gagal membelok, terjungkal saat keluar dari aspal. Ini disebabkan karena perubahan setting rem.

Gowes ini merupakan event 2 hari, diawali dengan gowes Jogja - Cilacap (160 km), kemudian menginap 1 malam di Cilacap dilanjutkan gowes di pulau Nusakambangan. Di hari pertama, dijumpai tanjakan dan turunan yang cukup curam, alhamdulilah dapat dilalui dengan baik. Ini menggunakan setting rem yang sama seperti saat gowes-gowes sebelumnya (Semarang, Magelang dsb). Saat tiba di Cilacap, saya berinisiatif mengubah setting rem menjadi sangat pakem, dengan harapan pengereman tidak terlalu berat (lengan pegal) jika menjumpai turunan curam berikutnya.

Setingan rem ini works just fine di jalanan datar, rem sangat pakem walaupun baru tuas rem baru ditarik sedikit saja. Tanjakan dan turunan di Nusakambangan ternyata tidak terlalu curam, namun perilaku rem ini menjadi tidak terduga. Saat ingin membelok, bawah sadar saya masih merespon tikungan dengan setingan rem lama. Belum terlalu dalam saya menarik tuas rem belakang, ternyata menjadikan roda belakang mengunci sehingga terjadilah selip/ngepot dan terjungkal. So singkat kisah, gabungan hal-hal ini menjadi penyebab njungkel: Kondisi turunan yang tidak terlalu curam, setingan rem yang terlalu pakem, ditambah "sensor" bawah sadar saya masih menggunakan setingan rem lama. Saya sudah merasa menekan tuas rem sedikit saja, tapi ternyata yang sedikit itu sudah menjadikan ban mengunci dan sepeda tidak dapat dikendalikan lagi.

Satu hal yang penting adalah helm. Bersyukur menggunakan helm, dan strap menjaga helm tetap di kepala. Pada saat kejadian, helm pecah seperti pada gambar diatas. Pecah hingga ke sisi bagian dalam, namun kepala terlindungi, tidak ada pingsan, pusing maupun mual. Walaupun helm nampak seperti gabus ringan saja, namun berperan penting dalam mengantisipasi hal-hal yang tidak terduga. Juga, hindari melakukan perubahan setingan rem pada saat event gowes, terutama jika melibatkan tanjakan/turunan curam. Sebaiknya kita memberikan tubuh kita cukup waktu latihan untuk beradaptasi dengan setingan rem baru, latihan di berbagai kondisi tanjakan dan turunan agar perilaku pengereman dapat terprediksi.

Semoga sharing ini bermanfaat.

Video: 

Categories: 

Categories: Partners

Jaga Jarak Aman Saat Tanjakan dan Turunan

Sepeda Sehat - Sat, 06/13/2015 - 12:40

Saya mengalami kecelakaan jatuh dari sepeda saat gowes di Nusakambangan (7 Juni 2015). Pengalaman saya yang berharga saat itu diantaranya:

  1. Jaga jarak aman dengan pesepeda di depannya dan di belakangnya terutama pas waktu jalan menurun dan jalan nanjak, sebagai antisipasi jika terjadi sesuatu terhadap kita baik menghindar dari lubang jalan atau menghindar dari teman yang terjatuh.
  2. Selalu gunakan alat pengaman/pelindung kepala, tangan dan kaki. Saya tidak ada luka di tangan dan kaki karena menggunakan kain pelindung.
  3. Selalu waspada dan jangan tergesa-gesa. Selalu utamakan keamanan, bukan kecepatan.
  4. Cepat ambil keputusan harus bagaimana utk hidup/selamat saat detik2 terjadinya kecelakaan (pengalamanku hanya karena dorongan untuk hidup jadi solusi terbaik yang kulakukan).

