Partners

Bersepeda Yogya-Cilacap

Sepeda Sehat - Tue, 06/16/2015 - 06:18

Telpon berdering, panggilan jam 01:30 dini hari…ups..dokter Hariyanta, membangunkan, memastikan saya sudah bangun dan bersiap-siap untuk rencana sepedaan hari ini Yogya-Cilacap. Sekitar jam 02:40 keluar dari rumah di kegelapan pagi dan bertemu dr. Hariyanto di perempatan Monjali, langsung berdua melaju ke tempat start di Paradise jalan Wates.

Gowes kali ini sudah direncanakan dengan sangat baik oleh panitia, sebagai salah satu group sebagai bagian dari keseluruhan kegiatan Tour bluxpit d’ Nusakambangan kerja sama antara GamaGo dan S3 Gama. Diskusi dan wara-wara sudah sangat detail disosialisasikan lewat group WA yang sangat efektif sebagai media komunikasi. Hal-hal yang sudah disiapkan dengan sangat baik antara lain:

  • Daftar peserta tiap group
  • Tempat kumpul
  • Apa saja yang perlu dilengkapi di sepedanya, dan apa yang perlu dibawa
  • Fasilitas pendukung, seperti teknisi yang mendampingi, pickup untuk loading, dan mobil ambulance lengkap dengan tenaga medisnya
  • Gambaran perjalanan, situasi dan kondisi jalan dan perkiraan waktu

Pak Mus yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, dengan sangat jelas memberikan gambaran situasi perjalanan dan perkiraan waktu. Meskipun kami yakin, bahwa tidak semuanya akurat 100%, namun gambaran itu sangat membantu untuk bisa membayangkan situasi yang akan ditempuh dan mempersiapkan tenaga dan pikiran untuk melalui tahapan demi tahapan. Menurut saya, informasi-informasi tersebut sangat perlu disampaikan sebelum memulai suatu perjalanan, karena sangat membantu. Terima kasih pak Mus dkk.

Cerita sepanjang perjalanan

Perjalanan sebelas orang pesepeda (termasuk satu orang teknisi yang ikut bersepeda juga), didampingi satu mobil pickup dan ambulans beserta dua orang tenaga dokter memulai perjalanan sekitar pukul 04:00, berangkat dari Paradise, menyusuri jalan Wates menuju ke Masjid Masyfa Simpang Lima Wates. Jam empat pagi, tentunya suasana masih gelap, dan sesuai arahan sebelumnya untuk memasang lampu sepeda di belakang dan di depan sangat membantu menyusuri jalanan di saat situasi masih gelap.

Kami beruntung, ada beberapa teman yang memasang lampu tambahan yang sangat terang, cukup untuk bisa melihat kondisi jalan di depan. Hal ini sangat membantu kami semua. Meskipun jalan raya Yogya-Wates relative mulus, namun melihat dengan pasti kondisi jalan di depan kita sangat penting, terutama untuk pengguna road bike yang sangat rentan terhadap kondisi jalan. Jembatan Congot

Jembatan Congot

Teman-teman menunaikan ibadah sholat subuh di Masjid Masyfa Simpang Lima Wates, dan beristirahat sejenak.

Perjalanan kami lanjutkan, kembali masih dalam suasana yang temaram, menuju perhentian berikutnya di Jembatan Pantai Congot. Jalan menuju pantai Congot juga sangat mulus, dan bisa kami lalui dengan nikmat. Nah, perjalanan dari Congot melewati jalan Dandles adalah perjalanan yang paling menyenangkan, dengan kondisi jalan yang sangat mulus dan lebar, serta sangat sepi lalu lintasnya. Kami berjalan dengan rata-rata kecepatan 27 km/jam Di jalan mulus tersebut.

Namun, kenikmatan tersebut tidak bisa terus berlanjut, karena ketika memasuki kabupaten Purworejo, kami mulai masuk ke jalan yang kurang bersahabat untuk Road Bike, namun masih nikmat untuk MTB yang dikendarai pak Setyoso, salah satu teman kami, yang mempergunakan MTB di perjalanan ini. Sarapan di Sate Bu Klendet putri H Kasman Ambal

Sarapan di Sate Bu Klendet putri H Kasman Ambal

Perjuangan di jalan yang "rusak" terus kami nikmati, meskipun ban belakang saya sempat mbledhos. Sangat beruntung ada mas Sarjianto yang siap membantu, langsung menaikkan sepeda saya ke mobil pickup untuk ditambal, dan gantian saya naik sepeda mas Sarjianto.

Dan perjuangan nikmat sepanjang jalan ini segera terobati setelah sampai di Ambal, sekitar pukul sembilan pagi untuk menikmati Sate Ayam Ambal yang sangat terkenal itu. Satu piring nasi dan satu porsi sate ayam segera kami libas.

Perjalanan kembali berlanjut menuju ke obyek pariwisata Pantai Suwuk, jalan yang rusak tadi, segera berganti dengan aspal mulus. Dan di sepanjang jalan ini, rasa-rasa pingin istirahat kadang menggoda, namun pimpinan rombongan kami, tahu apa yang seharusnya dilakukan, terus melaju, tanpa peduli ajakan foto-foto teman yang ingin istirahat...hehehehhehe..Memang tantangan yang paling menarik saat gowes jarak jauh adalah tantanngan pertempuran dalam diri sendiri antara terus mengayuh dan keinginan istirahat. Dan latihan yang bagus adalah terus mengayuh meski ada keinginan untuk istirahat. Kadang memang ada keraguan, rasa ingin istirahat ini benar-benar karena capek atau hanya secara mental saja ingin istirahat. Di sini menurut saya salah satu perlunya memiliki alat ukur hearh beat rate yang bia memberikan ukuran saat itu juga untuk mengetahui lebih pasti kondisi diri kita. Tempat Wisata Pantai Suwuk Kebumen

Tempat Wisata Pantai Suwuk Kebumen

Pantai Suwuk, salah satu obyek pariwisata di Kabupaten Kebumen telah kami inja, dan kami beristirahat sejenak menikmati hidangan es kelapa muda di salah satu warung di depan pintu gerbang masuk obyek pariwisata tersebut. Dan ibu penjual es kelapa muda mengingatkan bahwa medan yang akan ditempuh menuju ke Pantai Ayah adalah medan yang sangat berat, dengan tanjakan-tanjakan panjang dan tajam. Nggih-nggih bu, matur nuwun, nanti kami tuntun kalau tidak kuat menanjak. Sate Ambal

Sate Ambal

Dan memang benar, jalur Pantai Suwuk-Karang Bolong-Pantai Ayah merupakan jalur yang sangat luar biasa menantang. Dalam kondisi yang sudah gowes lebih dari 100 km, kami dihadapkan pada tantangan tanjakan yang luar biasa. Tidak ayal lagi, beberapa kali kami memilih untuk menuntun sepeda kami, bukan hanya di tanjakan, bahkan di jalan yang menurun tajampun kadang kami memilih menuntun.

Pilihan terus di atas sadel sepeda atau menuntun saat turunan tajam adalah pilihan pribadi masing-masing, mengukur kemampuan dan nyali diri sendiri. Saya sendiri setiap melihat jalan yang menurun akan melihat jauh ke depan. Kalau kelihatan di depan jalan naik lagi, saya relatih lebih berani untuk terus naik di atas sadel dengan kecepatan yang relatif tinggi, karena yakin, di depan akan bisa otomatis mengerem sendiri saat jalan menanjak lagi. Namun jika saat jalan menurun di depan, dan saya tidak bisa melihat ujung dari turunan itu, baik karena turunan yang sangat panjang atau setelah itu ada tikungan yang tidak kelihatan, pilihan saya hanya dua. Turun dari sepeda kalau tanjakannya sangat tajam, atau terus naik di atas sadel, tapi dengan terus menerus mengerem sejak awal turunan, untuk memastikan saya berada di kecepatan yang masih bisa saya kendalikan, dalam arti bisa saya berhentikan sepedanya sewaktu-waktu. Dan tentunya tidak lupa, posisi pantak jauh ke belakang, agar beban badan lebih ke roda belakang. Itu yang saya lakukan, kalau ada yang keliru, atau ada teknik/cara yang lebih baik, sangat ingin saya belajar..jangan sungkan-sungkan share yaaaa..ditunggu. Pantai Ayah-Cilacap

Pantai Ayah-Cilacap

Dan ketika hampir sampai pantai Ayah, pemandangan sangat menawan. Dari atas bukit melihat pantai Ayah jauh di bawah, dan jalan terus menurun menuju ke arah pantai Ayah, sangat mulus, rindang dan nyaman untuk terus mengendarai sepeda. Jalan menurun terus, dan terus perlu waspada, dan kontrol kecepatan pada batas yang saya bisa sewaktu-waktu berhentikan dengan aman dan nyaman.

Tiba di pantai Ayah, beberapa teman yang di depan sudah istirahat santai di depan salah satu Masjid di pantai. Dan kami makan siang bersama di pantai Ayah, sebelum melanjutkan sisa perjalanan menuju Cilacap. Memasuki Kota Cilacap

Memasuki Kota Cilacap

 

Sisa perjalanan dari Pantai Ayah ke Adipala dan ke Cilacap kira-kira sepanjang 50 km berupa jalan aspal mulus, dengan kontur datar. Sangat nikmat untuk dilalui saat kondisi sudah setengah capek. Bersama-sama kami dalam satu rombongan menikmati rute terakhir ini dengan santai. Kadang ada juga yang ingin berjalan lebih cepat, namun ada juga yang ingin santai, termasuk saya, karena memang sudah terasa capek kalau mengayuh dengan kecepatan tinggi. Beruntung jalan sangat mulus dan datar.

Pengalaman yang sangat menyenangkan, bersepeda Yogya-Cilacap, sejauh hampir 180 km dari rumah sampai ke hotel di Cilacap. Berangkat dari rumah sebelum jam tiga pagi, sampai di Cilacap hampir jam lima sore..jossss...Sangat menyenangkan. Terutama beserta teman-teman yang sangat menyemangati, baik dalam awal mengajak bersepeda bersama, saat persiapan dengan memberikan informasi-informasi yang lengkap, maupun sepanjang perjalanan yang saling mendukung dan saling membantu untuk bisa bersama-sama melalui perjalanan ini dengan menyenangkan.

Terima kasih mas Joko Sumiyanto yang mengajak saya ikut serta. Terima kasih pak Mus dan dokter Hariyanto yang memimpin rombongan dengan sangat heroic. Terima kasih mas John, mas Hermawan, mas Indul, mas Yoyok, mas Wisnu yang terus menyemangati, Pak Setyoso yang jossss luar biasa dengan MTBnya dan mas Sarjianto yang selalu siap membantu. Dan tak lupa Mas Mitra dan ibu yang penuh perhatian pagi-pagi melepas rombongan di Paradise. Juga seluruh panitia Tour D' Nusakambangan yang telah memfasilitasi kegiatan ini dengan baik.

Terus semangat.

Video:  Lokasi:  Indonesia 7° 42' 8.226" S, 109° 1' 57.7524" E See map: Google Maps Javascript is required to view this map.

Categories: 

Kota: 

Jarak: 172.00kmSepeda: Road Bike
Categories: Partners

Hindari Mendadak Mengubah Setting Rem

Sepeda Sehat - Sat, 06/13/2015 - 13:04

Jika kita sudah terbiasa bersepeda, kita menyatu dengan sepeda yang dikendarai. Secara bawah sadar, tubuh kita tahu bagaimana merespon setiap ada tanjakan, tikungan, turunan, dan respon itu akan diikuti oleh sepeda kita. Kita juga terbiasa bagaimana sepeda merespon terhadap setiap aksi yang kita lakukan. Proses penyatuan ini membutuhkan waktu untuk membiasakan, sehingga diperlukan latihan-latihan, tidak dapat seketika.

Saya mengalami kecelakaan pada saat gowes di Nusakambangan (7 Juni 2015), sepeda gagal membelok, terjungkal saat keluar dari aspal. Ini disebabkan karena perubahan setting rem.