Pengalaman saya jatuh tsb menjadikan saya jadi memetik satu pengalaman lain yaitu jika kita akan memulai gowes harus ada breefing mengenai medan/track yg akan kita lalui sehingga titik2 rawan mana yang perlu diperhatikan untuk meminimalisir kecelakaan. Pengenalan medan hrs dipegang oleh semua penggowes shg penggowes dpt mengetahui tipe jalur dan titik rawannya menurut saya ini juga gak kalah pentingnya utk meminimalisir terjadinya kecelakaan. Jadi poinnya menurut saya: kenali medan, jangan memberanikan diri bila track belum dikenal. 

Mungkin ini sekelumit pengalamanku saat mengalami kecelakaan waktu gowes, kalo ada yg nambah pengalamannya monggo... biar lebih aman lagi dlm bergowes.

Categories: 

Categories: Partners

Jogja - Cilacap via Jalur Selatan [160 km]

Sepeda Sehat - Sat, 06/13/2015 - 11:22

Jogja - Cilacap melalui jalur selatan (tidak melalui jalur utama) merupakan rute yang lebih pendek, sepi dan segar, penuh pepohonan rindang. Jika melalui jalur utama lebih jauh dan ramai, berjarak 200 km. Sementara jalur selatan ini berjarak 160 km ditempuh selama 12 jam. Ini dengan menggunakan roadbike, sudah pelan-pelan di jalan rusak, dan sudah full menuntun di tanjakan sesudah Pantai Suwuk hehe.

Rute ini didominasi jalan aspal mulus, kenikmatan bagi roadbike. Sesudah jalan Daendels berakhir, harus bersabar pelan-pelan karena jalan lumayan rusak sampai Petanahan. Sesudah pantai Suwuk juga akan dijumpai tanjakan yang cukup berat, rerata elevasinya lumayan, mirip seperti tanjakan di Cinomati dan Selo, beruntung nanjaknya tidak terlalu panjang dan ada variasi turunan. Lebih kurang ada 4 tanjakan yang cukup berat, dan 2 tanjakan sisanya tidak terlalu panjang/berat tapi karena menggunakan sisa-sisa energi ya tetap menuntun juga. Paling cocok berangkat jam 3 pagi, menikmati jalan Daendels yang mulus nan-segar, dan tiba di Pantai Suwuk masih sekitar jam 10, belum terlalu panas untuk menanjak.

Gambaran kondisi tanjakan ada di infografis berikut.

Video: 

Categories: 

Jarak: 160.00kmSepeda: Road BikeElevasi Rerata: 9.40%Elevasi Maksimal: 20.00%Elevasi Jarak: 6.50km
Categories: Partners

Kesegaran Jelajah Kebon Agung - Nanggulan - Godean [46 km]

Sepeda Sehat - Mon, 05/18/2015 - 06:28

Artikel ini merupakan versi yang lebih pendek dari rute yang sejenis pada postingan sebelumnya. Selepas dari ringroad Jalan Magelang, langsung masuk ke Jalan Kebon Agung, langsung suasana jalan sepi, segar dan relatif datar. Sesampainya di Nanggulan, nantinya akan menghadapi tanjakan yang sama seperti pada postingan sebelumnya. So, rute ini cocok sebagai latihan gowes endurance sebelum menempuh jarak yang lebih jauh.

Foto dikontribusikan oleh GamaGo, Gadjah Mada Gowes.



Lokasi:  Indonesia 7° 36' 23.814" S, 110° 13' 43.644" E See map: Google Maps Javascript is required to view this map.

Categories: 

Kota: 

Jarak: 45.00kmSepeda: Road BikeElevasi Rerata: 2.30%Elevasi Maksimal: 6.30%Elevasi Jarak: 3.00km
Categories: Partners

Teknik Ganti Gir dan Perawatan RD

Sepeda Sehat - Mon, 05/18/2015 - 05:55

Untuk memainkan gir depan & belakang, harus dihindari settingan menyilang antara gir depan dan belakang. Contoh: gir depan paling besar dan gir belakang paling gede; atau gir depan paling kecil dan gir belakang paling kecil. Ini akan mnyebabkan posisi rantai menyilang dan mudah lepas.