Gowes ini merupakan event 2 hari, diawali dengan gowes Jogja - Cilacap (160 km), kemudian menginap 1 malam di Cilacap dilanjutkan gowes di pulau Nusakambangan. Di hari pertama, dijumpai tanjakan dan turunan yang cukup curam, alhamdulilah dapat dilalui dengan baik. Ini menggunakan setting rem yang sama seperti saat gowes-gowes sebelumnya (Semarang, Magelang dsb). Saat tiba di Cilacap, saya berinisiatif mengubah setting rem menjadi sangat pakem, dengan harapan pengereman tidak terlalu berat (lengan pegal) jika menjumpai turunan curam berikutnya.

Setingan rem ini works just fine di jalanan datar, rem sangat pakem walaupun baru tuas rem baru ditarik sedikit saja. Tanjakan dan turunan di Nusakambangan ternyata tidak terlalu curam, namun perilaku rem ini menjadi tidak terduga. Saat ingin membelok, bawah sadar saya masih merespon tikungan dengan setingan rem lama. Belum terlalu dalam saya menarik tuas rem belakang, ternyata menjadikan roda belakang mengunci sehingga terjadilah selip/ngepot dan terjungkal. So singkat kisah, gabungan hal-hal ini menjadi penyebab njungkel: Kondisi turunan yang tidak terlalu curam, setingan rem yang terlalu pakem, ditambah "sensor" bawah sadar saya masih menggunakan setingan rem lama. Saya sudah merasa menekan tuas rem sedikit saja, tapi ternyata yang sedikit itu sudah menjadikan ban mengunci dan sepeda tidak dapat dikendalikan lagi.

Satu hal yang penting adalah helm. Bersyukur menggunakan helm, dan strap menjaga helm tetap di kepala. Pada saat kejadian, helm pecah seperti pada gambar diatas. Pecah hingga ke sisi bagian dalam, namun kepala terlindungi, tidak ada pingsan, pusing maupun mual. Walaupun helm nampak seperti gabus ringan saja, namun berperan penting dalam mengantisipasi hal-hal yang tidak terduga. Juga, hindari melakukan perubahan setingan rem pada saat event gowes, terutama jika melibatkan tanjakan/turunan curam. Sebaiknya kita memberikan tubuh kita cukup waktu latihan untuk beradaptasi dengan setingan rem baru, latihan di berbagai kondisi tanjakan dan turunan agar perilaku pengereman dapat terprediksi.

Semoga sharing ini bermanfaat.

Video: 

Categories: 

Categories: Partners

Jaga Jarak Aman Saat Tanjakan dan Turunan

Sepeda Sehat - Sat, 06/13/2015 - 12:40

Saya mengalami kecelakaan jatuh dari sepeda saat gowes di Nusakambangan (7 Juni 2015). Pengalaman saya yang berharga saat itu diantaranya:

  1. Jaga jarak aman dengan pesepeda di depannya dan di belakangnya terutama pas waktu jalan menurun dan jalan nanjak, sebagai antisipasi jika terjadi sesuatu terhadap kita baik menghindar dari lubang jalan atau menghindar dari teman yang terjatuh.
  2. Selalu gunakan alat pengaman/pelindung kepala, tangan dan kaki. Saya tidak ada luka di tangan dan kaki karena menggunakan kain pelindung.
  3. Selalu waspada dan jangan tergesa-gesa. Selalu utamakan keamanan, bukan kecepatan.
  4. Cepat ambil keputusan harus bagaimana utk hidup/selamat saat detik2 terjadinya kecelakaan (pengalamanku hanya karena dorongan untuk hidup jadi solusi terbaik yang kulakukan).

Pengalaman saya jatuh tsb menjadikan saya jadi memetik satu pengalaman lain yaitu jika kita akan memulai gowes harus ada breefing mengenai medan/track yg akan kita lalui sehingga titik2 rawan mana yang perlu diperhatikan untuk meminimalisir kecelakaan. Pengenalan medan hrs dipegang oleh semua penggowes shg penggowes dpt mengetahui tipe jalur dan titik rawannya menurut saya ini juga gak kalah pentingnya utk meminimalisir terjadinya kecelakaan. Jadi poinnya menurut saya: kenali medan, jangan memberanikan diri bila track belum dikenal. 

Mungkin ini sekelumit pengalamanku saat mengalami kecelakaan waktu gowes, kalo ada yg nambah pengalamannya monggo... biar lebih aman lagi dlm bergowes.

Categories: 

Categories: Partners

Jogja - Cilacap via Jalur Selatan [160 km]

Sepeda Sehat - Sat, 06/13/2015 - 11:22

Jogja - Cilacap melalui jalur selatan (tidak melalui jalur utama) merupakan rute yang lebih pendek, sepi dan segar, penuh pepohonan rindang. Jika melalui jalur utama lebih jauh dan ramai, berjarak 200 km. Sementara jalur selatan ini berjarak 160 km ditempuh selama 12 jam. Ini dengan menggunakan roadbike, sudah pelan-pelan di jalan rusak, dan sudah full menuntun di tanjakan sesudah Pantai Suwuk hehe.

Rute ini didominasi jalan aspal mulus, kenikmatan bagi roadbike. Sesudah jalan Daendels berakhir, harus bersabar pelan-pelan karena jalan lumayan rusak sampai Petanahan. Sesudah pantai Suwuk juga akan dijumpai tanjakan yang cukup berat, rerata elevasinya lumayan, mirip seperti tanjakan di Cinomati dan Selo, beruntung nanjaknya tidak terlalu panjang dan ada variasi turunan. Lebih kurang ada 4 tanjakan yang cukup berat, dan 2 tanjakan sisanya tidak terlalu panjang/berat tapi karena menggunakan sisa-sisa energi ya tetap menuntun juga. Paling cocok berangkat jam 3 pagi, menikmati jalan Daendels yang mulus nan-segar, dan tiba di Pantai Suwuk masih sekitar jam 10, belum terlalu panas untuk menanjak.

Gambaran kondisi tanjakan ada di infografis berikut.

Video: 

Categories: 

Jarak: 160.00kmSepeda: Road BikeElevasi Rerata: 9.40%Elevasi Maksimal: 20.00%Elevasi Jarak: 6.50km
Categories: Partners

Kesegaran Jelajah Kebon Agung - Nanggulan - Godean [46 km]

Sepeda Sehat - Mon, 05/18/2015 - 06:28

Artikel ini merupakan versi yang lebih pendek dari rute yang sejenis pada postingan sebelumnya. Selepas dari ringroad Jalan Magelang, langsung masuk ke Jalan Kebon Agung, langsung suasana jalan sepi, segar dan relatif datar. Sesampainya di Nanggulan, nantinya akan menghadapi tanjakan yang sama seperti pada postingan sebelumnya. So, rute ini cocok sebagai latihan gowes endurance sebelum menempuh jarak yang lebih jauh.

Foto dikontribusikan oleh GamaGo, Gadjah Mada Gowes.



Lokasi:  Indonesia 7° 36' 23.814" S, 110° 13' 43.644" E See map: Google Maps Javascript is required to view this map.

Categories: 

Kota: 

Jarak: 45.00kmSepeda: Road BikeElevasi Rerata: 2.30%Elevasi Maksimal: 6.30%Elevasi Jarak: 3.00km
Categories: Partners

Teknik Ganti Gir dan Perawatan RD

Sepeda Sehat - Mon, 05/18/2015 - 05:55

Untuk memainkan gir depan & belakang, harus dihindari settingan menyilang antara gir depan dan belakang. Contoh: gir depan paling besar dan gir belakang paling gede; atau gir depan paling kecil dan gir belakang paling kecil. Ini akan mnyebabkan posisi rantai menyilang dan mudah lepas.

Jadi memainkan gir depan - belakang harus dijaga agar rantai tidak menyilang. Idealnya, kalau gir depan paling gede, maka gir belakang bisa dimainkan dari gir tengah sampai paling kecil. Begitu juga sebaliknya.

Termasuk perawatan RD (rear derailleur)  Setelah kita bergowes, ketika sepeda akan disimpan lagi, usahakan posisi rantai di gir depan dan belakang ada di gir paling kecil (menyilang). Manfaatnya, RD tidak ketarik kedepan shg pegas di RD terjaga kelenturannya. Baru ketika sepeda mau digowes, posisi rantai menyilang sebaiknya dihindari.

Berikut ilustrasi yang lebih jelas, bersumber dari How to Use Gear Shifters Effectively.

Semoga tips ini bermanfaat.

Categories: 

Categories: Partners

Kesegaran Jelajah Borobudur - Nanggulan - Godean [75 km]

Sepeda Sehat - Sun, 05/17/2015 - 18:20

Rute ini termasuk salah satu favorit saya. Jarak rute ini lumayan, sekitar 75 km PP (start dari Tugu Yogyakarta), tapi penuh kesegaran di daerah Nanggulan, plus tanjakannya juga tidak terlalu berat. Rute ini berangkat melalui jalan utama (Jl. Magelang), tanjakannya landai saja hingga persimpangan ke Borobudur, sesudah itu rolling jalan menurun nikmat sekali sampai Godean. Total waktu tempuh rute ini sekitar 4 jam (dengan roadbike, tanpa memperhitungkan istirahat/berhenti).

Tentu rute ini bukan tanpa tanjakan. Di daerah Nanggulan nanti akan ada 2 tanjakan tapi tidak terlalu berat, rerata elevasinya 2% (max 6%). Kedua tanjakan ini panjangnya 2 km saja. Saya pernah mencoba rute ini dari arah sebaliknya, dan tanjakannya terasa lebih berat. Oleh karena itu lebih nyaman menjalani dari arah Borobudur ke Nanggulan. Oh ya, dalam foto berikut tertulis jaraknya 83 km, itu diabaikan saja karena titik startnya bukan dari Tugu Jogja ^_^

Sebaiknya menjalani rute ini pagi-pagi sekali, karena separuh perjalanan akan melalui jalan utama Jogja - Magelang, jika kesiangan akan ramai (dan polusi). Sesudah melewati tanjakan di Godean, rutenya relatif datar-datar saja, walaupun cukup banyak pepohonan tapi ketika menjelang masuk ke kota akan terasa cukup panas (plus mulai ramai dengan kendaraan).

Tribute foto oleh Nugroho Setio Wibowo.


Lokasi:  Indonesia 7° 36' 23.814" S, 110° 13' 43.644" E See map: Google Maps Javascript is required to view this map.

Categories: 

Kota: 

Jarak: 75.00kmSepeda: Road BikeElevasi Rerata: 2.30%Elevasi Maksimal: 6.30%Elevasi Jarak: 3.00km
Categories: Partners

Curug Pulosari

Sepeda Sehat - Thu, 05/14/2015 - 22:35

Curug Pulosari adalah wisata alam "air terjun mini" yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kota Jogja, hanya sekitar 18 km saja jika mengikuti panduan dari Google Maps. Curug ini berlokasi di Desa Wisata Krebet, Bantul. Sehingga Jalan menuju Desa Wisata sudah aspal mulus, jangan lewatkan untuk berfoto di patung Semar yang sangat terkenal itu. Memasuki kawasan curug sudah disambut jalan setapak semi offroad, dan tentu saja full offroad di lokasi curug, sebaiknya menggunakan sepeda MTB. Ada beberapa pilihan jalan masuk menuju curug, tapi saya pilihkan disini jalur yang paling enak, sudah ada jalan setapak yang bisa dilalui sepeda. Jika melalui jalur lain, kondisi jalan aslinya diperuntukkan jalan kaki, harus melalui tangga setapak (tanah) yang cukup curam dan licin. 

Lokasi ini bernama Jurang Pulosari di Google Maps, set directions akan langsung diberikan jalur yang paling enak. Untuk lebih jelasnya bisa klik pada peta berikut.

Kondisi tanjakan tidak terlalu mengkhawatirkan, hanya ada tanjakan menuju Desa Wisata Krebet, cukup bervariasi naik, mendatar dan turun, banyak kesempatan untuk mengambil napas. Menurut Google Earth, panjang tanjakan 2,2 km dengan rerata elevasi 4,4% (max 9,7%).