Jadi memainkan gir depan - belakang harus dijaga agar rantai tidak menyilang. Idealnya, kalau gir depan paling gede, maka gir belakang bisa dimainkan dari gir tengah sampai paling kecil. Begitu juga sebaliknya.

Termasuk perawatan RD (rear derailleur)  Setelah kita bergowes, ketika sepeda akan disimpan lagi, usahakan posisi rantai di gir depan dan belakang ada di gir paling kecil (menyilang). Manfaatnya, RD tidak ketarik kedepan shg pegas di RD terjaga kelenturannya. Baru ketika sepeda mau digowes, posisi rantai menyilang sebaiknya dihindari.

Berikut ilustrasi yang lebih jelas, bersumber dari How to Use Gear Shifters Effectively.

Semoga tips ini bermanfaat.

Categories: 

Categories: Partners

Kesegaran Jelajah Borobudur - Nanggulan - Godean [75 km]

Sepeda Sehat - Sun, 05/17/2015 - 18:20

Rute ini termasuk salah satu favorit saya. Jarak rute ini lumayan, sekitar 75 km PP (start dari Tugu Yogyakarta), tapi penuh kesegaran di daerah Nanggulan, plus tanjakannya juga tidak terlalu berat. Rute ini berangkat melalui jalan utama (Jl. Magelang), tanjakannya landai saja hingga persimpangan ke Borobudur, sesudah itu rolling jalan menurun nikmat sekali sampai Godean. Total waktu tempuh rute ini sekitar 4 jam (dengan roadbike, tanpa memperhitungkan istirahat/berhenti).

Tentu rute ini bukan tanpa tanjakan. Di daerah Nanggulan nanti akan ada 2 tanjakan tapi tidak terlalu berat, rerata elevasinya 2% (max 6%). Kedua tanjakan ini panjangnya 2 km saja. Saya pernah mencoba rute ini dari arah sebaliknya, dan tanjakannya terasa lebih berat. Oleh karena itu lebih nyaman menjalani dari arah Borobudur ke Nanggulan. Oh ya, dalam foto berikut tertulis jaraknya 83 km, itu diabaikan saja karena titik startnya bukan dari Tugu Jogja ^_^

Sebaiknya menjalani rute ini pagi-pagi sekali, karena separuh perjalanan akan melalui jalan utama Jogja - Magelang, jika kesiangan akan ramai (dan polusi). Sesudah melewati tanjakan di Godean, rutenya relatif datar-datar saja, walaupun cukup banyak pepohonan tapi ketika menjelang masuk ke kota akan terasa cukup panas (plus mulai ramai dengan kendaraan).

Tribute foto oleh Nugroho Setio Wibowo.


Lokasi:  Indonesia 7° 36' 23.814" S, 110° 13' 43.644" E See map: Google Maps Javascript is required to view this map.

Categories: 

Kota: 

Jarak: 75.00kmSepeda: Road BikeElevasi Rerata: 2.30%Elevasi Maksimal: 6.30%Elevasi Jarak: 3.00km
Categories: Partners

Curug Pulosari

Sepeda Sehat - Thu, 05/14/2015 - 22:35

Curug Pulosari adalah wisata alam "air terjun mini" yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kota Jogja, hanya sekitar 18 km saja jika mengikuti panduan dari Google Maps. Curug ini berlokasi di Desa Wisata Krebet, Bantul. Sehingga Jalan menuju Desa Wisata sudah aspal mulus, jangan lewatkan untuk berfoto di patung Semar yang sangat terkenal itu. Memasuki kawasan curug sudah disambut jalan setapak semi offroad, dan tentu saja full offroad di lokasi curug, sebaiknya menggunakan sepeda MTB. Ada beberapa pilihan jalan masuk menuju curug, tapi saya pilihkan disini jalur yang paling enak, sudah ada jalan setapak yang bisa dilalui sepeda. Jika melalui jalur lain, kondisi jalan aslinya diperuntukkan jalan kaki, harus melalui tangga setapak (tanah) yang cukup curam dan licin. 