Sesampainya di kawasan Curug, sepeda boleh dibawa turun, namun tetap harus melalui bebatuan tangga yang curam licin karena bebatuan terkena lumpur. Sebaiknya pastikan menggunakan alas kaki yang tidak licin. Juga sebaiknya mengunjungi lokasi ini pada musim hujan, atau sesudah hujan, agar melimpah airnya. Jangan kuatir jika ingin main air dibawah air terjun, tersedia kamar ganti dengan biaya Rp. 2.000. Jika lapar, juga tersedia warung dengan harga yang wajar, sate ayam plus lontong Rp 10.000, aqua botol Rp 3.000.

 




Lokasi:  Indonesia 7° 51' 39.2832" S, 110° 17' 13.524" E See map: Google Maps Javascript is required to view this map.

Categories: 

Kota: 

Jarak: 18.00kmSepeda: MTBElevasi Rerata: 4.40%Elevasi Maksimal: 9.70%Elevasi Jarak: 2.20km
Categories: Partners

Manfaat Bersepeda bagi Penderita Jantung Koroner

Sepeda Sehat - Thu, 05/14/2015 - 21:39

Sebuah sharing pengalaman dari seorang penderita jantung koroner yang telah rutin bersepeda. Pada tahun 2005 telah dipasang 4 ring, dan sepuluh tahun sesudahnya dipasang lagi 2 ring. Walaupun demikian, keluhan nyeri data ternyata datang lagi, akhirnya melakukan olahraga bersepeda rutin. Semenjak sesudah bersepeda, keluhan nyeri data tidak ada lagi.

Sebagian transkrip video ini juga diulas di artikel Sepeda Itu Cukup Satu.

Video: 

Categories: 

Penyakit: 

Categories: Partners

Kenyamanan dalam Bersepeda Jarak Jauh (Endurance)

Sepeda Sehat - Thu, 05/14/2015 - 21:22

Faktor yang berpengaruh dalam kenyamanan dalam bersepeda terutama endurance (long distance) :

  1. Sedel, karena kita duduk disitu bisa berjam-berjam. Sadel RB meski tipis tetapi malah nyaman dan pas ketika diduduki. Apalagi yang terbuat dari Gel
  2. Handlebar, handlebar dengan permukaan lebar seperti di specialized aerofly sangat nyaman ketika kita dalam posisi relax. handlebar terasa nyaman untuk tumpuan tangan
  3. Celana padding, celana padding sebaiknya yang bagus. Beda sekali padding celana import dengan lokal
  4. Pedal cleat, untuk jarak jauh apalagi speed tinggi penggunaan cleat membuat nyaman kaki karena selalu pada posisi yang tepat
  5. Camilan diperjalanan. Saya biasanya bawa fitbar yg low calories. Sedangkan pak Eko Eshape suka membawa beng beng yg katanya coklat energinya lebih cepat diproses tubuh
  6. Teman diperjalanan, selain tidak membuat jenuh tapi juga bisa membantu kalau ada ban bocor.
  7. Setinggan sepeda khususnya (kaki) sedel dg pedal. Ukuran harus tepat jika terlalu pendek jg lbh capek. Ketika terlalu jauh bisa memgakibatkan kram karena otot kaki tertarik
  8. Mental, dalam gowes jauh butuh mental sabar dan percaya diri. Percaya diri utk bisa menyelesaikan dan sabar ndak usah grusa grusu mau sampai. Alon2 yg penting kelakon.

Categories: 

Categories: Partners

Ancol Bligo, Awal Bermulanya Selokan Mataram

Sepeda Sehat - Sun, 04/19/2015 - 08:21

Ancol Bligo adalah sumber aliran air Selokan Mataram di Yogyakarta, di tempat ini air dari sungai Kulonprogo dialirkan ke Selokan Mataram. Tempat ini sangat bersejarah, alkisah dulu saat jaman penjajahan Jepang, Sultan Jogja pada saat itu mengerahkan warganya untuk membangun Selokan Mataram, agar terhindar dari romusha dikirim ke Jepang. 

Jarak menuju lokasi dari kota Yogyakarta sekitar 25 km. Kondisi jalan sangat mulus, juga tidak ada tanjakan berat, relatif rata datar, hanya saat di lokasi kondisinya agak off-road, namun masih memungkinkan menggunakan roadbike.





Lokasi:  Indonesia 7° 39' 51.8148" S, 110° 16' 4.188" E See map: Google Maps Javascript is required to view this map.

Categories: 

Kota: 

Jarak: 25.00kmSepeda: Road BikeElevasi Rerata: 1.30%Elevasi Maksimal: 3.00%
Categories: Partners

Indahnya Cultural Park Garuda Wisnu Kencana

Sepeda Sehat - Wed, 04/08/2015 - 10:02
Mood merupakan musuh utama menulis, niat saja ternyata tidak cukup, dan paksaan adalah cara paling efektif mengeluarkan mood. Peristiwa sepedaannya sudah terjadi 1 minggu yang lalu tepatnya kamis tanggal 2 April 2015. Saya berkesempatan melakukan kunjungan balasan, setelah akhir tahun kemarin sahabat saya bro Made dari Bali berkunjung ke Samarinda dan sempat gowes bareng, dan pada kesempatan lawatan balasan kali ini bro Made yang bertindak sebagai host. Sebenarnya saya sudah beberapa kali berkunjung ke-Bali, dan keinginan bersepeda di Bali sudah sejak dulu dan luarbiasa telah terealisasi minggu yang lalu. Petualangan dimulai dari Hotel Citadines Kuta. keluar hotel ambil jalur pantai kuta kemudian belok kejalan melasti-jl. Sriwijaya-Jl. majapahit-jl. blambangan-Jl. kendedes-masuk ke jl. By Pass Ngurah Rai-keluar by pass mulai menanjak melalui jl raya kampus unud. dari kuta sampai jalan masuk kampus unud ini sudah 12 km. dan perjuangan yang sebenarnya dimulai disini. dari jl raya kampus unud sampai pintu gerbang GWK menanjak sepanjang 5 km. tapi itu baru extra nya. puncaknya adalah ketika mencoba jalur mendaki melalui jalur aspal di belakang ruko2 di dalam kompleks GWK. di peta google jalur tersebut belum punya nama jalan, mungkin contributor/editor google map indonesia belum mengupdate, jalur memutar bukit sepanjang 5 km. Lokasi: 

Kota: 

Categories: Partners

Rasakan Efek Afterburn!

Sepeda Sehat - Sat, 04/04/2015 - 19:17

Pada saat awal mula saya mulai berolahraga, saya sangat terinspirasi dengan salah satu "keajaiban" pada tubuh manusia yang disebut dengan "afterburn", yaitu sebuah kondisi dimana tubuh terus membakar kalori hingga 38 jam sesudah berolahraga. Dalam literatur sports medicine, bahasa resmi "afterburn" adalah EPOC (Excess post-exercise oxygen consumption). Efek afterburn tergantung dari jenis, intensitas dan durasi olahraga Olahraga yang bersifat anaerobik memberikan efek afterburn yang lebih besar (membakar kalori lebih besar) daripada olahraga aerobik. Durasi olahraga yang lebih lama, apalagi yang termasuk dalam kategori high intensity training memberikan efek afterburn semakin besar. Kondisi aerobik dan anaerobik ditentukan dari zona denyut jantung saat kita berolahraga.

Manfaat afterburn ini sesungguhnya lebih dari sekedar bakar membakar kalori. Bagi kita yang ingin mengurangi berat badan, lebih banyak kalori yang dibakar tentunya lebih baik, bahkan lemak terus dibakar walaupun olahraga sudah selesai. Bagi yang belum merasakan penurunan berat badan, tidak perlu kuatir karena ternyata ada fakta riset ilmiah yang menarik, dimana dalam periode latihan 1 bulan terjadi peningkatan pembakaran lemak sebesar 44% walaupun tidak ada perubahan berat badan dan tidak ada perubahan lingkar pinggang. So keep it up!

Nah, bagi kaum penderita diabetes seperti saya, efek afterburn memberikan manfaat yang sangat nyata, berbagai literatur ilmiah mengkonfirmasikan pengalaman saya pribadi. Dalam referensi literatur terkini (Oktober 2014), efek afterburn (peningkatan konsumsi oksigen sesudah berolahraga) meningkatkan pembakaran lemak dalam kondisi istirahat, meningkatkan toleransi glukosa dan sensitivitas insulin, dan menurunkan kadar gula darah. Artinya, jika kita berolahraga dalam intensitas dan frekuensi yang cukup, maka kita tidak perlu kuatir jika sesekali makan normal "melanggar pantangan" :)

CARA MENDAPATKAN EFEK AFTERBURN

Bagaimana caranya untuk mendapatkan efek afterburn? Sederhana sekali, cukup mengkondisikan pada saat olahraga mencapai denyut jantung tertentu. Sederhana, namun untuk ini diperlukan perangkat sportwatch yang memiliki sensor denyut jantung, sehingga denyut jantung dapat selalu terpantau realtime saat berolahraga. Sportwatch ini penting, bukan untuk gaya-gayaan, karena efek afterburn dapat dicapai oleh siapapun dalam berbagai usia, tidak hanya untuk mereka yang masih muda.

Dari referensi literatur, efek afterburn maksimal dihasilkan dalam kondisi 70% VO2max (tidak diperlu dipusingkan istilah VO2max, nanti akan dikonversi ke satuan denyut jantung). Berikutnya kita akan lakukan sedikit hitungan matematis untuk mendapatkan berapa denyut jantung yang diperlukan untuk mencapai efek afterburn. Untuk memudahkan, gunakan kalkulator yang disediakan oleh website ini, merangkum semua formula yang bersumber dari literatur ilmiah.

1. Hitung denyut jantung maksimal (MHR - maximum heart rate)

Kita pakai saja hasil perhitungan dari riset paling baru, "USA Researcher (2007)".

2. Hitung denyut jantung untuk efek afterburn

Masukkan angka "70" dengan satuan "VO2 max" kemudian klik Calculate. Hasilnya, kondisi 70% VO2max setara dengan 82% MHR. Dalam contoh diatas, untuk mencapai efek afterburn untuk usia 37 tahun diperlukan denyut jantung minimal 149 per menit. Inilah zona afterburn. Lebih dari itu, makin besar efek afterburn, plus manfaat lainnya untuk kebugaran dan kesehatan. Tentu jangan sampai melebihi MHR ya :D

Semoga bermanfaat. Berdasarkan pengalaman pribadi, zona afterburn mudah sekali tercapai dengan bersepeda. Sementara sebaliknya, sangat sulit untuk mencapai zona afterburn dengan berenang. Silakan melakukan olahraga apa saja bebas, sejauh nyaman, tidak memberatkan, asal dapat masuk zona afterburn. Go Afterburn!

Lokasi: 

Categories: 

Penyakit: 

Categories: Partners

Menikmati Alam Boekit Hijau BNI Imogiri Bantul

Sepeda Sehat - Mon, 03/30/2015 - 10:08

Sabtu tanggal 28 Maret 2015 kemarin teman-teman Bejen Cross Country (BeXC) merencanakan gowes ke arah timur, maka dipilihlah Boekit Hijau BNI Imogiri Bantul sebagai destinasinya BeXC selanjutnya. Berangkat dari kampung Bejen sekitaran Bantul Kota pukul 06.30 dengan formasi 5 personil, langsung menyusuri jalanan Bantul ke arah timur. Kami sengaja tidak blusukan karena ada salah satu teman kami yang akan menyusul jadi mau tidak mau harus mencari jalan yang gampang menemukan kami. Perempatan Manding kami lewati teman kami juga belum terlihat tanda-tanda penampakannya. Ke timur lagi sampai ke Perempatan Jetis belum nongol juga, kita lanjut ke pertigaan Karangsemut ke selatan dan akhirnya teman kami bisa menyusul di sekitar Pasar Imogiri Baru. Akhirnya dengan formasi 6 personil kami berangkat menuju Boekit Hijau BNI yang terletak di Karangtengah Imogiri Bantul.