Lokasi ini bernama Jurang Pulosari di Google Maps, set directions akan langsung diberikan jalur yang paling enak. Untuk lebih jelasnya bisa klik pada peta berikut.

Kondisi tanjakan tidak terlalu mengkhawatirkan, hanya ada tanjakan menuju Desa Wisata Krebet, cukup bervariasi naik, mendatar dan turun, banyak kesempatan untuk mengambil napas. Menurut Google Earth, panjang tanjakan 2,2 km dengan rerata elevasi 4,4% (max 9,7%).

Sesampainya di kawasan Curug, sepeda boleh dibawa turun, namun tetap harus melalui bebatuan tangga yang curam licin karena bebatuan terkena lumpur. Sebaiknya pastikan menggunakan alas kaki yang tidak licin. Juga sebaiknya mengunjungi lokasi ini pada musim hujan, atau sesudah hujan, agar melimpah airnya. Jangan kuatir jika ingin main air dibawah air terjun, tersedia kamar ganti dengan biaya Rp. 2.000. Jika lapar, juga tersedia warung dengan harga yang wajar, sate ayam plus lontong Rp 10.000, aqua botol Rp 3.000.

 




Lokasi:  Indonesia 7° 51' 39.2832" S, 110° 17' 13.524" E See map: Google Maps Javascript is required to view this map.

Categories: 

Kota: 

Jarak: 18.00kmSepeda: MTBElevasi Rerata: 4.40%Elevasi Maksimal: 9.70%Elevasi Jarak: 2.20km
Categories: Partners

Manfaat Bersepeda bagi Penderita Jantung Koroner

Sepeda Sehat - Thu, 05/14/2015 - 21:39

Sebuah sharing pengalaman dari seorang penderita jantung koroner yang telah rutin bersepeda. Pada tahun 2005 telah dipasang 4 ring, dan sepuluh tahun sesudahnya dipasang lagi 2 ring. Walaupun demikian, keluhan nyeri data ternyata datang lagi, akhirnya melakukan olahraga bersepeda rutin. Semenjak sesudah bersepeda, keluhan nyeri data tidak ada lagi.

Sebagian transkrip video ini juga diulas di artikel Sepeda Itu Cukup Satu.

Video: 

Categories: 

Penyakit: 

Categories: Partners

Kenyamanan dalam Bersepeda Jarak Jauh (Endurance)

Sepeda Sehat - Thu, 05/14/2015 - 21:22

Faktor yang berpengaruh dalam kenyamanan dalam bersepeda terutama endurance (long distance) :

  1. Sedel, karena kita duduk disitu bisa berjam-berjam. Sadel RB meski tipis tetapi malah nyaman dan pas ketika diduduki. Apalagi yang terbuat dari Gel
  2. Handlebar, handlebar dengan permukaan lebar seperti di specialized aerofly sangat nyaman ketika kita dalam posisi relax. handlebar terasa nyaman untuk tumpuan tangan
  3. Celana padding, celana padding sebaiknya yang bagus. Beda sekali padding celana import dengan lokal
  4. Pedal cleat, untuk jarak jauh apalagi speed tinggi penggunaan cleat membuat nyaman kaki karena selalu pada posisi yang tepat
  5. Camilan diperjalanan. Saya biasanya bawa fitbar yg low calories. Sedangkan pak Eko Eshape suka membawa beng beng yg katanya coklat energinya lebih cepat diproses tubuh
  6. Teman diperjalanan, selain tidak membuat jenuh tapi juga bisa membantu kalau ada ban bocor.
  7. Setinggan sepeda khususnya (kaki) sedel dg pedal. Ukuran harus tepat jika terlalu pendek jg lbh capek. Ketika terlalu jauh bisa memgakibatkan kram karena otot kaki tertarik
  8. Mental, dalam gowes jauh butuh mental sabar dan percaya diri. Percaya diri utk bisa menyelesaikan dan sabar ndak usah grusa grusu mau sampai. Alon2 yg penting kelakon.

Categories: 

Categories: Partners

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.