Dari Pasar Imogiri Baru langsung saja menuju arah makan raja-raja imogiri, setelah sampai Polsek Imogiri perhatikan penunjuk arah, silakan ambil ke arah Mangunan.

Dari sini sudah mulai sedikit nanjak, silakan mengikuti jalanan ini sampai ada pertigaan kalau ke kiri arah Mangunan nah kita ambil yang arah kanan, kalau digambar warna yang kuning itu jalan ke arah mangunan, nah tepat panah merah itu silakan ambil kanan. Jika anda menemukan tanda di bawah ini berati rute sudah benar, ikuti saja arahnya atau nanti bisa anda track melalui koordinat yang saya share dalam artikel ini.

 

Sebenarnya kalau kita akan ke Jembatan Gantung siluk bisa melewati jalan ini dan tanjakannya pun tidak kalah menarik bagi penyuka uphill, setelah menyusuri jalan tersebut akan ada tanda arah ke Boekit Hijau BNI lagi di sebuah pertigaan, nah kita ambil yang kiri. Dari situ jalan nanjak sudah terasa sekali berikut ini adalah gambaran elevasi tanjakanya. Rute tersebut terlihat pendek karena saya mulai dari pasar Imogiri sampai puncak pinggir jurang di Boekit Hijau BNI.

Setelah menyusuri tanjakan-tanjakan yang mengasikkan kita akan menemui Garuda Indonesia Forest dan Kawasan Penghijauan Tanaman Sutra Liar, kita akan sampai ke tujuan kita. Terusk saja sedikit nanti sampai ketemu tower dan ada jalan setapak ke selatan. Sampai dipuncak tersebut kita disambut oleh kabut yang lumayan tebal sehingga tidak terlihat jalan setapak yang keselatan tersebut, sempat kebablasan tapi ternyata malah menemukan view yang sangat bagus. Jarang sekali kami bersepeda menemui kabut yan sangat tebal seperti ini.

 

Oke kami akhirnya bertanya ke penduduk setempat sambil mengisi logistik, butuh banyak logistik untuk naik bukit ini. Ternyata jalan masuknya memang sedikit dibawah kami foto-foto di kabut tebal tersebut. Kondisi jalan awal masuk ada batu-batuan yang ditata dikombinasi juga tanah lepung, jadi sebaiknya kalau kesini memakai ban yang agak lebar atau sepeda MTB. Lihat saja kondisi ban saya di galeri saat melewati jalan tersebut. 

Di pinggir jurang tersebut kita akan menemukan gasebo yang sangat mengasikkan untuk menikmati pemandangan di pinggir jurang Boekit Hijau BNI ini. Untuk penampakan foto-foto pemandangan silakan lihat di galeri saja ya :D. Berikut ini saya sertakan rute tapi cuma dari Pasar Imogiri Baru. koordinat dan rute di maps.

Penyesalan saja saat tiba dipuncak itu ternyata sinyal data blank sehingga kami kehilangan track record di aplikasi Cyclers yaitu aplikasi semacam Endomondo tetapi ini adalah aplikasi pihak ketiga Strava tiba-tiba out of resource, aplikasi tiba-tiba close dan akhirnya hilang semua track record perjalanan tadi. Untungnya Heremaps bisa menyimpan koordinat ke favorite tanpa menggunakan sinyal data alias offline, sehingga saya bisa menulis artikel ini disertai koordinat yang tepat. 

Puas menikmati dan mengabadikan pemandangan alias foto-foto narsis di atas Boekit Hijau BNI dan sebenarnya kami juga mencari tulisan besar "Boekit Hijau BNI"  ternyata tidak ada di sekitar jurang tersebut, akhirnya kami memutuskan untuk turun. Saat melewati jalan setapak tersebut ternyata salah satu anggota team melihat tulisan "Boekit Hijau BNI" ada di atas kami, tepatnya di kanan jalan dan untuk menuju kesana harus naik beberapa anak tangga, sepeda harus ditinggal dibawah. Memang tidak terlihat karena memang tidak terawat dan disekitarnya banyak tumbuh pohon-pohon yang menutupi tulisan tersebut.

Lanjut turun dengan rute yang sama dengan naik tadi, saat turun ternyata jaraknya terasa lebih pendek dan cepat tidak seperti naiknya tadi yang terasa jauh dan lama (efek ngos2an saat nanjak kali ya?) Akhirnya teman-teman Beksi memutuskan "nyiruk" (istilah yang kami pakai saat ngisi logistik) atau wisata kuliner di sekitaran Imogiri, yaitu Warung Sederhana. Warung ini cukup legendaris dan cukup familiar untuk kalangan goweser yang menuju ke Imogiri. Gimana tidak legendaris berdirinya saja sejak tahun 1958, kalau orang mungkin sudah capek ya berdiri sejak tahun tersebut, hehe.

Dengan berakhirnya "nyiruk" tersebut maka berakhir pula artikel untuk judul ini. nantikan petualangan BeXC selanjutnya.

Jangan Lupa Bahagia

 

Credit photo team BeXC (Bejen Cross Country)











Lokasi: 

Categories: 

Kota: 

Sepeda: MTBElevasi Rerata: 6.40%Elevasi Maksimal: 25.00%Elevasi Jarak: 2.00km
Categories: Partners

Gowes Grojogan Tuwondo dan Puncak Bucu Bantul Yogyakarta

Sepeda Sehat - Wed, 03/18/2015 - 05:06

Kereta api Bima hari itu, Jum'at 13 Maret 2015,  tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta tepat waktu. Sampai di Yogya masih hari Jum'at, jam 23:50 :). Asyik, artinya bisa istirahat tidur lebih lama sebelum gowes di Sabtu pagi. Ya, sudah janjian Sabtu pagi jam 05:30 kumpul di KM 0 untuk gowes ke Grojogan Tuwondo, Bantul. Komitmen menggembirakan untuk bisa rutin berolah raga.

Grojogan Tuwondo

Setelah tidur dengan nyenyak di rumah, jam 04:30 pagi bangun, siap-siap dan segera meluncur menyusur jalan Monjali, menuju Tugu, melintas Malioboro mengarah ke KM 0 titik temu pagi itu. Hari masih gelap, dan sedikit percik-percik air gerimis mulai menemani di daerah Malioboro. Di KM 0, di dekat patung-patung gajah yang sudah mulai menjadi korban keisengan, dicoret-coret, sudah hadir menunggu, mas Yuda dan Prof. Nizam. Pas, baru kumpul bertiga, hujan lebat mengguyur, dan kami berteduh di "lobby luar" bank BNI di sisi Selatan Barat perempatan KM 0.

Segera setelah kami duduk, datang penjual kopi, dan mas Yuda dan Prof Nizam tidak melepaskan kesempatan ini untuk ngopi, menghangatkan tubuh di tengah curah lebatnya hujan pagi itu.

Tidak begitu lama hujan lebat ini reda, dan kami bertiga segera meluncur meninggalkan KM 0, mengarah ke alun-alun Kidul, terus melaju menuju Terminal bus Giwangan di tepi ring road Selatan. Dari perempatan terminal Giwangan, gowes terus berlanjut ke arah Selatan di jalan Imogiri Timur Tidak begitu jauh, kami berbelok ke kiri, atau ke arah Timur menuju jalan Pleret. Kemudian terus mengarah ke Timur, menuju ke Grojogan Tuwondo yang terletak di kampung Lemah Abang,  Banyakan 3 , Sitimulyo, Piyungan, Bantul.

Berteduh di Lobby Bank BNI KM 0

Lokasi grojogan ini tidak terlalu jauh dari kota Yogya, hanya sekitar 15 km dari KM 0 Yogyakarta.

Pemandangan di perjalanan menuju lokasi tersebut, sangat indah, perpaduan antara perkampungan penduduk, persawahan dan bukit yang hijau di musim penghujan ini. Kira-kira 1 km sebelum lokasi grojogan, perjalanan berlanjut melalui jalan semen hasil swadaya penduduk, dan sekitar 300 meter terakhir melalui jalan Tanah liat yang agak licin di saat geremis seperti saat kami tiba di lokasi grojogan ini.

Pemandangan Indah menuju Lokasi Grojogan Tuwondo

Konon nama  Gerojogan Tuwondo yang berketinggian sekitar 25 meter ini,  dipilih karena bentuk batu-batuan tempat air terjun yang bertingkat-tingkat seperti anak tangga , Batu-batuan atau dalam bahasa Jawa watu bentuk ondo. Jadi perbaduan antara watu/batu dan ondo (tangga). Watu berbentuk ondo (Batu-batuan berbentuk tangga), dan seperti kebiasaan orang Jawa yang senang dengan bunyi yang enak di telinga dan menyingkat, watu ondo menjadi Tuwondo.

Bentuk bertingkat-tingkat ini menambah keindahan panorama, dan suara gemercik air menambah lengkap keindahan empat dimensi grojogan ini. Sangat menyenangkan, menatap air yang turun dari atas bertingkat-tingkat, dan mendengarkan suara gemericik air.....sungguh indah.

Rencana semula kami akan langsung balik ke Yogya untuk mampir di Sate Klatak pak Pong, namun ketika keluar dari jalan semen, kami melihat petunjuk jalan menuju Puncak Bucu....dan kami memilih untuk mengarah ke jalan mendaki ke Puncak Bucu. Dan memang luar biasa. Jarak tempuh tidak lebih dari 3 KM, namun menanjaknya lumayan berat. Perbedaan elevasi di jalan masuk sampai ke puncak sekitar 200 meter. Dan beberapa kali kami memilih menuntuk sepeda, karena memang sudah tidak kuat lagi untuk mengayuh.

Dan praktek menuntun sepeda masih kami lakukan juga saat turun, karena ketajaman jalan yang menurun dan licin karena masih sedikit geremis. Setelah sejenak menikmati pemandangan di puncak Busu (meski kami belum yakin juga, mana yang disebut Pucak Busu, karena tidak ada petunjuk yang jelas), kami segera berbalik menuju Sate Klatak pak Pong...uenak satenya, meski hanya 2 tusuk untuk satu porsinya.

Analisa Elevasi rute ini:



Video:  Lokasi: 

Categories: 

Kota: 

Jarak: 53.00kmSepeda: MTBElevasi Rerata: 10.00%Elevasi Maksimal: 28.00%Elevasi Jarak: 1.60km
Categories: Partners

Fasilitas Private Nameserver

RHI Updates - Sat, 05/26/2012 - 16:17

Sebagai respon atas permintaan pelanggan, RHI kini memberikan fasilitas Private Nameserver (NS) secara gratis untuk pelanggan paket Personal keatas. Dengan fasilitas ini, pelanggan akan seolah-olah memiliki nameserver sendiri, misal: ns1.bisnisanda.com dan ns2.bisnisanda.com. Setiap domain yang dimiliki pelanggan kemudian dapat diarahkan ke NS baru ini, tidak perlu lagi diarahkan ke ns.idresellerhosting.com.

Bagi pelanggan yang berlangganan domain dan hosting sekaligus, RHI akan membantu setup fasilitas Private Nameserver. Jika pelanggan menggunakan registrar domain selain RHI, kami akan memberikan panduan lebih lanjut.

Fasilitas Private Name Server gratis, hanya di RHI.

Categories: Partners

Konfigurasi Mail Client Thunderbird

RHI Updates - Mon, 04/09/2012 - 14:50

Beberapa waktu ini sebagian dari pelanggan RHI mengalami kendala tidak dapat melakukan Send/Receive email dari mail client yang biasa digunakan (mis: Microsoft Outlook, Mozilla Thunderbird). Kendala ini disebabkan oleh konfigurasi mail client yang belum sesuai dengan konfigurasi mail pada cPanel. Pada umumnya, hal ini disebabkan karena username yang dimasukkan menggunakan "@", sementara cPanel mengharuskan tanda "@" diganti menjadi "+". Untuk lebih jelasnya, berikut ini kami sertakan panduan 2 langkah sederhana untuk mengkonfigurasi mail client Thunderbird. Bagi pengguna mail client Outlook dapat menyesuaikan.

Categories: Partners

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.